Revolusi| Mediaoposisi.com- Bulan Mei disebut sebagai bulan pendidikan, tepatnya pada tanggal 2 mei dinobatkan sebagai HARDIKNAS (Hari Pendidikan Nasional). Bahkan pada tanggal 2 Mei 2018 ini akan diperingati hari pendidikan Nasional yang berbeda karena akan dirayakan selama sepekan penuh.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan kementeriannya berupaya memulai tradisi baru peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), yang jatuh pada 2 Mei pada tahun ini.

"Mulai tahun ini, kami memperkenalkan tradisi baru yaitu peringatan Hardiknas dilakukan secara serentak di seluruh Indonesia selama sepekan penuh," ujar Muhadjir di Jakarta, pada Minggu (22/4/2018) seperti dikutip Antara.

Selain itu tema yang diusung dalam peringatan Hardiknas ini pun berbeda dengan tahun - tahun sebelumnya, kali ini Mendikbud memperingati Hardiknas dengan mengangkat tema “Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan”.

Salah satu rangkaian acara yang diselenggarakan dalam peringatan Hardiknas adalah Nobar Film Dilan, "Kami juga menyelenggarakan pemutaran film dalam negeri khususnya hasil karya para kawula muda," Muhajir  menambahkan. Pemutaran film dilakukan secara serentak di 34 provinsi dengan tujuan memberi penghargaan terhadap karya kreatif anak bangsa. Film yang dipilih adalah yang bermuatan pesan-pesan pendidikan. Antara 22/4/2018

Wajah Muram Pendidikan
Sulit dicari korelasi antara tema yang diusung sebagai harapan dan cita - cita pendidikan yaitu menguatkan pendidikan dan kebudayaan dengan acara nonton bareng film Dilan. Jika didetili dalam kacamata orang awam saja banyak masyarakat yang sudah memahami dan mengkritisi bahayanya film Dilan untuk generasi remaja, apalagi jika di lihat dari kacamata pendidikan. Dimana letak prestasinya dan sumbangsihnya untuk dunia pendidikan?

Saat ini masih banyak PR untuk para pemangku kekuasaan terutama yang bergerak langsung dibidang pendidikan, dari pada sekedar nobar. Wajah pendidikan yang demikian pelik apalagi tahun ini dunia pendidikan sedang berduka.

Akun Instagram Mendikbudpun dibanjiri keluhan - keluhan peserta UN yang menumpahkan kekesalannya akibat soal UN yang sulit dan dianggap tidak sesuai dengan cakupan materi yang disimulasi UN. Menanggapi hal tersebut Mendikbud menyatakan permintaan maafnya disertai alasan yang melatarbelakangi sulitnya soal UN yang di keluarkan.

Karena sesuai hasil Programme for International Student Assessment PISA), kita sangat rendah. Ketika PISA rendah, kami (Kemdikbud) disalahkan, tapi ketika kami menaikkan standar membuat siswa sulit, kami juga salah. Tapi saya rasa kita terus mendorong anak-anak kita semakin berkualitas dengan meningkatkan standar ujian nasional kita," jelas Muhadjir. Rendahnya kwalitas pendidikan dijadikan sebagai alasan dalam mempersulit soal ujian.

Ini hanya dari satu sisi, belum lagi sisi yang lain dari pendidikan Indonesia yang mengiris hati. Dalam perjalanannya dunia pendidikan di Indonesia tidak pernah sejalan dengan amanat undang - undang dan cita - cita kemerdekaan. Karena pada faktanya carut marut pendidikan di Indonesia masih mendominasi. Munculnya kebijakan studen leon yang menunjukan kapitalisasi pendidikan dan lepasnya peran pemerintah dalam tanggung jawab mewujudkan pendidikan untuk warganya.

Kurikulum pendidikan yang belum mampu menghasilkan output yang berkelas, pelajarpun mengalami dekadensi moral yang sangat parah. Kekerasan, pergaulan bebas, Miras, dan segudang masalah masih mendera peserta didik, banyak anak negeri yang memiliki potensi tapi karena kurang fasilitas akhirnya tak mampu mengembangkan potensinya.

Itulah sekilah wajah muram pendidikan di Indonesia, yang saat ini dengan cita - citanya Mendikbud hendak meningkatkan pendidikan dengan cara meningkatkan taraf kesulitan dalam soal UN, efektifkah?

Standar Pendidikan dalam Islam
Setidaknya ada beberapa elemen yang terkait dengan dunia pendidkan untuk menghasilkan output yang berkwalitas. Yang pertama, tentu saja kurikulum, kurikulum ini yang akan menjadi landasan dalam menentukan arah pendidikan.

Dalam Islam kurikulum dibentuk untuk mewujudkan peserta didik yang memiliki kepribadian Islam, sehingga pondasi akidah menjadi yang utama. Ketika peserta didik sudah memiliki pondasi yang kuat maka memupuknya dengan berbagai pengetahuan, keahlian dan keilmuan akan menjadikannya manusia yang berkwalitas.

Tentu perjalanan ini tidak akan berjalan lancar tanpa ditunjang oleh aspek yang kedua, yaitu pengajar. Pengajar tentu memiliki peranan besar dalam membentuk pola fikir dan pola sikap peserta didiknya, hasil gemblengan seorang guru yang kharismatik akan melahirkan peserta didik yang hebat.
yang ketiga, adalah metode pengajaran,

Sebaik apapun ilmu atau konsep jika disampaikan tidak dengan cara yang benar maka tidak akan mampu mengubah pandangan apapun. Sehingga metode pengajaran ini harus metode yang membekas, yang mampu mengubah pola fikir dan sudut pandang bukan hanya sekedar transfer Ilmu.

Keempat, yang memberikan peran besar juga dalam mengahasilkan pendidikan yang berkwalitas adalah fasilitas, sebagus apapun kurikulum, sehebat apapun pengajar dan sebaik apapun metode pengajaran tanpa didukung oleh fasilitas yang memadai maka hasilnya tidak maksimal.

Hal ini bisa dilihat di beberapa kasus anak negeri yang berprestasi, misal anak aceh yang mampu menjadikan pohon kedondong sebagai tenaga listrik alternatif atau mobil smk, semua karya anak negeri tersebut tidak pernah mendapatkan fasilitas yang memadai sehingga harus berakhir dramatis.

Padahal ketika kemampuan tersebut didukung dengan kemudahan fasilitas maka akan sangat berguna dalam memajukan negeri, seperti yang pernah terjadi di masa - masa kejayaan Islam.

Yang terakhir keenam, adalah kebijakan penguasa, ini yang sangat menentukan. Ketika penguasa menerapkan sistem kapitalis maka arah kebijakanpun berbasis kapital, siapa yang memiliki modal dia yang bisa mendapatkan dan mengenyam pendidikan.

Bagi orang yang memiliki uang jenjang pendidikan sampai manapun bisa didapatkan dengan berbagai kemudahan fasilitas bisa dia nikmati, tak perlu berjuang belajar untuk mendapatkan nilai terbaik, cukup menjadi donatur di sekolah dia bisa mendapatkan segalanya.

Hanya saja output dari sistem pendidikan ini adalah orang - orang yang minim prestasi  karena baginya semua bisa dia beli. Sistem pendidikan seperti ini tidak akan mampu mengahasilkan peningkatan pendidikan justru akan menciptakan kerapuhan SDM yang dihasilkan,
Berbeda ketika sistem kebijakan yang diterapkan adalah sistem kebijakan Islam.

Maka mewujudkan pendidikan bagi seluruh warganya (kaya ataupun miskin) adalah kewajiban negara dalam kondisi apapun. Negara akan senantiasa berupaya supaya terlaksananya pendidikan, ini terlihat dalam sejarah di masa Rasululloh fokus kebijakan dalam masalah pendidikan sudah dicontohkan.

Pada mula berdirinya negara Islam di Madinah ketika kas negara belum punya cukup harta untuk membayar guru maka Rasululloh menetapkan kebijakan membebaskan tawanan perang dengan syarat mau memberi pengajaran kepada masyarakat Madinah.

Kisah serupa pun bisa di lihat di masa Umar bin Khottob, demi mewujudkan pendidikan berkwalitas Umar membayar tenaga pengajar dengan upah yang sangat mahal. Tentu dari semua kebijakan yang luarbiasa tadi dimana negara Islam senantiasa memberikan porsi besar bagi pendidikan sehingga yang di hasilkannyapun peradaban yang gemilang.

Itu semua hanya bisa terwujud ketika Islam yang menjadi landasan. Sistem pendidikan Islam akan mampu melahirkan peserta didik yang berkepribadian Islam, yang terwujud dalam sosok manusia yang beriman dan menghiasi dirinya dengan berbagai keahlian yang kelak akan dia sumbangkan untuk kemajuan negara dan agamanya.[MO/sr]

Posting Komentar