Oleh: Deslina Zahra Nauli*) 

Mediaoposisi.com-  Dalam aktivitas ekonomi sebuah negara membutuhkan alat tukar transaksi berupa uang, umumnya menggunakan uang kertas. Menjadi sebuah kewajiban, nilai uang sebuah negara berkembang biasanya distandarkan dengan nilai mata uang negara maju. Di Indonesia nilai uang senantiasa distandarkan pada dollar AS. 

Beberapa pekan terakhir rupiah mengalami pelemahan terhadap dollar AS, sebagai dampak dari penguatan mata uang Amerika Serikat yang memengaruhi hampir seluruh mata uang negara-negara di dunia. Bicara dampak penguatan dollar AS terhadap rupiah, sempat terjadi fluktuasi nilai tukar mulai dari level di bawah Rp 13.500 pada Januari hingga tembus Rp 14.000 pada Mei 2018 (kompas.com, 10 Mei 2018).

Menurut Kepala Subdirektorat Perencanaan dan Strategi Pembiayaan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kemenkeu Erwin Ginting, posisi utang pemerintah per akhir Maret 2018 mencapai Rp 4.136 triliun. Komponen utang dalam denominasi valuta asing (valas) 109 miliar dolar AS dengan kurs Rp 13.750 per dolar AS. 

"Kalau stok utang valas yang sama dikonversi dengan kenaikan Rp 100 per dolar AS, total stok utang naik Rp 10,9 triliun," ujar Erwin. 

Menurut dia, perubahan nilai tukar akan memengaruhi pembayaran kewajiban utang, yakni membayar pokok dan bunga utang. Dalam perincian DJPPR, pada 2018 utang jatuh tempo mencapai Rp 394 triliun dan pada tahun depan sekitar Rp 420 triliun. Dengan begitu, total beban pokok dan bunga utang Rp 814 triliun (Republika.co.id, 25 April 2017).

Gejolak pelemahan rupiah terhadap dolar adalah konsekuensi dari sistem ekonomi kapitalis yang menggunakan mata uang kertas. Sesungguhnya di negara asalnya Amerika, sistem ekonomi ini telah gagagl. 

Menurut pakar ekonomi Taufik Hidayat, SEI, kehancuran perekonomian ini merupakan harga yang sangat mahal dari sebuah transaksi keserakahan terhadap mata uang kertas (fiat money) ala Amerika dan dunia Eropa. 

Rakus, tamak, serakah, loba yang dibungkus dalam sebuah sistem ekonomi dengan mengandalkan kekuatan US Dollar sebagai Tuhannya. Padahal secara fakta telah terbukti bahwa sistem ekonomi (berdasarkan fiat money) tersebut mengandung banyak permasalahan didalamnya (jurnal-ekonomi.org). 

Dikarenakan ada selisih nilai didalam mata uang kertas (fiat money) antara nilai instrinsik dan nilai nominalnya, maka pastilah ada pihak yang akan diuntungkan. Amerika menikmati pendapatan yang luar biasa besar dari penciptaan mata uang dollar dengan hanya mengandalkan seignorage (selisih biaya cetak atau biaya produksi dengan nilai yang tertera di mata uang/nilai nominal). 

Keuntungan tersebut semakin besar didapatkan Amerika, ketika semakin banyak negara mensirkulasikan untuk kebutuhan transaksinya. Inilah bisnis abad ini yang sangat menggiurkan sekali. Cuma berbekal selembar kertas mirip kwarto dan sebotol tinta warna serta sebuah mesin cetak mampu meraup keuntungan yang sangat banyak sekali (jurnal-ekonomi.org). 

Inilah alasan mengapa Amerika  dengan segala cara membuat negeri-negeri berkembang terjerat dalam sistem mata uang kertas. 

Selanjutnya, salah satu virus yang ditakuti para ekonom saat ini adalah inflasi yang tidak terkendali. Lantaran itu, Hayek yang meraih Nobel ekonomi tahun 1974, mengkritik keras penggunaan fiat money. 

Ia mengajukan proposal radikal untuk menghapuskan peran bank sentral dan pada saat yang sama menawarkan ide untuk menggunakan mata uang yang berbasis komoditi (commodity money) seperti emas ((jurnal-ekonomi.org). 

Bahkan mata uang kertas juga memunculkan spekulasi yang membahayakan sebuah negara. Aksi spekulasi sudah terjadi setelah Perang Dunia I ketika sistem standar emas diganti dengan US Dollar. Baru setelah PD II, persoalan moneter mengarah menjadi sebuah sistem dunia, dengan dimulainya Sistem Bretton Woods. 

Ditandai dengan lahirnya IMF dan World Bank sejak 1944. Sejak saat itu semua mata uang dunia berhubungan satu sama lain, dan dikaitkan dengan nilai US Dollar. 

Semula mata uang kertas difungsikan sebagai alat tukar semata, kemudian dijadikan sebagai alat komoditi yang sangat berharga untuk diperdagangkan. Kondisi seperti inilah yang menumbuh suburkan para spekulan dunia bermain kurs mata uang (jurnal-ekonomi.org). 

Sungguh jelas, sistem mata uang kertas yang lahir dari ekonomi kapitalis membahayakan sebuah negara. Dimana sebuah negara tegak dalam kekuatan ekonomi semu dan rapuh. Kerapuhan sistem ekonomi ini menyebabkan kedaulatan negara tewas. 

Negara akan mudah dikendalikan oleh sang pemilik standar mata uang. Hutang dengan bunganya menjadi jaminan bahwa penjajahan akan terus berlangsung. Sebuah negara dipaksa tunduk demi menyelamatkan ekonominya. 

Ketundukan ekonomi akan mengakibatkan ketundukan di bidang politik, pendidikan dan budaya. Saatnya kita tinggalkan sistem ekonomi kapitalisme yang melahirkan sistem mata ung kertas. Menggantinya dengan mata uang emas yang jejak rekamnya telah teruji di pentas moneter internasional selama ratusan tahun merupakan standar moneter yang adil dan stabil. [MO/sr]


Posting Komentar