Revolusi| Mediaoposisi.com- Dalam rezim ini, istilah Islam radikal semakin masif digemakan. Tidak hanya masyarakat, pejabat negara bahkan presiden pun bisa dengan mudahnya melabeli suatu tindakan sebagai implementasi ke-radikal-an suatu keyakinan.

Seperti Januari 2017 lalu, Presiden Joko Widodo mengundang Ketum PBNU untuk meminta solusi menguatnya fenomena Islam radikal (Kompas 11/1/17). Lalu acara serupa juga digelar saat Halaqah Nasional Alim Ulama se Indonesia di Hotel Borobudur Jakarta sebagai respon atas munculnya gerakan Islam radikal yang saat itu mengkhawatirkan (Republika 13/7/17).

Fakta yang  lebih mencengangkan adalah ketika beberapa media internasional pun turut ambil bagian atas hal yang terjadi dalam negeri. Seperti ulasan yang berjudul 'Islamist-Backed Candidate Ousts Jakarta's Christian Governor' dalam media Wall Street Journal,  diungkapkan bahwa telah terjadi kebangkitan Islam garis keras dan radikal dalam Pilkada Jakarta untuk menggulingkan gubernur beragama Kristen (detikNews 20/4/17).

Bagi para pemikir, tentu mereka mampu memahami betul apa latar belakang dan ke arah mana opini tersebut akan digulirkan. Dan meredam gejolak kebangkitan individu muslim adalah misi terselubung yang mereka harapkan keberhasilan nya. Sehingga dengan begitu, kekuasaan yang kini ada dalam genggaman tetap bertahan pada level aman.

Baca Juga : Mempertanyakan Islam Radikal Versi Penguasa

Sebagaimana lembaga think tank yang mengklasifikasikan Islam ke dalam 4 golongan (fundamentalis -  modern -  tradisional - moderat) untuk menjalankan politik adu dombanya, maka Indonesia pun tak ayal membebek hasil pemikiran tersebut. Hanya saja label radikal dirasa lebih mengena untuk menggeser asingnya istilah fundamentalis.

Pendiskreditan yang dikhususkan kepada Islam bukan  tanpa alasan. Pengalaman mengajarkan mereka untuk berkaca pada pilkada DKI, dimana mereka mengganggap kekalahan pasangan yang dijagokan adalah akibat kesadaran politis umat muslim. Untuk itulah memphobiakan seorang muslim atas islam akhirnya dijadikan agenda besar.

Baca Juga : Pepesan Kosong Islam Wasathiyyah

Usaha ini terbilang sukses bila dilihat dari maraknya konotasi negatif yang diberikan masyarakat. Horornya terorisme yang selalu dikaitkan dengan bahayanya Islam radikal membuat masyarakat ketakutan dan memilih jalur aman. Hingga tanpa segan, mereka pun mengabdikan diri sebagai penganut Islam modern/tradisional/moderat.

Sungguh patut disayangkan. Istilah radikal yang bermakna luas terpaksa dipersempit demi kepentingan politis. Padahal dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, radikal sendiri diartikan secara mendasar/sampai pada yang prinsip ; amat keras menuntut perubahan dan; maju dalam berpikir/bertindak.

Sehingga apabila dipersatukan antara keduanya (Islam dan radikal), mustahil wujud kekerasan/konotasi negatif bisa dijumpai lantaran Islam dengan tegas menolak konsep tersebut. Justru sebaliknya.

Pemikiran individu muslim akan semakin mengakar. Menancap kuat pada kemurnian Islam yang kemudian terimplementasi dalam bentuk tindakan yang jauh dari kata menyimpang.

Yang menjadi pertanyaan sekarang, mungkinkah Islam radikal nyata berbahaya? Ataukah itu sekedar akal-akalan lantaran enggan menyerahkan tampuk kekuasaan dan tunduk pada aturan Islam?[MO/mf]

Posting Komentar