Revolusi| Mediaoposisi.com- Propaganda dan pemberian label negatif kepada Islam terus di gencarkan. Kali ini yang menjadi sasaran propaganda adalah mahasiswa. Geliat kebangkitan dari mercusuar pendidikan sudah mulai tercium, kontraksi - kontraksi menjelang lahirnya peradaban baru sudah mulai di rasakan.

 Mahasiswa sebagai agen of change yang siap membidani lahirnya peradaban emaspun sudah terlihat siuman. Hanya saja semua pertanda ini tidak di tangkap sebagai sebuah prestasi anak negeri, tidak di lihat sebagai sebuah kemajuan yang layak mendapat apresiasi.

Justru geliat kebangkitan dan kemajuan berfikir yang menyeruak di tengah mahasiswa malah di tengarai sebagai salah satu indikator yang harus di waspadai.

Masalahnya, mahasiswa yang mulai melek dengan kondisi, dan tersentuh menginginkan perubahan, ini adalah mahasiswa muslim. Dimana yang menjadi motor penggerak keinginannya untuk memberikan kontribusi untuk negeri ini adalah Islam. Sekelompok manusia yang begitu anti dengan Islam, mencium ini sebagai sebuah ancaman yang harus di wspadai.

Mereka begitu takut dengan pemikiran Islam, sehingga semua hal yang berbau Islam langsung mendapatkan stigma negatif, sebutan radikalisme, fundamentalis akhirnya melekat kepada orang - orang yang berusaha berjuang menerapkan Islam dalam kehidupan.

Baca Juga : Waspada Islam Moderat

Kampus : Sasaran Empuk
Penggiringan opini - opini untuk menjegal Islam terus di lakukan, pemahaman bahwasanya Mahasiswa yang senantiasa menjadi ujung tonggak perubahanpun menjadi pertimbangan, sehingga tidak lepas dari sasaran propaganda.

Sebelumnya tuduhan pembuat makar dan radikal menyasar para ulama dan emak - emak militan, tapi kali ini isu radikalisme diangkat di kalangan mahasiswa. Bahkan menurut Badan Intelegen Negara (BIN) menyebutkan sekitar 39 persen mahasiswa di tanah air telah terpapar paham radikal.

Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Pol (Purn) Budi Gunawan mengaku pihaknya tengah melakukan pengamatan penyebaran radikalisme di kalangan kampus. Sejumlah kampus di 15 provinsi di Tanah Air ditengarai menjadi tempat pembasisan calon-calon pelaku teror baru dari kalangan mahasiswa.

Menurut Budi Gunawan hasil survei BIN pada 2017 menyebutkan 39% mahasiswa dari berbagai PT di Indonesia telah terpapar paham-paham radikal. Sebanyak 24% mahasiswa dan 23,3% pelajar tingkat SMA juga setuju dengan jihad, untuk tegaknya negara Islam atau khilafah. Okezonenews.com sabtu 28/o4/2018

Pernyataan kepala BIN Budi Gunawan yang mengaitkan pemikiran radikal dengan jihad dan penegakan khilafah, seakan memperjelas bahwa di munculkannya isu radikalisme di kalangan mahasiswa sebagai bentuk upaya untuk memberikan gambaran bahwasanya radikalisme di kalangan mahasiswa sebagai sebuah ancaman.

Mengkaitkan radikalisme sebagai cikal bakal teroris, jihad dan khilafah dengan mengambil contoh kasus pemboman yang pernah di lakukan mahasiswa seakan menjadi pembenaran akan adanya bahaya yang sedang menghadang. Mereka terus berupaya memberikan gambaran buruk radikalisme yang begitu erat kaitannya dengan istilah - istilah dalam Islam.

Sejatinya kasus radikalisme di munculkan hanya sebagai alat untuk membungkam suara kritis mahasiswa. Mereka khawatir kepentingannya dan berbagai kebijakannya terusik jika mahasiswa mulai bangkit. Karena sesungguhnya yang terjadi di tengah - tengah mahasiswa adalah munculanya kesadaran akan rusaknya realita yang terjadi dan penerapan aturan yang merusak.

Akhirnya mahasiswa yang mulai terbangun ini terus berjuang untuk mencari solusi demi baktinya pada negeri. Ketika solusi itu di dapatkan dari Islam, wajar adanya karena memang penduduk negeri ini mayoritas muslim, sehingga nafas dan perasaanya masih terikat dengan ruh agamanya.

Ketikapun mahawsiswa menemukan obat ampuh sebagai pemecah seluruh permasalahn negeri ini dari ajaran Islam, buah pembelajaran tentang ajaran Islam yang menyeluruh sampai ke akarnya (radik) lantas dimana salahnya? ketikapun mahasiswa memahami jihad dan khilafah sebagai ajaran Islam, lantas dimana letak kekeliruannya?

Lantas dimana letak salahnya ajaran Islam, kenapa dengan segala kerusakan justru yang menjadi kambing hitam ajaran Islam. kenapa Islam menjadi agama yang harus di waspadai, geraknya harus di batasi, penganutnya wajib di curigai, padahal pengemban dakwahnya hanya menawarkan solusi. Karena yang sudah terbukti membuat kerusakan itu justru bukan Islam, tapi kapitalis sekulerlah biang keladinya.

Mahasiswa Rapatkan Barisan
Wahai mahasiswa, tonggak peradaban dan perubahan memang senantiasa ada di genggaman kalian. Perjuangan dan kemenangan adalah milik kalian yang senantiasa teguh dan kokoh dalam memperjuangkan kebenaran.

Sejarah sudah banyak mencatat peran - peran pemuda dalam membawa obor kemenangan. Secuil sandungan dan penghadangan yang di hembuskan jangan sampai menyurutkan langkah kalian, ketika mereka meneriakan radikalisme yang bersumber dari Islam sebagai paham yang berbahaya maka ini adalah tantangan untuk kalian.

Ini adalah lecutan untuk mahasiswa supaya semakin giat lagi berjuang memberikan penyadaran kepada sesama. Teruslah berjuang tularkan ide - ide kebenaran bahwasanya bukan Islam yang harus di waspadai, justru Islamlah yang akan menyelamatkan negeri ini.

Teruslah berjuang sampai mahasiswa menjadi satu suara, menginginkan perubahan kearah yang lebih baik dengan penerapan Islam kaffah. Rapatkan barisanmu wahai mahasiswa jangan beri ruang bagi musuh - musuh Allah menyelinap merusak barisan mu.

Jangan sampai langkah kalian terhalang hanya dengan propaganda murahan, jangan sampai semangat kalian luntur hanya gara - gara maklumat diatas, ingatlah justru meninggalakan perjuangan inilah yang akan mendatangkan kerugian,

Rasululloh saw bersabda: "Kalian sungguh - sungguh menyerukan kemakrufan dan mencegah dari yang mungkar atau Allah benar - benar akan memberikan kekuasan kepada orang - orang buruk diantara kalian lalu orang - orang baik berdoa tapi tidak di kabulakan oleh Allah". (HR. Ibnu Hibban)

Rasululloh saw bersabda:  “Barangsiapa yang menyeru kepada sebuah petunjuk maka baginya pahal seperti pahala-pahala orang-orang yang mengikutinya, hal tersebut tidak mengurangi akan pahala-pahala mereka sedikitpun dan barangsiapa yang menyeru kepada sebuah kesesatan maka atasnya dosa  seperti dosa-dosa yang mengikutinya, hal tersebut tidak mengurangi dari dosa-dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim)

Pilihanya terus berjuang menyampaikan yang hak dan mencegah yang mungkar dengan balasan limpahan pahala, atai mundur dan meninggalkan dakwah denganancaraman kerugian yakni tidak di kabulkannya doa?

Mahasiswa muslim yang sudah mengalir dalam tubuhnya darah pejuang tidak akan pernah gentar dengan cobaan menghadang, mahasiswa yang sejatinya selalu menggelorakan semangat membara, pembawa obor peradaban, yang selalu berada di garda terdepan perjuangan akan terus gigih berjuang sampai kebenaran di menangkan.[MO/sr]



Posting Komentar