Oleh : Yuliyati Sambas
(Anggota Akademi Menulis Kreatif)

Mediaoposisi.com- Utang pemerintah Republik Indonesia kian menumpuk. Totalnya kini mencapai Rp 4.180,61 triliun hingga April 2018. Jumlah ini melonjak Rp 44,22 triliun dibanding posisi Maret sebesar Rp 4.136,39 triliun (www.Liputan6.com). Peningkatan utang pemerintah ini dinilai tidak mampu mengakselerasi pertumbuhan ekonomi.

Produktivitas hutang terbukti belum mampu mendorong investasi sektor produktif secara signifikan, sehingga output perekonomian relatif stagnan (www.pikiran-rakyat.com).
Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa peningkatan utang tersebut diarahkan bagi pembangunan infrastruktur yang dampaknya tidak dapat dirasakan untuk jangka waktu yang pendek.

Pada kenyataannya dalam APBN struktur belanja modal relatif stagnan. Justru yang mengalami peningkatan proporsi signifikan adalah pada pos belanja pegawai. Pada tahun 2014 sebesar 20,25 persen dan tahun 2017 naik menjadi sebesar 26,25 persen.

Peningkatan proporsi yang signifikan juga terjadi pada pos belanja barang dari 14,67 persen tahun 2014 menjadi 21,70 persen pada tahun 2017 (www.pikiran-rakyat.com).

Sementara proporsi subsidi bagi rakyat dan bantuan-bantuan sosial terus menyusut. Menurut Ahmad Heri Firdaus, Peneliti Institute for Development of Economic and Finance (Indef) peningkatan utang pemerintah setidaknya justru harus menumbuhkan optimisme perekonomian terutama investasi.

Sebagai salah satu negara yang memiliki arah pandang kapitalisme Indonesia dalam menjalankan roda pemerintahannya mencari sumber pendapatan dari sektor pajak, non pajak, dan hibah. Namun karena pengeluaran negara yang cenderung lebih besar dibanding pendapatan maka utang luar negeri menjadi jalan yang dianggap paling realistis untuk dilakukan.

Utang dengan basis riba yang diambil sebagai solusi bagi pemerintahan ini pada kenyataannya tidak mampu mengeluarkan kondisi negeri menjadi lebih baik. Terbukti bahwa angka kemiskinan di negeri ini masih demikian tinggi, problem masyarakat berupa tingkat pengangguran yang begitu tinggi, daya beli masyarakat terhadap barang-barang yang menjadi kebutuhan primernya yang semakin merosot.

Di sisi lain dengan kondisi utang yang demikian tinggi semestinya menjadi perhatian bagi para aparatur negara yang mengelola pemerintahan ini untuk lebih menjaga kredibilitas diri justru nyatanya kita dapati angka korupsi yang dilakuakn oleh para pegawai pemerintahan di negeri ini makin hari bukannya makin menyusut malah demikian menggurita.

Dengan utang yang terus bertambah menjadikan arah kebijakan negeri tergadai, makin tampak mengikuti dikte dari sang pemberi utang, dan cita-cita untuk menjadikan negeri ini mandiri menjadi sesuatu yang demikian utopis.

Permasalahan utang yang dihadapi oleh negeri ini pada hakikatnya adalah satu permasalahan yang dapat diselesaikan dengan tuntas. Namun demikian membutuhkan satu formula yang datang dari kekuatan yang luar biasa besar, kekuatan yang maha dahsyat. Dengan keyakinan dan keimanan yang kuat selaku mukmin sebenarnya islam memiliki solusi tuntas dalam permasalahan ini.

Dimana sebagai sebuah mabda (ideologi) Islam memiliki seperangkat aturan yang menyeluruh terkait dengan permasalahan kehidupan manusia. Seperangkat aturan yang berasal dari Allah SWT Dzat Yang Maha Kaya dan Maha Kuasa.

Islam memandang bahwa utang luar negeri adalah jalan terakhir yang dapat ditempuh jika negara benar-benar dalam kondisi sulit dan kas negara dalam hal ini Baitul Maal benar-benar berada pada posisi kosong. Itupun harus diperhatikan bahwa utang yang diambil adalah yang tidak mengandung riba dan tidak berkonsekuensi tergadaikannya kedaulatan negara.

Islam lebih mendorong bahkan mengharuskan negara mengelola segala sumber daya alam dan kekayaan negeri yang demikian melimpah dalam rangka menghasilkan sumber pendapatan negara. Harta-harta yang terkatagori sebagai harta negara dalam pandangan syara’ benar-benar dioptimalkan untuk dikelola dengan seamanah mungkin.

Solusi Islam bagi negeri ini adalah solusi yang wajib diterapkan secara sempurna, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam alquran surat al-A’raf ayat 96 yang artinya “Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi....[MO]


Posting Komentar