Oleh : Ooy Sumini

Mediaoposisi.com-  Polisi memastikan tiga korban tewas dalam insiden ledakan di rusunawa Wonocolo Sidoarjo Jawa Timur. Dari hasil penyelidikan mereka diketahui merupakan satu keluarga. "Tiga orang tewas di rusun, mereka bapak, anak dan istri", kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Frans Barung Mangera kepada wartawan Senin (14/518).
Sebelumnya terjadi aksi terorisme di Mako Brimob, aksi bom bunuh diri di tiga gereja Surabaya. Kemudian yang di Sidoarjo itu dan lain-lain. Tentunya ini bukan yang pertama di Indonesia. Serangan Jakarta 2016 yang merupakan serentetan peristiwa berupa sedikitnya enam ledakan dan juga penembakan di daerah sekitar Plaza Sarinah jalan MH Thamrin Jakarta Pusat. Memang sudah kerap kali Indonesia mengalami serangkaian aksi terorisme yang menewaskan lebih dari seratusan orang.
Respons dari para tokoh pun beragam, Ketua DPP Bidang Hubungan Antar Daerah dan Otonomi Daerah Partai Nasdem, Syahrul Yasin Limpo, mengaku sedih sekaligus marah atas serangkaian aksi di Surabaya. Dia menuturkan, negara sudah tidak bisa lagi menggunakan pendekatan lunak pada teroris (Liputan6 14/5/18). Senada dengan hal tersebut, mantan kepala BIN AM Hendropriyono menyebutkan, bahwa teroris merupakan musuh bersama. Dia dapat menyasar siapa saja, tak terkecuali anak-anak yang tidak berdosa.
Aksi terorisme sungguh sangat menyedihkan. Siapa pun pelaku dan apa motivasinya, peristiwa ini harus ditolak. Tindakan keji ini bertentangan sama sekali dengan ajaran Islam. Sangat jelas, syariah Islam melarang dengan tegas mengganggu ibadah dan merusak tempat ibadah agama lain, apalagi sampai melukai dan membunuh orang di situ.
Kita semua sepakat mengutuk keras pelaku bom bunuh diri sebagai tindakan keji yang bertentangan dengan Islam dan menyerukan kepada pihak berwenang untuk segera mengusut tuntas siapa pelaku dan apa motivasinya. Hanya dengan cara ini, spekulasi berkaitan dengan peristiwa bom itu bisa segera diakhiri.
Sayangnya, aksi teror bom ini kembali dikaitkan dengan Islam. Kembali memojokkan agama dengan jumlah penganut paling besar di Indonesia ini. Isu teroris dari dulu memang selalu digunakan sebagai alat untuk menyudutkan perjuangan penerapan syariah Islam. Gelagatnya, isu teror kali ini mengarah kepada upaya untuk menggolkan UU Terorisme yang akan melegitimasi timdakan refresif oknum-oknum tertentu dalam tataran penguasa.
Ketika merespons ledakan bom di tiga gereja di Surabaya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian meminta pemerintah segera menuntaskan revisi UU Terorisme atau membentuk peraturan pemerintah pengganti UU (perppu) antiterorisme. Sebelumnya, menteri pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu juga meminta hal yang sama menyusul aksi teror di Mako Brimob. Bahkan beliau mendukung penuh keterlibatan TNI dalam memberantas Terorisme di Indonesia, dalam revisi UU tersebut.
Upaya pengaitan terorisme dengan ajaran Islam (khilafah) adalah kejahatan. Karena hal itu merupakan upaya kriminalisasi dan monsterisasi ajaran khilafah yang merupakan bagian dari syariah Islam.
Bagaimana mungkin Muslim menganggap ajaran khilafah yang bersumber dari Allah SWT, yang akan menerapkan seluruh syariah Islam yang rahmatan lil 'alamin, yang akan mempersatukan umat, yang akan melindungi Islam dan kaum Muslim dianggap sebagai suatu perkara yang buruk? Padahal ajaran Islam itu hanya disampaikan lewat dakwah. Dakwah tanpa kekerasan.
Semua kejadian itu sekaligus membuktikan kesekian kalinya bahwa selama negeri ini diatur dengan sistem selain Islam, umat akan terus menjadi sasaran. Hal itu menegaskan pentingnya umat Islam untuk bersegera turut dalam dakwah perjuangan untuk menerapkan syariah Islamiyah dalam negara.[MO/sr]



Posting Komentar