Oleh : Meltalia

Mediaoposisi.com- Ramadhan bulan yang selalu dinantikan kedatangannya akan segera bertamu kembali. Hanya beberapa hari lagi kita akan menyambutnya. 

Ditengah kita sedang bersuka cita menyambut kedatangan bulan suci nan mulia ini, namun kita sepertinya harus menerima kado pahit dengan terjadinya aksi teror bom di Surabaya yang menimbulkan korban jiwa dan luka-luka, rusaknya sarana dan prasarana rumah ibadah dan fasilitas lainnya.

Lagi-lagi aksi teror bom ini diduga pelakunya berasal dari umat Islam. Begitulah tuduhannya. Sungguh ini membuat hati teriris, karena lagi-lagi Agamaku dengan ajarannya yang menjadi kambing hitam dari mereka yang tak bertanggung jawab menebar fitnah dan ketakutan ditengah-tengah masyarakat. Padahal menebar ketakutan ini dilarang dalam Islam. 

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw :

Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain.” (Shahih Sunan Abi Dawud)

Entah apa yang diingini pelaku. Apakah mereka korban dari ajaran yang jelas-jelas tidak berasal dari Islam? Karena Islam tidak mengajarkan kekerasan apalagi sampai menghilangkan nyawa seseorang. 

Allah berfirman :

Barangsiapa yang membunuh seorang manusia bukan karena orang itu (membunuh) orang lain atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. ”(QS. Al Maidah: 32).

Selain itu, beredar juga berita menuding Ormas Islam dan ajaran Islam Khilafah dibalik pengeboman dengan motif kalah di PTUN Jakarta. Bagaimana mau melakukan aksi pengeboman, sementara mereka sujud syukur setelah putusan gugatan mereka ditolak di PTUN.

Tudingan terorisme ini gerakan yang menginginkan Islam kaffah dan Khilafah. Bagaimana dituding teroris sementara yang mereka inginkan Islam kaffah yang diterapkan dalam daulah Khilafah tidak pernah menebar teror baik dikalangan kaum muslim sendiri maupun dikalangan nasrani dan yahudi.

Tercatat dalam sejarah bahwa selama belasan abad masa kekhilafahan islam, umat yahudi dan nasrani hidup damai di dalamnya.

Islam memang tegas terhadap kafir harbi, kafir yang nyata-nyata memusuhi Islam. Sementara terhadap kafir dzimmi, yaitu orang-orang kafir yang terikat perjanjian dengan negara Khilafah,mereka semua berhak memperoleh perlakuan yang sama. 

Tidak boleh ada diskriminasi antara Muslim dan dzimmi. Negara harus menjaga dan melindungi keyakinan, kehormatan, jiwa, akal, kehidupan, dan harta benda mereka sesuai perintah syariat.

Kedudukan ahlu dzimmah ini diterangkan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya:

Barangsiapa membunuh seorang mu’ahid (kafir yang mendapatkan jaminan keamanan) tanpa alasan yang haq, maka ia tidak akan mencium wangi surga, bahkan dari jarak empat puluh tahun perjalanan sekali pun”. (HR. Ahmad)

T.W. Arnold, dalam bukunya The Preaching of Islam, menuliskan bagaimana perlakuan yang diterima oleh non-Muslim yang hidup di bawah pemerintahan Daulah Utsmaniyah. 

Dia menyatakan, “Sekalipun jumlah orang Yunani lebih banyak dari jumlah orang Turki di berbagai provinsi Khilafah yang ada di bagian Eropa, toleransi keagamaan diberikan pada mereka, dan perlindungan jiwa dan harta yang mereka dapatkan membuat mereka mengakui kepemimpinan Sultan atas seluruh umat Kristen”.

Arnold kemudian menjelaskan; “Perlakuan pada warga Kristen oleh pemerintahan Ottoman -selama kurang lebih dua abad setelah penaklukkan Yunani- telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa. 

Kaum Kalvinis Hungaria dan Transilvania, serta negara Unitaris (kesatuan) yang kemudian menggantikan kedua negara tersebut juga lebih suka tunduk pada pemerintahan Turki daripada berada di bawah pemerintahan Hapsburg yang fanatik; 

kaum protestan Silesia pun sangat menghormati pemerintah Turki, dan bersedia membayar kemerdekaan mereka dengan tunduk pada hukum Islam… kaum Cossack yang merupakan penganut kepercayaan kuno dan selalu ditindas oleh Gereja Rusia, menghirup suasana toleransi dengan kaum Kristen di bawah pemerintahan Sultan.”

Bagaiamana mungkin mereka yang memperjuangkan Islam kaffah dan Khilafah dikaitkan bahkan dikatakan pelaku dibalik pengeboman. Perlu diingat jangan mengaitkan kejadian teror/bom dengan agama apapun, karena teroris itu tidak beragama dan sangat bertentangan dengan ajaran Islam.[MO/sr]


Posting Komentar