Oleh : Etti Budiyanti
(Member Akademi Menulis Kreatif)

Mediaoposisi.com-  Islam wasathiyah menjadi perbincangan di media nasional akhir-akhir ini,  setelah hadirnya Grand Syeikh Al Azhar ahmed Muhammad Sth-Thayeb dan Imam Besar Al Haramain Syekh Sholeh bin Abdullah di Indonesia.  Keduanya datang untuk menghadiri forum KTT (Konsultasi Tingkat Tinggi) Islam Wasathiyah di Hotel Novotel Bogor tanggal 1-3 Mei lalu.
Sebenarnya hakekat Islam Wasathiyah ini sama dengan Islam Moderat. 

Islam Moderat telah diperkenalkan pada masa pemerintahan SBY yang disampaikan dalam pidatonya di depan peserta APEC CEO Summit 2011 di Honolulu,  Hawaii (12/11). SBY mengatakan Indonesia akan menjadi model Islam moderat yang berkomitmen menekan radikalisme dengan cara yang tidak melaggar HAM dan menjunjung demokrasi.

Kini,  di masa pemerintahan Jokowi,  komitmen itu terus dipertahankan. Beberapa program dan langkah-langkah yang menjadikan Indonesia untuk menjadikan Indonesia sebagai model Islam yang moderat,  damai dan toleran sudah nampak kasat mata. Nampaknya pemerintah serius melakukan hal ini.

Sebagai umat Islam yang peduli dengan berbagai isu dan masalah keumatan daan bangsa, semestinya memahami apa yang terjadi dengan adanya pengarusan terminologi Islam moderat ini.  Haruskah umat ini mengusung ide ini?

Makna Islam Moderat

Istilah moderat jika diterapkan  dalam kalimat adalah tidak boros,  tidak kikir tapi di tengah-tengahnya.  Tidak liberal,  tidak radikal.  Tidak miskin,  tidak kaya,  sedang-sedang saja.  Dalam prakteknya,  jenis pemikiran ini adalah hasil kompromi dari 2 ujung yang dipandang ekstrim.  Dan jika ditelusuri sejarahnya,  sikap ini adalah kompromi dalam beragama, yaitu pihak gereja dan pemikir atau filsuf. 

Setelah perjuangan sengit antara kedua pihak tersebut,  mereka sepakat untuk kompromi. Memberi pengakuan terhadap agama yang mengatur hubungan antara manusia dan penciptanya saja.  Tidak ada peran sama sekali untuk mengatur kehidupan.  Sebuah ide pemisahan agama dari kehidupan.

Bathilnya Cara Pandang Islam Moderat

Umat Islam tidak pernah mengenal istilah Islam Moderat sebelumnya,  kecuali di era modern setelah runtuhnya Negara Khilafah di awal abad -20. Cara pandang moderat (pemisahan agama dari kehidupan) ini diterapkan dalam memposisikan seluruh agama,  termasuk Islam. 

Kita bisa melihat realitanya dalam kehidupan.  Islam sebagai agama yang sempurna,  tidak digunakan sebagai problem solving dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.  Islam telah diamputasi dalam ranah politik (pengaturan urusan umat). Pemahaman nashnya diselewengkan dengan dalih konstitusi hukum agar sesuai dengan kondisi masyarakat.

Sebenarnya,  Islam moderat itu adalah mainan Barat (ideologi kapitalis), yang ingin mempertahankan hegemoninya (pengaruhnya) dengan cara menyiapkan penguasa muslim di negeri-negeri muslim yang bisa dikendalikan (antek Barat). Namun Barat juga tahu kalau umat sudah muak dengan rezim mereka.  Barat juga tahu kalau umat Islam menginginkan Islam sebagai alternatif satu-satunya yang mengatur kemaslahatan mereka.

Tujuan utama Barat adalah menipu umat yang mulia ini sehingga pada tahun-tahun terakhir umat kembali mundur dan jauh dari kebangkitan sesungguhnya, melalui berdirinya rezim-rezim yang mengusung slogan-slogan Islam,  tetapi memimpin dengan sistem kehidupan Barat dan loyalitas terhadap Barat.

Islam moderat juga merupakan salah satu strategi Barat dalam memvaksinasi gerakan-gerakan Islam dengan ide-ide sekuler gaya barat.

Bahaya Islam Moderat

Bila kita mau mencermati lebih jauh,  ternyata Islam moderat ini memiliki bahaya besar bagi kelangsungan umat.  Bahaya tersebut adalah : 

1. Mengebiri Islam 
Jalan tengah yang menjadi ciri Islam moderat ini merupakan pandangan yang mengabaikan sebagian dari ajaran Islam. Padahal,  menimbang-nimbang ajaran Islam dengan mengambil yang menguntungkan dan menolak yang dianggap keras merupakan suatu tanda kekafiran.  Allah berfirman dalam Surat An Nisa 150-151 yang artinya :

" Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-rasulNya dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasulNya,"

dengan mengatakan :"Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagiaan (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir). Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan. "

2. Menimbulkan Keraguan Umat terhadap Islam 
Para pengusung Islam Moderat menyuarakan untuk meninjau ulang hujum-hukum qath'iy,  baik yang terdapat dalam Al Qur'an maupun Al Hadist, maka semua itu harus disesuaikan dengan pemikiran moderat yang standarnya bukan dari Islam. Hal ini menjadikan umat menjadi ragu akan ajaran agamanya sendiri. Akibatnya umat menjauh dari Islam,  fobia terhadap Islam dan memusuhi para ulama dan pendukung dakwah yang hanif.

3. Menyusupkan Paham Pluralisme yang Memandang Semua Agama Benar
Melalui konsep dan kedok istilah Islam Moderat itu pula,  kemudian disebarkan paham Pluralisme Agama.  Konsekuensinya, orang yang keluar dari Islam tidak dianggap murtad dan tercela.  Pernikahan antar agama juga tidak bisa disalahkan.

4. Memecah belah Islam dan Umat
Islam dan umat dikotak-kotakkan dan dipertentangkan antara Islam moderat dengan radikal,  Islam Indonesia dengan Arab dan seterusnya.  Padahal Islam adalah satu, yaitu yang diturunkan Allah SWT kepada Rasulullah SAW, kitab sucinya juga satu yaitu Al Qur'an.

5. Meminggirkan Dakwah Menerapkan Syariat Islam
Dengan penolakan terhadap formalisasi syariah dalam sebuah institusi negara,  maka dakwah yang menyerukan penerapan syariat Islam dianggap ekstrim dan radikal.  Dakwah semacam ini akan ditolak dan dimusuhi sehingga langkah untuk kembali menghidupkan Islam dalam kehidupan akan menjadi lebih berat. 

Solusi Islam

Sejatinya Islam moderat sangat bertentangan dengan Islam sesungguhnya.  Telah sangat jelas bahwa sesungguhnya Allah SWT memerintahkan kita mengamalkan Islam secara kaffah,   bukan sebagian,  seperti Islam Moderat yang mengambil tengah-tengah. Sebagaimana firman Allah dalan Surat Al Baqarah (2: 208) :" Wahai orang-orang beriman!  Masuklah kalian ke dapan Islam secara kaffah,  dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan.  Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. "

Seorang muslim dituntut memiliki keimanan yang benar juga wajib membuktikan keimanannya dalam wujud keterikatannya pada semua syariat Islam, baik menyangkut kehidupan pribadi, kekuarga maupun dalam bermasyarakat dan bernegara.

Selain individu,  negara memiliki kewajiban untuk menjaga aqidah umatnya dengan memberi kemudahan melaksanakan aturan-aturan Islam. Negara menerapkan berbagai kebijakan yang saling mendukung bagi terciptanya aqidah yang bersih, kuat dan berpengaruh pada diri kaum muslim. Pada saat yang sama, negara  berupaya agar aqidah tersebut dapat tersiar ke seluruh dunia agar Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin dapat dirasakan.

Dengan demikian,  sudah jelas bahwa Islam moderat bukan berasal dari Islam. Penyebaran paham ini justru akan memecah belah umat Islam, menjauhkan penerapan Islam Kaffah serta semakin melanggengkan penjajahan Barat.  Oleh sebab itu,  umat Islam harus membendung dan membuangnya. 

Negara harus berperan aktif dan turut campur dalam melindungi akidah umat. Semua itu hanya mungkin dilakukan jika syariah Islam diterapkan secara total dalam sistem pemerintahan Islam yakni Khilafah 'ala minhaj an Nubuwwah.[MO/sr]

Posting Komentar