Oleh : Ary H

Mediaoposisi.com-  Sejatinya, setiap mukmin berharap puasanya dapat menghapus dosa-dosanya yang telah lalu. Sehingga sebakda sebulan Ramadhan, ia kembali putih bersih dalam kesucian laksana bayi yang baru lahir serta menjadi pemenang yang sebenarnya.

Hal demikian terjadi saat puasa mampu menghapus dosa-dosa. Karena Rasulullah Saw pernah bersabda,

"Barangsiapa yang shaum Ramadhan karena iman dan mengharap perhitungan Allah semata maka niscaya akan diampuni dosanya yang telah lalu." (THR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a.)

Kabar gembira tentang fadhilah shaum ini seringkali kita dengar, dan tentunya memberikan harapan yang besar kepada kita akan terhapusnya dosa-dosa yang telah lalu.

Akan tetapi tak sedikit yang salah kaprah. Hadits keutamaan Ramadhan ini malah dijadikan alat untuk men-sekulerisasi umat Islam.

Mendekatkan umat Islam pada agamanya di bulan Ramadhan, namun menjauhkannya pada bulan-bulan lainnya. Mendekatkan umat Islam pada ritual ibadah, namun menjauhkannya dari selainnya. Karena seluruh dosa akan terhapus oleh shaum Ramadhannya. Shaum pun laksana steam washing yang akan membersihkan setiap dosa.

Padahal kita pun mesti introspeksi diri. Tak hanya shaum Ramadhan yang bisa menghapus dosa, ada pula dosa-dosa yang bisa menghapuskan pahala shaum hingga hilang tak bersisa. Bahkan, dosa-dosa itu pun bisa menimpakan dosa orang lain terhadap pelakunya.

Dalam hadits lain Rasulullah Saw bersabda,

Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta/barang.”

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang dengan membawa dosa kedzaliman. Ia pernah mencerca si ini, menuduh tanpa bukti terhadap si itu, memakan harta si anu, menumpahkan darah orang ini dan memukul orang itu. Maka sebagai tebusan atas kedzalimannya tersebut, diberikanlah di antara kebaikannya kepada si ini, si anu dan si itu. Hingga apabila kebaikannya telah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang didzaliminya sementara belum semua kedzalimannya tertebus, diambillah kejelekan/ kesalahan yang dimiliki oleh orang yang didzaliminya lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.” (THR Muslim)

Cacian dan tuduhan terhadap orang lain tanpa bukti semisal kriminalisasi, framing, hoax dan fitnah akan menemukan keadilannya. Jika satu orang yang menjadi korbannya, satu orang itu yang akan menuntut pelakunya kelak.

Apalagi jika kriminalisasi, framing dan fitnah itu dilakukan terhadap umat Islam, seluruh umat Islam yang menjadi korbannya akan menuntut pelakunya di Akhirat kelak.

Begitu pula dengan memakan harta orang lain. Tentu bisa dibayangkan jika harta zakat, titipan tabungan haji, serta dana rakyat lainnya lagi yang menjadi objek eksploitasinya dan korupsinya.

Niscaya, jutaan orang akan menuntutnya di Akhirat kelak. Dan semua itu sangat mudah bagi Allah Swt untuk mengadilinya, karena Allah Maha Cepat dalam menghisab.

Apalagi hingga memukul, menganiaya dan menumpahkan darah orang lain tanpa hak semisal persekusi terhadap para aktivis dakwah, penangkapan hingga ekstra judicial killing.

Semuanya bisa menyeret para pelakunya menjadi orang-orang yang bangkrut di akhirat kelak, karena amalan-amalannya habis dituntut orang-orang yang telah dizaliminya. Bahkan berbukit pahala itu berganti tanggungan dosa orang yang dizalimi, dan pelaku kezaliman pun akan dicampakkan ke neraka.

Tuan, orang yang membawa berbukit pahala ibadah saja bisa hilang tak bersisa, apalagi jika ahli maksiat yang justru membawa berbukit dosa. Sungguh kita berlindung kepada Allah dari keburukan amal-amal kita. Semoga keimanan kita menumbuhkan ketaatan dan menjauhkan kita dari perbuatan yang zalim. Aamiin.

Jika pengadilan di dunia bisa direkayasa, yakinlah bahwa pengadilan Akhirat tidak akan pernah bisa.[MO/sr]



Posting Komentar