Revolusi| Mediaoposisi.com- Dilarang, makin menjulang. Ditolak, kian memuncak. Itulah khilafah.  Beberapa waktu lalu, khilafah dianggap ide utopis, mimpi, tidak membumi. Hari ini, gaungnya telah memenuhi ibu pertiwi. Memasuki rumah – rumah umat dari segala sisi. Hingga tak ada lagi yang tak mengetahui.

Khilafah. Menggetarkan hati orang beriman. Menggentarkan nyali para pengemban mulkan jabbariyyan. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menghadang bangkit dan berdirinya. 

Di negeri ini, penentangan terhadap khilafah mencapai puncaknya kala rezim bertekad membubarkan HTI. Sebuah gerakan Islam yang konsen pada upaya melanjutkan kehidupan Islam berwasilah tegaknya khilafah islamiyyah. 

Dasar pemerintah membubarkan HTI karena kegiatannya dianggap berpotensi mengancam kedaulatan politik negara.  Pemerintah pun menuding HTI melanggar pasal 59 ayat (3) dan (4) Perppu No.2 Tahun 2017 yakni meyakini, mengembangkan dan menyebarkan paham yang bertentangan dengan Pancasila. Paham yang dimaksud tentu khilafah. Pelakunya dikenakan sanksi pidana berupa hukuman penjara hingga 20 tahun.

Persidangan Tata Usaha Negara dalam rangka mengadili gugatan HTI terhadap pencabutan status Badan Hukum Perkumpulan (BHP) HTI pun berubah seolah persidangan di pengadilan negeri. Ajaran Islam seperti larangan memilih pemimpin kafir, larangan mengangkat pemimpin wanita, termasuk kewajiban menegakkan khilafah, diadili berdasarkan hukum manusia yang penuh hawa nafsu dan kepandiran. Hukum Islam dikalahkan. Pun disalahkan. 

Hari ini, rezim mengkategorikan khilafah sebagai ajaran terlarang. Mereka membangun wacana bahwa khilafah bukanlah ajaran Islam. Khilafah adalah ajaran HTI.

Memperjuangkan khilafah di Indonesia hukumnya haram. Mereka katakan bila khilafah diperjuangkan di Indonesia akan mendatangkan mafsadat ( keburukan ). 

Baca Juga : Rubuhnya Ekonomi Kami

Bahkan sebagian berhalusinasi jika khilafah diperjuangkan atau tegak di Indonesia akan seperti ISIS atau menimbulkan konflik ala Suriah. Yang paling konyol adalah upaya vulgar pengaitan khilafah dengan terorisme. Ide khilafah dituduh mnginspirasi tindakan terorisme.
Benarkah ?

Khilafah Bukan Ancaman

Tudingan bahwa syariah dan khilafah adalah ancaman merupakan penyesatan politik dan upaya memalingkan umat dari ancaman sejati. Saat ini umat Islam dihadapkan dengan ghazwul fikri ( perang pemikiran ) yang dilancarkan oleh kaum kuffar Barat. Di antaranya propaganda negatif terhadap ideologi maupun ajaran islam.

Perang peradaban antara Barat dan Islam adalah sebuah keniscayaan. Sebagaimana ditulis oleh Huntington dalam bukunya, The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order ( 1996 ). 

Khilafah adalah entitas politik penerap syariah Islam secara menyeluruh dalam semua aspek kehidupan. Melalui khilafah inilah ideologi Islam akan eksis, baik secara politis dan praktis. Dalam kacamata perang peradaban, tentu keberadaan khilafah sangat tidak diinginkan oleh Barat dan sekutunya. 

Mereka akan menghadang setiap upaya yang mengantarkan pada tegaknya syariah Islam dalam institusi khilafah. Salah satu caranya adalah mengkriminalisasi syariah dan khilafah dengan cara monsterisasi, labelisasi dan stigmatisasi. 

Padahal saat ini ancaman umat sesungguhnya adalah ideologi kapitalisme sekuler. Faktanya, hasil penerapan ideologi ini telah terbukti mengantarkan rakyat pada kesengsaraan di semua lini kehidupan. Krisis kesejahteraan, kebejatan moral, kebobrokan politik, adalah sekian dari permasalahan yang ditimbulkan.

Khilafah : Ukhuwah, Syariah, Dakwah

Aneh, jika ada dari umat Islam yang menolak bahkan menentang ide khilafah. Karena khilafah adalah ajaran Islam serta kewajiban syar’i untuk mewujudkannya. Bahkan para ulama menyebut kewajiban menegakkan khilafah sebagai taj al furudh ( mahkota kewajiban ).

Sebagaimana dijelaskan oleh ulama ( Abdul Qadim Zallum, Nidzam al Hukmi fi al Islam, 2002 : 34 ), khilafah ialah kepemimpinan umum atas seluruh kaum Muslim di dunia untuk menegakkan hukum atau syariah Islam dan mengemban dakwah ke seluruh dunia. 

Berdasar definisi ini, ada tiga esensi khilafah. Pertama, mewujudkan ukhuwah. Dengan khilafah akan terwujud ukhuwah umat Islam secara riil dalam kehidupan. Umat Islam berlandaskan aqidah dan syariah yang sama. Rasulullah SAW menggambarkannya ibarat satu tubuh. Jika ada bagian yang sakit, seluruh tubuh akan ikut merasa sakit. Ukhuwah yang kuat akan terwujud nyata manakala ada yang menyatukan umat dalam satu negara yakni khilafah.

Kedua, melaksanakan syariah. Tugas utama khilafah adalah menerapkan hukum syariah Islam. Memang ada sebagian hukum syariah yang dapat dan harus dijalankan oleh individu. Namun, tak sedikit hukum syariah yang hanya bisa dijalankan oleh negara. 

Sehingga esensi khilafah adalah penegakan syariah secara kaaffah. Ketika ini terjadi, Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin akan terwujud dalam kehidupan ( Q.S. Al Anbiya’ : 107 ).

Kerahmatan Islam yang telah dijanjikan Allah SWT akan terwujud melalui penerapan syariah di bawah naungan sistem khilafah. Khilafah akan membawa kebaikan bagi negeri tersebut dan penduduknya, Muslim dan non Muslim.

Kedua, mengemban dakwah. Tugas khilafah lainnya adalah mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Melalui khilafah, Islam dapat tersebar luas di berbagai penjuru dunia dengan massif. Sejarah telah membuktikan realitas tersebut. 

Selama 13 tahun Rasulullah SAW berdakwah di Makkah, hanya sedikit penduduk yang berislam. Namun, setelah beliau hijrah ke Madinah dan berhasil membangun daulah Islam, seluruh jazirah Arab bisa dikuasai dan penduduknya berbondong-bondong masuk Islam. 

Tugas mengemban dakwah Islam dilanjutkan oleh para khalifah setelah Rasulullah SAW. Berkat dakwah mereka, Islam tersebar luas di dunia termasuk sampai di negeri ini. Sebagian dari para ulama yang disebut Walisongo adalah utusan khalifah yang dikirim untuk berdakwah ke negeri ini. 

Kesultanan Samudera Pasai, Mataram, Cirebon, Banten, Demak, serta kesultanan lainnya di kawasan Kalimantan, Sulawesi dan Maluku adalah bukti bahwa dakwah Islam melalui khilafah telah mempengaruhi perkembangan sosial politik di negeri ini. 

Tiga esensi khilafah tersebut akan memberikan kebaikan dan berkah bagi dunia termasuk Indonesia. Tanpa khilafah, saat ini dunia justru menderita dalam cengkeraman ketamakan kapitalisme global.[MO/ps]

Posting Komentar