Oleh : Salma Banin, 
(Anggota komunitas kepenulisan “Pena Langit” Malang)

Mediaoposisi.com-  Tanggal 7 Mei kemarin menjadi satu momen bersejarah bagi umat muslim di Indonesia. Sidang atas gugatan ormas Islam Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) mencapai puncaknya dengan agenda pembacaan hasil putusan majelis hakim yang menangani kasus ini.

Hasilnya mengejutkan, meski selama proses persidangan berlangsung saksi yang pemerintah hadirkan tidak dapat membuktikan keterlibatan HTI pada pelanggaran hukum manapun, namun Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) tetap menolak gugatan ormas tersebut serta menyatakan bahwa pencabutan Badan Hukum Perkumpulan (BHP) milik HTI secara sah dicabut. Atas putusan ini, pihak HTI akan mengajukan banding.

Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar patut berkaca dengan adanya kejadian ini. Islam yang dianut oleh sebagian besar masyarakat disini sedang digoncang dengan pengkotak-kotakan. Khilafah yang senantiasa digaungkan oleh HTI dianggap ancaman bagi eksistensi negara, padahal perkara ini termasuk ke dalam ajaran Islam.

Bagi sesiapa saja yang mempelajarinya, mustahil tidak menemukan kata khilafah dalam perkembangan sejarah Islam dan kaum Muslim selama 14 abad ini. Bahkan khilafah yang dikhawatirkan akan merongrong kekuasaan pemerintahan saat ini, merupakan penolong pertama nusantara saat kolonialisme Eropa mulai sampai ke bumi pertiwi.

Fakta ini tercatat rapi dalam rangkaian sejarah masa kesultanan di Aceh, jauh sebelum Indonesia menyandang status kemerdekaannya.

Dalam perjalanannya, pengetahuan kaum muslim akan sejarahnya mengalami dekadensi yang sangat tajam. Ianya tergerus dan semakin memudar dari ingatan tersebab minimnya kajian-kajian yang membahas terkait itu.

Dari sistem pendidikan sendiri, -yang notabene merupakan sumber informasi utama generasi-, mulai didekatkan pada kerangka berfikir sekulerisme, yakni pemisahan agama dari kehidupan. Hal ini berbahaya, karna Islam tidak mungkin dipisahkan dengan kehidupan manusia.

Justru dengan diturunkannya Islam oleh Allah, peradaban manusia mampu mencapai tingkat kegemilangan yang tidak pernah dimiliki oleh peradaban manapun. Islam sejak diterapkan secara holistik di Madinah, selalu terlibat dalam percaturan dunia. Islam tak pernah luput dalam perbincangan, bahkan hingga hari ini.

Namun bergesernya Islam dari perannya dalam mengatur tata kehidupan menjadikan citranya semakin terpuruk, bahkan wacana untuk membumikan Islam sebagai satu-satunya sumber hukum yang dirujuk, dikriminalisasi sedemikian rupa.

Para penyampai dakwahnya dilabeli radikal, ekstrimis, fundamentalis, konservatif, anti kemajuan, anti Barat, anti NKRI, anti kebhinekaan dan fitnah-fitnah serupa lainnya yang tidak hanya memekakkan telinga namun juga melukai hati.

Sebaliknya, Muslim yang bangga mengikuti tren modernis yang berasal dari peradaban selain Islam lah yang dipuja dan dipuji sebagai manusia berkemajuan. Padahal teknologi canggih yang saat ini menemani kita, sebagian besar ditemukan letak dasar keilmuannya oleh kaum muslim dari Kekhilafahan Abbasiyah.

Masihkah kita akan menutup mata akan peradaban besar yang menjadi bukti posisi Islam sebagai rahmatan lil alamin ketika diterapkan bahkan dalam tatanan negara?

Islam agama spesial, satu-satunya yang mendapat legalisasi melalui Kitab yang terjaga hingga akhir zaman. Tak ada satupun orang yang berani mengklaim bahwa Alquran yang ada sekarang berbeda dengan pertama kali diturunkannya.

Ayat-ayat Alquran bersifat tetap dan baku, diutusnya Rasul sebagai pembawanya menjadi contoh riil yang dapat langsung ditiru bahkan perkara-perkara yang beliau saw. diamkan.

Cara Muhammad saw. menangani dan menyelesaikan masalah keumatan bukanlah pilihan yang mau atau tidak diambilnya menjadi perdebatan atau bahan untuk dimusyawarahkan. Melainkan harus dijadikan rujukan yang diyakini akan memberikan keberkahan. Inilah dasar dari keimanan itu sendiri.

Penyerahan total akan diri untuk diatur berdasar sistem Sang Pencipta, penghambaan diri seluruhnya hanya bagi kemuliaan agama ini adalah tujuan utama kita dilahirkan ke dunia.

Bagaimana menjalankannya adalah suatu hal yang tak bisa ditafsirkan sendiri, harus merujuk kepada ulama mu’tabar yang jauh dari hiruk pikuk pemikiran barat yang telah mencampuri khazanah ilmu keislaman saat ini, utamanya yang kental dengan ide liberal-sekuler.

Islam hari ini sedang diuji, akankah senantiasa mensucikan ajarannya, atau ikut terbawa dengan stigma dari kaum yang bahkan mengakui Ketuhanan Allah saja tidak. Umat Islam perlu meniti kembali jalan yang ditorehkan Nabinya dan Khalifah-khalifah sesudahnya, diskusi membahasnya tak patut dilarang apalagi dikriminalkan.

Jika memang ketakutan akan arus kebangkitan Islam yang menjadi dasar, mestinya mereka sadar, bahwa Islam pasti dimenangkan, meski ada saja orang-orang yang tidak menyukainya.[MO/sr]

Posting Komentar