Oleh : Bhakti Aditya P
(Islamic Social Worker)

Mediaoposisi.com- Hizbut Tahrir Indonesia, yang merupakan partai politik Islam dan aktifitasnya adalah mendakwahkan Islam Kaaffah (Syariah dan Khilafah), gugatannya ditolak oleh hakim pada sidang putusan di PTUN senin, 7 Mei kemarin.

Ust. Ismail Yusanto, juru bicara HTI menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan banding. Beliau menyampaikan "upaya banding ini semata-mata adalah dalam rangka memerangi kezhaliman".

Pasalnya, proses persidangan yang sudah dilangsungkan berkali-kali tersebut memaparkan fakta-fakta yang sangat jelas bahwa pemerintah kalah telak dalam proses peradilan tersebut.

Namun herannya, justru hakim malah berpihak dan memenangkan penguasa, entah karena lemah iman, atau mungkin takut jabatannya dicopot. Padahal, semestinya, meja hijau harus bebas dari kepentingan politik, di sana harusnya ditegakkan keadilan.

Kegigihan Pejuang Islam

Sejak pagi buta, da'i dan ulama-ulama dari berbagai daerah, bahkan dari luar daerah telah memadati halaman PTUN Jakarta Timur. Kedatangan mereka merupakan wujud dukungan terhadap dakwah HTI.

Ada yang datang menggunakan sepeda motor, hingga menggunakan bis, semata-mata ingin menyaksikan perhelatan terakhir HTI di PTUN.

Selain itu, mereka rela berdesakan di luar ruangan pengadilan, duduk beralaskan tikar, dan tertib mendengarkan tausiyah-tausiyah dari ustadz, ulama dan kiyai yang hadir pada saat itu. Suasana pun diiringi dengan pekikan takbir, deraian air mata, dan nasihat-nasihat surgawi yang menyejukkan.

Menegaskan, apapun keputusan hakim, simpatisan HTI ridho dg keputusan Alloh azza wa jalla. Keteguhan mereka tentu semakin menggetarkan hati musuh-musuh Islam.

Perang Hastag di Twitter

Tidak sampai disitu perjuangan mereka. Jempol-jempol mereka pun turut berjuang melakukan twitter storm. Tidak tanggung, hastag #KhilafahAjaranIslam, #HTILayakMenang, #7MeiHTIMenang, dan #UmatBersamaHTI di tweet oleh lebih dari 400.000 orang.

Membuktikan dukungan umat terhadap HTI. Sempat ada hastag tandingan, namun kemudian diketahui ternyata diretweet oleh BOT, alias akun palsu. Dukungan pun tidak hanya disitu, komentar positif mengalir dari para netizen semakin menguatkan opini bahwa HTI pasti menang pada sidang kali ini.

Kezhaliman tak pernah perpihak pada kebenaran

Datangnya simpatisan HTI pada sidang tersebut, kuatnya opini di udara (dunia maya), dan bukti serta fakta yang begitu jelas dan terang benderang tidak cukup untuk membuka mata hati hakim yang diharapkan mengadili perkara ini dengan seadil-adilnya.

Bahkan hakim menolak gugatan HTI dengan dalih dakwah Islam dan karena HTI mendakwahkan Khilafah, sementara Khilafah dianggap bertentangan dengan Pancasila. Statement dungu yang seharusnya tidak keluar dari mulut hakim PTUN yang telah mengikuti seluruh pemaparan tentang kasus tersebut sejak awal.

Hakim lebih memilih menjadi hakim yang diancam jahannam oleh Alloh azza wa jalla. Hidup memang pilihan, dan kezhaliman memang tak pernah berpihak pada kebenaran. Kezhaliman memang sepaket dengan kekufuran.

Pejuang Islam Ideologis tidak menangis

Ustadz Ismail Yusanto dengan gagah menegaskan "kita akan banding". Semata-mata dalam rangka membongkar kebusukan sistem demokrasi.

Agar umat semakin sadar, bahwa tidak ada jalan perubahan di demokrasi. Putusan tersebut disambut dengan sujud syukur oleh para simpatisan HTI. Mereka menangis, bukan karena kalah, tapi karena merasa pertolongan Allah kian dekat.

Ikhwah, saudara-saudaraku di HTI. Kalau perjuangan mu benar, maka sunnatullah kalian akan berhadapan, head to head dengan kezhaliman. Dicaci, difitnah, dituduh, dibubarkan, dan kezhaliman-kezhaliman lainnya tentu akan menghampiri kalian.

Justru, kalau saja 7 mei kemarin kalian dimenangkan oleh hakim, maka umat akan menyimpulkan "nah kan, di demokrasi juga bisa adil". Hal yang tidak kita harapkan.

Justru, dengan "dikalahkannya" HTI pada persidangan PTUN ini, perjuangan HTI tinggal beberapa langkah lagi saja. Umat akan semakin sadar bahwa sistem demokrasi memang rusak.

Sehingga tak cukup #2019GantiPresiden. Fakta kekalahan HTI ini tentu akan menjadi bumerang bagi penguasa dan manusia-manusia yang senantiasa bersembunyi dibalik demokrasi. Ahlul quwwah (militer) terus memantau, siapa rezim dan dibalik sistem rusak demokrasi ini.

Suatu ketika, seorang kakek-kakek tua renta disiksa sedemikian rupa dengan  siksaan yang berat. Namun tak sedikit pun airmatanya menetes.

Begitu ditanya oleh salah seorang pemuda, “mengapa engkau tak menangis wahai syaikh? Padahal beratnya siksaan itu membuat kami menangis dan berteriak”.

Kake tersebut berkata “pengemban ideologi (Islam) tidak menangis”. Kemudian akhirnya kita tahu, bahwa kakek-kakek tersebut adalah Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, pendiri Hizb-ut Tahrir.

Oleh karenanya, tak perlu  bersedih atau kecewa berlebihan. Qadha Alloh merupakan kondisi terbaik yang tentu akan  ada hikmah di balik itu semua.

Justru, dengan kejadian ini, menjadikan kita semakin yakin, bahwa tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali terus berjuang, hingga Allah subhaanahu wa ta'ala memenangkan agama ini, atau kita mati dalam memperjuangkannya.

Kita juga berharap dan berdoa kepada Allah azza wa jalla, agar perjuangan yang terus berlanjut ini dihadiahkan Alloh dengan pertolonganNya. Yakni, kesadaaran umat dan militer agar segera mencampakkan Demokrasi dan penguasa zhalim ini.[MO]




Posting Komentar