Oleh : Winda Sari 
(Mahasiswi Universitas Jember)

Mediaoposisi.com-  Sosok Sumayyah telah dikenal oleh umat muslim. Beliau adalah sosok muslimah yang tergolong kuat imannya. Sumayyah adalah wanita pertama yang syahid, dibunuh dengan tombak yang tajam oleh Abu Jahal. Jasadnya memang akan hilang di dunia, tetapi keharuman iman akan abadi di surga.

Muslimah tangguh yang sama sekali tidak goyah imannya walaupun siksaan dari Abu Jahal kian meradang. Justru siksaan itulah yang mengokohkan iman dan islamnya karena yakin bahwa janji Allah akan surga pasti ia dapatkan daridapa memilih kufur.

Sumayyah, wanita mulia yang patut dijadikan teladan bagi muslimah-muslimah seluruh dunia. Sosoknya yang memiliki semangat dalam membela Islam. Hal seperti inilah yang harusnya dicontoh oleh para muslimah saat ini.

Sosoknya yang selalu taat dan patuh akan perintah Allah dan Rasul Nya bahkan ketika siksaan menghampiri, iman sama sekali tidak berkurang sedikitpun. Sekiranya muslimah sekarang seperti sosok Sumayyah dengan mencontoh sikapnya maka tidak ada muslimah yang terjerumus dalam liberalnya kehidupan.

Ditambah dengan kondisi dan situasi di bawah naungan rezim otoriter dan islamophobia serta sistem yang sekular, maka tidak mungkin bagi para muslimah untuk mengikuti jejak shahibiyah yang satu ini. Hanya sedikit dari kalangan muslimah yang seperti sosok Sumayyah ini. Sistem yang sekular telah berhasil membuat para muslimah keluar dari fitrahnya sebagai wanita.

Sistem sekular yang melahirkan peraturan-peraturan liberalnya sehingga membuat para wanita saat ini, khusunya wanita muslim semakin tak terarah.

Kondisi sistem yang semakin sekular membuat, muslimah saat ini juga semakin sekular. Tak pakai hijab, tabarruj, pergaulan yang tidak dijaga, bahkan lebih mengutamakan menjadi wanita karir daripada menjadi ummu warabatul bait. Menganggap bahwa hidup ini jangan yang ekstrem-ekstrem, tak usahlah pakai pakaian yang aneh-aneh, pakai yang biasa saja.

Yang pakaiannya tertutup juga belum tentu masuk surga. Mungkin pernyataan-pernyataan seperti itu sering dilontarkan oleh para muslimah saat ini yang sudah termakan oleh sistem yang sekular.

Menjadi wanita muslim itu bukan pilihan, karena identitas muslim ada sejak kita lahir. Setiap bayi yang lahir di dunia ini dalam keadaan muslim, keluarganyalah yang menjadikan dia tetap muslim atau yang lainnya. Dan yang harus ditegaskan kembali bahwa identitas muslim itu bukan keturunan atau warinan nenek moyang.

Menjadi wanita muslim itu seharusnya patuh dan taat akan perintah Allah dan Rasul Nya, bukan hanya ketika ibadah seperti shalat, puasa, zakat, dan haji saja tetapi dalam semua aktivitas. Jadi harus kaffah, harus menjadi muslimah yang kaffah.

Seperti menutup aurat, menutup aurat itu wajib. Pemikiran sekular sekarang telah meracuni mereka, sehingga banyak dari kalangan wanita muslim yang menganggap bahwa walaupun tidak menutup aurat asal ibadah jalan itu sudah cukup. Naudzubullah !

Tantangan terbesar bagi wanita muslim saat ini adalah sistem yang sekular, ide sekuar yang menjadi dasar kapitalisme telah berhasil mengeluarkan identitas mereka sebagai wanita muslim. Jadi tidak salah ketika saat ini banyak wanita muslim yang lebih memilih mengejar karir dunia dibanding dengan mengejar karir di surga.

Dengan adanya tantangan yang semakin hari semakin menjadi-jadi, muslimah yang teguh imannya akan mampu menangkal tantangan itu. Tidak peduli bahaya yang akan dihadapinya, layaknya Sumayyah. Iman tak goyah sedikitpun walau siksaan menerjang, bahkan apa yang dialami Sumayyah jauh lebih berat daripada tantangan wanita muslim saat ini.

Jika Sumayyah mendapat siksaan fisik, yang berarti itu langsung ia dapatkan dan ia rasakan sakitnya hingga syahid, berbeda dengan tantangan muslimah saat ini yang lebih menggunakan pemikiran. Tantangan ini jauh lebih parah efeknya karena akan menghambat kebangkitan Islam.

Wanita yang melahirkan generasi penerus peradaban, sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya, apabila kondisi wanita muslim terpuruk akibat sistem sekular seperti saat ini maka generasi yang dididik pun akan menjai sekular. Oleh karena itu, agar wanita muslim yang ada di belahan dunia ini mampu atau bisa menjadi seperti sosok Sumayyah yang iman dan islamnya tidak diragukan lagi, maka jalan satu-satunya adalah dengan mengembalikan perisai Islam di tengah-tengah peradaban.

Dengan Islam, wanita muslim akan kembali pada fitrahnya. Dengan Islam, banyak para ulama-ulama yang hebat karena didikan perempuan sholihah. Imam Syafi’i, menjadi ulama hebat, hafal Al Quran dan Hadits, karena didikan ibunya. Muhammad Al Fatih, bisa menaklukan kontantinopel dan menjadi seorang Sultan dalam usia yang masih muda karena didikan ibunya.

Di balik layar mereka ada seorang wanita. Wanita yang selalu mengajarkan untuk patuh pada Allah dan Rasul Nya serta mengajarkan kepada mereka untuk menjalankan kehidupan Islam secara kaffah.[MO/sr]

Posting Komentar