Oleh: Alif Shaleha

Mediaoposisi.com-  Presiden Joko Widodo menyatakan ideologi terorisme sudah masuk ke sekolah. Oleh karena itu dia menekankan pentingnya soft power atau pendekatan lunak di samping hard power dalam mencegah aksi teror.

Menurut Jokowi, bukan hanya dengan memperkuat program deradikalisasi kepada mantan napi teroris, tetapi juga memperhatikan lembaga-lembaga pendidikan mulai dari TK, SD, SMP, SMA, SMK, Perguruan Tinggi, dan ruang-ruang publik, mimbar-mimbar umum dari ajaran-ajaran ideologi terorisme. (cnn.indonesia)

Ideologi Teroris Versi Siapa?

Seolah tak cukup dengan mengkriminalkan para ulama, mempersekusi Islam dan dakwahnya, serta menuduh pesantren sebagai sarang cikal bakal radikalisme. Sasaran lain tuduhan radikal ditujukan kepada pihak kampus dengan mahasiswa dan dosennya. Sekolah dengan rohisnya, juga parpol dan ormas Islam dengan para aktivisnya.

Kini tudingan itu makin membabibuta dengan menyasar keluarga dengan perempuan dan anak-anaknya. Homeschooling menjadi sasaran selanjutnya, mendapat tuduhan sebagai sarang teroris. Hal ini membuktikan bahwa rezim saat ini sedang menderita penyakit akut bernama Islamophobia.

Pasalnya ideologi teroris yang dimaksud rezim ini adalah paham Islam yang dianggap “radikal” oleh mereka. Radikal dalam versi pemerintah yang jelas menyimpang dari definisi radikal menurut syara’. Semua yang berasal dari ajaran Islam, jika hal itu bertentangan dengan paham rezim ini, maka dianggap radikal. Cikal bakal teroris.

Ketakutan rezim terhadap ajaran Islam telah membutakan mata hatinya bahwa akar masalah sesungguhnya bukanlah paham Islam. Mereka telah menutup mata hatinya akan kebenaran wahyu yang dibawa Nabi Muhammad yang dilanjutkan oleh para Ulama sebagai pewarisnya. Sehingga segala hal yang berbau Islam patut untuk diwaspadai dan diawasi.

Islamophobia telah menyeret rezim ini dari kebenaran Islam. Menutupinya dengan keyakinan akan kesempurnaan ideologi kapitalis sekuler yang menjadi cikal bakal dan sumber masalah yang terjadi di negeri ini. Mereka tidak sadar bahwa penerapan sistem kapitalislah biang kerok dari segala kerusakan dan ketidakadilan. Keserakahan terhadap kekuasaan, keinginan untuk menggenggam dunia menjadi noktah hitam yang menutupi hatinya. Hingga mengeras bagai batu, dan akhirnya mati.

Cahaya Islam yang menawarkan kedamaian dan kesejahteraan tak mampu menembus benteng kokoh yang telah dibangun dalam dada-dada para penguasa. Silaunya dunia lebih diprioritaskan daripada kesejahteraan umatnya. Tak peduli meski rakyat jadi korban keserakahannya. Tak peduli meski nyawa tak berdosa harus sirna. Darah suci berceceran untuk memperjuangkan haknya sebagai warga negara dan hamba Allah. Sekali lagi, tidak peduli!

Padahal jelas di depan mata, kapitalisme telah menyebabkan kerusakan. Kapitalisme juga penyebab hutang negara makin menggunung. Aset negara hilang. Negara terjajah dan dikuasai asing dan aseng. Jelas fakta kerusakan disebabkan penerapan aturan yang tidak pro rakyat. Aturan yang lahir dari ideologi rusak bernama kapitalime.

Islam Menawarkan Kesempurnaan

Islamophosia ibarat penyakit yang menjangkiti umat. Semua lapisan masyarakat telah terinveksi virus ini. Maka satu-satunya jalan untuk menyembuhkannya adalah dengan memberikan antibiotik keimanan akan ke-Mahabesaran Sang Maha Pencipta.

Ketakutan yang diciptakan rezim ini sungguh mengerikan. Umat Islam bahkan takut dengan agama yang dianutnya sendiri. Mereka termakan opini negatif yang sengaja digulirkan rezim untuk menjauhkan Islam dan ajarannya dari para pemeluknya.

Islam dianggap momok yang menakutkan dan harus dijauhi. Maka tugas dari para ulama, dan pengemban dakwah adalah melakukan penyadaran terhadap umat tentang kebobrokan sistem kapitalis yang diterapkan rezim saat ini. Dengan membongkar segala makar keji mereka, dan menggantikannya dengan paham Islam yang benar.

Islam adalah ideologi sempurna yang mengatur segala bidang kehidupan. Dengan penerapan Islam secara totalitas, akan mengubah kondisi umat menjadi tenteram dan sejahtera. Karena hal ini telah terbukti selama 13,5 abad. Islam telah berkuasa dengan penerapan hukum-hukumnya yang langsung berasal dari Allah Sang Pembuat Hukum.

Bukti ini bisa dilihat dari tempat-tempat bersejarah sekaligus buku-buku yang dituliskan pada masanya oleh para ilmuwan sekaligus ulama. Dengan menerapkan Islam kaffah, uamat akan terjamin keamanan dan kesejahteraannya. Umat tidak lagi hidup dalam ketakutan karena teror. Pun bisa hidup tenang tanpa menanggung hutang.[MO/sr]




Posting Komentar