Oleh : Mia Tw
(Pemerhati generasi dan aktivis dakwah)

Mediaoposisi.com-  Penikmat sosial media tentu mengetahui 2 orang muslimah bercadar dan 1 orang laki-laki yang sedang melakukan sosial experiment di kawasan Jakarta Selatan sembari membawa text bertuliskan " Peluk saya jika anda merasa aman". Jika ada yang belum menonton, maka silahkan berselancar dan tonton sampai habis.

Diluar dugaan video tersebut menjadi viral dan respon masyarakat beragam. Endingnya video tersebut sukses mengaduk-aduk perasaan dan memaksa air mata keluar.

Adapun video sosial ekspreiment yang dibagikan sejak Sabtu (19/05/2018) atau sekitar 17 jam diunggah lalu dibagikan itu, sudah tayang, dan telah dibagikan sebanyak 160.976 kali. (http://bangka.tribunnews.com/amp/2018/05/19/video-sosial-eksperimen-seorang-pria-dan-dua-wanita-bercadar-jadi-viral-pesannya-bikin-adem?page=2 )

Pertama kali melihat video tersebut yang muncul dalam pikiran adalah melalui video tersebut banyak pesan tersirat yang sesungguhnya hendak disampaikan kepada kita semua. Apa itu?

Selepas tragedi pengeboman beruntun di Surabaya berita mengenai teroris di blow-up habis-habisan. Media mainstream tak mau turut ketinggalan memasang headline berita bom Surabaya di laman dan portal media mereka. Pembahasan mengenai teroris memakan durasi cukup lama.

Teroris dilakukan oleh seorang muslim, berjilbab, berjenggot serta embel-embel Islam lainnya sebagai pelaku bom bunuh diri. Bahkan orang yang hanya membawa tas ransel bisa saja dicurigai. Siapapun akan langsung dituduh dan dicurigai jika memiliki ciri-ciri seperti yang disebutkan tadi. Ini jelas tidak lucu.

Ini hanyalah ketakutan pada sebuah asumsi yang sama sekali tidak berdasar. Ketakutan akan gelombang kebangkitan pemikiran umat Islam yang semakin hari sadar politik. Bahwa penguasa selalu mempertontonkan ketidakadilan secara berulang-ulang. Sehingga orang-orang yang bergerak dalam aktivitas politik yaitu Islam sebagai pondasinya. Dikatakan akar radikalisme.

Umat yang sudah terlanjur salah mendapatkan informasi  akan mentah-mentah percaya fanatik pada agama (Islam) menyebabkan lahirnya kader-kader teroris.

Bisa ditebak pola seperti yang diinginkan oleh orang-orang yang memiliki ketakutan tersendiri terhadap derasnya opini Islam. Menciptakan phobia akut bagi pemeluk agamanya sendiri, khususnya umat Islam. Menggiring umat pada Islam moderat, menghilangkan identitas keislaman dengan modernitas. Sehingga umat akan menjauhi agamanya sendiri karena perasaan takut dan khawatir dilabeli teroris, ekstrimis, fanatik dan radikal.

Patut disayangkan di negeri mayoritas muslim umat justru mencurigai agamanya sendiri. Sangat tak masuk akal. Kriminalisasi terhadap cadar, jenggot, celana cingkrang dan simbol-simbol Islam lainnya dinilai sebagai ancaman.

Phobia akut berkepanjangan seperti ini tidak bisa terus dibiarkan. Umat mesti segera disadarkan bahwa Islamphobia adalah salah satu upaya dan langkah musuh-musuh Islam untuk menganulir gerakan-gerakan dakwah di Indonesia. [MO/sr]


Posting Komentar