Oleh: Arlin Navigati

Mediaoposisi.com- Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menanggapi ceramah Ketua Majelis Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais. Amien meminta pengajian di masjid disisipi unsur politik. Moeldoko justru menilai, sebaiknya masjid digunakan untuk menyampaikan syiar Islam.

"Harus dipisahkan di mana masjid itu sebagai tempat syiarnya hal-hal yang bagus. Jangan dikotori oleh pemikiran-pemikiran yang menyimpang," kata Moeldoko di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta. 

Moeldoko juga menyakan bahwa sah-sah saja untuk menyampaikan pendidikan politik di masjid. Asalkan tidak tidak mengarah pada penyerangan terhadap lawan politik dan tidak mengarah kepada pendidikan politik praktis. (liputan6.com Jumat, 27/4/2018).

Isu politik memang marak dibicarakan oleh masyarakat, terutama menjelang masa pergantian pemimpin mulai dari sektor daerah hingga negara. Mulai dari warung kopi hingga kantor berkanopi. Sayangnya, sebagian masyarakat meganggap bahwa aktivitas politik adalah aktivitas yang kotor, dan penuh kelicikkan sehingga tidak pantas jika dibicarakan di dalam masjid. 
Apakah benar begitu?

Definisi Politik

Terdapat banyak versi mengenai definisi politik. Harold D. Laswell dan A. Kaplan mengartikan politik sebagai ilmu yang mempelajari pembentukkan dan pembagian kekuasaan.

WA. Robson juga mendefinisikan politik sebagai ilmu yang mempelajari kekuasaaan dalam masyarakat, yaitu sifat hakiki, dasar, proses-oroses, ruang lingkup dan hasil-hasilnya. Fokus seorang sarjana politik tertuju pada perjuangan untuk mencapai atau mempertahankan kekuasaan, melaksanakan kekuasaan atau pengaruh atas orang lain, atau menentang pelaksanaan kekuasaan itu.

Dalam pandangan Islam, politik secara etimologis berasal dari kata sasa-yasusu-siyasah yang berarti mengurusi kepentingan seseorang. Secara makna, politik Islam berarti pengaturan urusan umat dengan aturan-aturan Islam, baik di dalam maupun di luar negeri. 

Aktivitas politik dilaksanakan oleh rakyat (umat) dan pemerintah (negara). Pemerintah (negara) merupakan lembaga yang mengatur urusan rakyat secara praktis. Lalu umat mengontrol sekaligus mengoreksi pemerintah dalam melaksanakan tugasnya. (Arief B. Islkandar dalam buku Materi Dasar Islam)

Dari pemaparan di atas, kita dapat melihat jelas perbedaan definisi politik dari sudut pandang pemikir Barat dan dari sudut pandang Islam. Politik dari sudut pandang pemikir Barat hanyalah kegiatan yang mencakup kekuasaan saja sedangkan politik dari sudut pandang Islam adalah kegiatan yang mengurusi berbagai urusan manusia dengan aturan Islam yang mencakup urusan dunia dan akhirat.

Islam Mengajarkan Politik

Islam sebagai agama sekaligus ideologi juga mengajarkan politik kepada para pemeluknya, hal ini dapat kita ketahui dari hadits Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang artinya:

“Dulu Bani Israil diatur urusannya oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi wafat, ia digantikan oleh nabi yang lain. Sungguh tidak ada nabi sesudahku. Yang akan ada adalah para khalifah dan jumlah mereka banyak." (HR al-Bukhari dan Muslim).”

Saat men-syarh hadis ini, Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath al-Bâri (VI/497) menyatakan, “Di dalam hadis ini ada isyarat bahwa, tidak boleh tidak, rakyat harus mempunyai seseorang yang mengurus berbagai urusan mereka, membawa mereka ke jalan yang baik dan menolong orang yang dizalimi dari orang yang berbuat zalim.”

Ibnu Taimiyah juga berkata bahwa, “Jika kekuasaan (as-sulthan) terpisah dari agama, atau jika agama terpisah dari kekuasaan, niscaya keadaan manusia akan rusak.” (Lihat: Ibnu Timiyah, Majmû al-Fatawâ, 28/394).

Sayangnya, di sistem demokrasi yang bersaudara dengan sistem liberalisme ini, segala sesuatunya harus dijauhkan dari ajaran agama. Wajar jika sebagian masyarakat menolak ketika masjid dijadikan tempat untuk membicarakan politik. 

Praktik politik dalam sistem demokrasi yang sering ingkar janji membuat muak masyarakat, hal ini sangat berbeda dengan praktik politik dalam ajaran Islam di mana setiap politisi harus tepat janji dan menegakkan keadilan berdasarkan syariat Islam, hukum harus adil tidak boleh tumpul ke atas dan tajam ke bawah.

Hal ini dicontohkan oleh Rasulullah ketika ada seorang perempuan bangsawan Quraisy dari Bani Makhzum yang mencuri. Namun seseorang berkata,”Ya Rasulullah, kami tidak mengira Anda akan melakukan itu”. Beliau menjawab,”Walaupun Fatimah binti Muhammad mencuri, maka tetap aku tegakkan hukum HAD (potong tangan)”. (HR Muttafaqun Alaih.)

Fungsi Masjid Pada Masa Rasulullah Muhammad saw

Masjid adalah bangunan pertama yang didirikan Rasulullah Shallallahu'alaihi wassallam saat tiba di Yatsrib (Madinah) dalam peristiwa hijrah, yaitu Masjid Quba. 

Setelah Masjid Quba, Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wassallam mendirikan Masjid Nabawi pada 18 Rabiul Awal tahun pertama Hijrah. Di masjid Nabawi inilah shalat dan ibadah pada mulanya banyak dilakukan. Di masjid itu pula Rasulullah Shallallahu'alaihi wassallam menyampaikan ajaran Islam, nasihat dan pidatonya kepada umat Islam. 

Di sini juga beliau bertindak sebagai hakim yang memutuskan ragam persengketaan di kalangan umat, bermusyawarah dengan para sahabat, bahkan mengatur siasat perang dan siasat bernegara. Ringkasnya, Masjid Nabawi justru menjadi basis politik dan pusat pemerintahan Islam.

Setelah Nabi shallallahu alaihi wa sallam wafat. Masjid tetap merupakan pusat kegiatan politik dan pemerintahan. Di sanalah Abu Bakar menerima baiat (pengangkatan sebagai khalifah) setelah disetujui dalam pertemuan di Saqifah Bani Saidah. 

Masjid-masjid yang didirikan di daerah-daerah yang tunduk pada kekuasaan Islam tidak lama setelah Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wassallam wafat juga mempunyai fungsi yang tidak banyak berbeda dengan fungsi masjid di Madinah. (Buletin Kaaffah Edisi 38)

Memakmurkan Masjid Dan Mengembalikan Fungsinya

Dalam Al Quran surat At Taubah ayat 18, Allah berfirman yang artinya:, “Sungguh yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang mengimani Allah dan Hari Akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Merekalah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk

Allah subhanahu wa ta’ala telah menjanjikan petunjuk kepada orang-orang yang memakmurkan masjid. Untuk dapat memakmurkan masjid, kita dapat mencontoh kegiatan yang dilakukan oleh Rasulullah pada masa pemerintahannya. 

Selain untuk beribadah, masjid pada zaman Rasulullah juga digunakan untuk kegiatan politik seperti pengambilan zakat, memutuskan sengketa, menyusun strategi perang dan lain-lain. 

Sudah saatnya kita sebagai umat Islam memakmurkan masjid untuk kembali memfungsikannya seperti sedia kala. Jangan sampai masjid hanya dikunjungi ketika ada perayaan hari raya Islam saja, apa lagi jika hanya dimanfaatkan oleh sebagian orang menjelang pemilu sebagai ajang pencitraan. 

Masjid juga tidak boleh dimasuki oleh orang kafir yang ingin merebut hati umat Islam agar ia bisa berkuasa. Masjid adalah tempat mulia yang tepat untuk memperoleh pengetahuan tentang politik Islam agar kita tidak gegabah dalam menyikapi setiap persoalan. Hal ini bisa dilaksanakan kembali jika ada institusi negara Islam yang kita kenal dengan sebutan Khilafah Islamiyah.[MO/sr]



Posting Komentar