Oleh : Siti Rahmah

Mediaoposisi.com-  Demokrasi kembali menunjukan jati dirinya, hipokrit kebebasan kerap kali dirasakan. Jargon kebebasan menyampaikan pendapat yang selama ini diagungkan dalam sistem demokrasi ternyata hanya isapan jempol belaka.

Hal ini nampak dengan apa yang terjadi baru - baru ini pada guru besar fakultas hukum Undip Prof. Dr. Suteki M. Hum, yang harus menjalani sidang kode etik ASN, disebabkan postingan - postinganya yang dianggap bertentangan dengan Pancasila, Undang - undang 1945 dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tribunnews.com

Tuduhan tersebut dilayangkan karena seperti diketahui, Prof Suteki pernah menjadi saksi ahli dalam sidang gugatan Perppu Ormas dan cukup sering mengungkapkan pikirannya lewat media sosial. Dalam akun facebook-nya, Prof Suteki berkomentar soal HTI, khilafah, hingga aksi terorisme yang melanda Indonesia. 

Persekusi Akademisi

Apa yang terjadi sama Prof. Dr. Suteki seakan menjadi bukti matinya demokrasi, Kebebesan menyampaikan pendapat yang senantiasa diagungkan bahkan menjadi penopang dari pilar demokrasi kini telah dikhianati.

Persekusi yang dialami Prof Suteki karena suara kebenaran yang diungkapkannya menghantarkannya pada permasalahan pelik, persidangan kode etikpun harus dilalui. Padahal sejatinya beliau adalah seorang guru besar hukum dan mengampu mata kuliah pancasila dan ilmu masyarakat lainnya.

Sehingga sisi keilmuan dan pengetahuannya tentang Pancasila dan nilai - nilai yang terkandung didalamnya tidak perlu diragukan lagi. Bahkan jika boleh dikatakan beliau lah yang paling ahli dan mengerti pancasila, sehingga omong kosong ketika seorang Prof pengampu mata kuliah Pancasila dikatakan bertentangan dengan Pancasila.

Terkait tuduhan berikutnya bahwa Prof Suteki memiliki pemikiran yang bertentangan dengan NKRI, disinyalir tuduhan ini sengaja dimunculkan terkait status Prof Suteki yang menjadi saksi ahli pada gugatan perpu Ormas dan postingan - pistinganya tentang Khilafah sebagai ajaran Islam. 

Padahal apa yang disampaikan oleh Prof Suteki adalah buah dari wawasan keilmuan yang dimilikinya. Sebagai seorang muslim, siapapun dia jika dia seorang pembelajar yang jujur  maka dia akan menemukan bahwa khilafah adalah bagian dari ajaran agama Islam. Begitupun dengan yang dilakukan oleh Prof Suteki, terkait pembelaanya terhadap HTI ataupun postingannya tentang khilafah, hal itu sejalan dengan keilmuan yang didalaminya selama ini.

Justru dengan digelarnya sidang kode etik terhadap Prof Suteki menunjukan kemana arah opini yang sedang di bangun. Kecerdasan masyarakat sudah mampu menyimpulkan, "direzim ini siapapun yang bersuara dengan suara yang bertentangan dengan rezim, sekalipun kebenaran yang diusung maka dia akan senantiasa di benturkan dengan berbagai macam pemasalahan."

Sudahlah Ulama yang menjadi korban persekusi, emak - emak militanpun tidak lepas jeratan, sekarang giliran akademisi yang mencoba dibungkam. Kebebasan menyampaikan pendapat hanyalah bualan, dan gincu untuk kepentingan sesaat.

Kebenaran Pasti Menang

Berbagai upaya mereka lakukan untuk menghantam laju dakwah Islam, semua akan dibungkam ketika bicara ajaran Islam. Kebebasan menyampaikan pendapat tidak berlaku bagi umat Islam. Namun akankah kebenaran padam dengan segala pembungkaman? Tentu tidak, sejarah sudah banyak membuktikan hancurnya penguasa tirani bukan ketika mereka lemah justru ketika berada di singgasana kekuasaanya.

Pertarungan kebenaran akan senantiasa ada disetiap masa, penyebar kebathilan selalu ada disetiap jaman begitupun dengan pengusung kebenaran tidak pernah mati hanya karena takut jeruji. Tidak pernah ditemukan dalam sejarah keabadian untuk para pembenci Islam, yang ada justru sejarah telah menorehkan dengan gemilang tentang kebenaran yang selalu dimenangkan.

 Sebagaimana firman Allah
وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (al-Isra’: 18)
Sehingga tugas kaum muslimin hanyalah menjadi menyampaikan kebenaran.[MO/sr]




Posting Komentar