Oleh: Dwi Rahayuningsih

Mediaoposisi.com-  Banyak pihak yang mempertanyakan babak akhir dari nasib HTI pasca diputuskan pada sidang akhir di PTUN Jakarta, Senin 7 Mei 2018. Apakah benar-benar sudah bubar? Lalu bagaimana dengan massa HTI yang jumlahnya luar biasa banyak? 

Hasil polling yang diadakan oleh Lutfi Assayaukani Pengajar di Universitas Paramadina melalui akun Twitternya @idetopia yang mendukung HTI sangat banyak. Dalam jajak pendapat terkait HTI yang dibuatnya menunjukkan hasil sebagai baerikut:

-Sebaiknya HTI dibiarkan bebas atau dilarang? Dari 9.300 partisipan, 91% memilih bebas dan 9% memilih larang.
-Kata seorang tokoh NU, HTI sengaja dipelihara oleh kekuatan asing untuk memporakporandakan Indonesia,karena mereka tak senang jika Indonesia maju. Dari 7.184 partisipan, 8% memilih setuju dan 92% memilih tak setuju.
-HTI, FPI, PKS, membuat wajah Islam tampak buruk. Dari 6.409 partisipan, 8% memilih setuju dan 92% memilih tak setuju.

Jika dihadapkan pada dua pilihan ini, kamu pilih yang mana? Dari 14.274 partisipan, 21 % memilih Demokrasi dan 79% memilih Khilafah. (wartapilihan.com)

Polling di atas sangat menarik. Mengingat bahwa polling dibuat oleh orang yang berseberangan pemahaman dengan HTI. Namun hasil polling cukup mengejutkan. HTI tetap berada pada prosentase tertinggi. Meski demikian, orang-orang yang membenci HTI masih saja berusaha dengan berbagai macam cara untuk menjegal dan menghalangi dakwah HTI.

Para pendukung rezim dan antek penjajah telah nyata menampakkan kebencian mereka dengan berbagai argument busuknya. Berbagai tipu daya mereka buat untuk membuat frame negative terhadak aktivis dan ide-ide yang diusung oleh HTI. Penggiringan opini dilakukan secara massif untuk memalingkan ummat dari dakwah HTI.

Ditanamkan provokasi dan kebencian di hati ummat terhadap pejuang Islam yang mukhlis dengan memberi label teroris dan radikal. Anti NKRI serta bertentangan dengan Pancasila. Pertanyaanya Sila keberapa yang tidak sesuai dengan paham HTI? 

Hal ini yang tidak bisa dibuktikan oleh pengadilan hingga kini. Mereka hanya memberikan statmen sepihak yang bersifat subjektif. Tidak sesuai dengan fakta. Dan melenceng dari tuntutan awal, yang semula menyerang aktivitasnya hingga melebar pada idenya. Meski demikian tidak satupun tuduhan mereka yang terbukti. Dan anehnya pengadilan tetap memenangkan penguasa.

Justru ummat semakin cerdas dalam melihat drama yang dimainkan oleh penguasa dan kaki tangannya. Semakin HTI dibully semakin dicintai. Semakin ditekan dan dipojokkan, HTI semakin dicari dan didukung banyak Ulama. 

Dakwah Tak Akan Mati

Ada atau tidaknya BHP HTI, dakwah Islam tetap berjalan. Karena secara konstitusional, HTI berhak ntuk menjalankan aktivitasnya sebagimana perkumpulan yang lain yang juga tidak memiliki BHP. Dakwah adalah perintah Allah SWT yang ditujukan kepada setiap muslim. 
Barangkali banyak pihak yang bertanya-tanya. Terutama dari para penguasa dan pendukungnya. Mengapa HTI susah sekali diberangus dari negeri ini? Apa sebenarnya yang menguatkan ikatan mereka hingga sulit untuk dipatahkan. 
Berbagai macam cara sudah dilakukan untuk membuat HTI bubar. Isu teroris, radikal, ekstrimis, dan frame negative lainnya. Bahkan adu domba dan persekusi juga dilakukan untuk menghentikan laju dakwahnya. Namun, bukannya takut dan bubar. Justru makin hari pendukung HTI makin banyak. Layaknya amoeba, HTI membelah diri dan berkembang secara cepat.
Kekuatan aqidah yang mengikat mereka sehingga tidak gentar dengan cobaan. Tempaan iman dan pemikiran Islam yang telah mengkristal dalam benak pengemban dakwah HTI, menjadi pondasi dalam dakwahnya. Sehingga tidak mudah goyah dengan terpaan badai yang menghadang.
Dakwah mereka tulus. Tidak mengharapkan materi ataupun sanjungan. Mereka yang tergabung adalah orang-orang yang siap menyerahkan jiwa, harta dan segala yang dimilikinya untuk dakwah. Karena dakwah adalah poros hidupnya. Dakwah adalah nafas hidupnya. Dakwah adalah jalan hidupnya. 
Rasulullah SAW sebagai manusia terbaik manjadi tauladan baginya. Janji-Nya adalah kekuatan dalam aktivitasnya. Karena keyakinan akan janji itulah, mereka tetap berjuang. Hingga titik darah penghabisan.
“Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian Allah akan menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa kekhilafahan ‘ala Minhaaj al-nubuwwah; dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu Allah menghapusnya jika ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang kepada kalian masa raja yang menggigit (raja yang dzalim), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu akan dating masa raja yang dictator (pemaksa); dan atas kehendak Allah masa itu akan dating, lalu Allah akan menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Kemudian akan datang masa Khilafahan ‘ala Manhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas manhaj kenabian), setelah itu, Beliau diam. ” (HR. Imam Ahmad)  
Atas janji itulah, dakwah HTI tatap berjalan. Tak pernah berhenti meski dimaki. Tak pernah padam meski dikecam. Tak pernah pupus meski dihapus. Dan tak pernah Lelah meski banyak amanah. Dakwah terus bergulir bak bola salju, yang semakin lama semakin besar. Memporakporandakan segala bentuk kemaksiatan dan kedzaliman yang menghadang. Wallahu a’lam bish-shawab.



Posting Komentar