Oleh: Nur Syamsiyah
(Mahasiswi Pascasarjanan Ekonomi Syariah UIN Malang)
Mediaoposisi.com-Kondisi rupiah saat ini sedang anjlok. Nilai tukarnya sudah mencapai Rp 14.000 per dolar AS. Dengan demikian, utang Indonesia hampir mencapai Rp 5.000 Triliun. 

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira Adhinegara menyatakan bahwa pelemahan kurs rupiah prediksinya akan berlanjut hingga pekan depan seiring terus keluarnya dana asing di pasar saham Rp 3 triliun dalam seminggu ini.

Mengingat peristiwa 1988, yang menjadi saksi bagi tragedy perekonomian bangsa. Keadaannya berlansung sangat trategis dan tercatat sebagai periode paling suram dalam sejarah perekonomian Indonesia. Kurs dolar AS terhadap rupiah ketika itu tembus Rp 16.800 pada bulan Juni 1988. Akibatnya, saat kurs rupiah jeblok, utang valas perbankan membengkak.

Apabila kurs rupiah semakin melemah, peristiwa krisis moneter 1988 akan terulang kembali. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di tengah-tengah masyarakat, salah satunya adalah harga bahan makanan pokok yang akan mengalami kenaikan harga sebab meroketnya nilai kurs dollar AS terhadap rupiah ini. 

Karena beberapa bahan kebutuhan pokok diambil dari impor, sedangkan biaya impor akan jadi lebih mahal.

Untuk mengatasi dampak lemahnya kurs rupiah terhadap dollar ini, Bhima dari INDEF menyarankan agar Bank Indonesia segera menaikkan tingkat suku bunga acuannya, yaitu sebesar 25 hingga 50 basis poin, sehingga investasi di dalam negeri menjadi lebih menggiurkan dan hasilnya menahan agar dana asing tidak terus keluar.

Persoalan ekonomi akibat tidak stabilnya nilai tukar yang bergerak fluktuatif telah berlangsung sejak sistem moneter yang diterapkan di dunia ini adalah fiat currency, dimana mata uang kertas tidak ditopang oleh emas untuk dijadikannya sebagai alat tukarnya.

Menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, secara politis langkah yang dilakukan oleh AS untuk menghentikan pengkaitan dollar dengan emas adalah didorong oleh keinginan AS untuk memposisikan dollar sebagai standar moneter internasional hingga menguasai pasar moneter internasional. Oleh sebab itu, standar emas kemudian dianggap tidak lagi dapat dipergunakan di dunia.

Sejak itulah, kurs pertukaran mata uang berfluktuasi, berbagai kesukaran bermunculan dalam mobilitas barang, uang dan orang. Mata uang dunia menjadi tidak stabil. 

Mata uang AS dan seluruh dunia terus bergolak. Gelembung uang terus tumbuh tanpa batas dan membuat ekonomi global menjadi tidak stabil. Krisis finansial saat ini dan sejumlah krisis sebelumnya semakin memperjelas bahwa sistem moneter saat ini yang menggunakan mata uang kertas (fiat money) sangat rapuh dan tidak layak untuk diadopsi.

Inilah penerapan sistem ekonomi kapitalis dengan sistem moneter berbasis fiat money yang menjadikan Indonesia terus berada dalam kubangan utang dan ancaman krisis. 

Penerapan sistem ekonomi kapitalis berikut sistem moneter berbasis sistem fiat money adalah jalan penjajahan politik dan ekonomi negara adidaya atas negeri-negeri yang kaya raya, seperti Indonesia.
Maka sudah saatnya untuk meninggalkan sistem moneter dengan fiat money. 

Hanya penerapan sistem ekonomi Islam dengan sistem moneter berbasis emas perak yg menjamin kedaulatan politik dan ekonomi kaum muslimin.[MO/sr]


Posting Komentar