Oleh: Heni Yuliana S.Pd

Mediaoposisi.com- “Selama ini, Kementerian Agama sering dimintai rekomendasi muballigh oleh masyarakat. Belakangan,  permintaan itu semakin meningkat, sehingga kami merasa perlu untuk merilis daftar nama muballigh,” terang Menag di Jakarta, Jumat (18/05).

Menurut Menag, pada tahap awal, Kementerian Agama merilis 200 daftar nama muballigh. Tidak sembarang muballigh, tapi hanya yang memenuhi tiga kriteria,  yaitu: mempunyai kompetensi keilmuan agama yang mumpuni, reputasi yang baik, dan berkomitmen kebangsaan yang tinggi.(kemenag.go.id)

Itulah pernyataan yang dilontarkan oleh Menteri Agama Republik Indonesia. Ketika merilis nama 200 ulama yang direkomendasikan oleh Kemenag. Ulama seperti Ustaz Abdul Somad dan Habib Riziq Shihab tak termasuk ke dalam daftar tersebut. Dari kriteria yang diajukan Kemenag, mereka tentu termasuk di dalamnya.

Ini tentu akan membingungkan masyarakat awam. Seperti yang kita ketahui setelah aksi 212 suara umat termasuk ulama terpecah menjadi 2 kubu. Kubu pro dan kontra Penista Agama. Sehingga daftar ulama ini akan memperuncing perpecahan di tengah-tengah umat. Ini sangat berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Umat akan semakin gampang dikoyak.

Agenda Deradikalisasi Tercium pekat

Demokrasi kapitalis melakukan segala cara untuk mempertahankan eksistensinya di negeri ini. Salah satu caranya ialah dengan memecah-belah persatuan umat. Sebagian ulama yang dilabeli radiakal dan sebagian lagi dilabeli moderat. Seolah gayung bersambut dengan pertemuan sejumlah ulama dunia di Bogor 3-5 Mei yang lalu yang telah melahirkan Bogor Message.

Islam moderat disini sejalan dengan pemikiran barat dan tidak mengancam kepentingan mereka. Islam yang menghormati kebebasan secara kebablasan. Paham-paham asing dilindungi. Kita bisa lihat sendiri bagaimana umat penereus kaum sodom dilindungi, paham liberal makin berkembang biak. Masuk ke sendi-sendi kehidupan tanpa terkecuali. Pergaulan bebas terkendali, pendidikan makin tak jelas arah.

Tapi ketika kita bicara syariat Islam dalam sistem pemerintahan semisal Khilafah maka tuduhan radikal langsung dilayangkan. Karena ini akan mengancam hegemoni asing di negeri ini. Mereka tak bisa lagi mengeruk kekayaan alam atas nama investasi. Sehingga Menjadi penting bagi mereka untuk memilah-milah ulama sesuai kepentingan mereka. Maka tak heran kriminalisasi terjadi pada ulama yang menyerukan khilafah yang merupakan bagian ajaran Islam.

Islam Rahmatan Lil'alamin

Rasulullah diutus untuk umat seluruh alam. Sebagaimana termaktub dalam Alquran surat Al a'araf ayat 158.

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk".

Seruan yang dibawapun ialah seruan Islam. Tak ada perbedaan. Ajarannya dimulai dari aqidah, syariah hingga muamalah yang di dalamnya terdapat Khilafah yang telah dipraktekan oleh para khulafar Rasyidin hingga khilafah-khilafah seterusnya hingga tahun 1924.

Untuk menerapkan Islam secara Kaffah. Jadi tak ada pembeda ulama yang satu dengan yang lainnya. Mereka ada untuk melanjutkan apa yang telah diemban oleh para nabi. Menyampaikan Risalah Islam hingga penjuru dunia.[MO/sr]

Posting Komentar