Oleh: Anita Rachman

Mediaoposisi.com- Pasca bom bunuh diri di Surabaya, muncul berita dari beberapa media yang seolahmenyudutkan serta mengkriminalkan Islam dan ajarannya.

Semisal, muslimah menutup aurat dan bercadar serta santri bersarung yang dicurigai jaringan teroris,mengaitkan aksi teror dengan Islam, kemudian aksi kelompok yang melakukan persekusi pada aktivis dan kelompok dakwah tertentu yang dicap sesat.

Demikianlah, opini yang akhir-akhir ini ramai menghiasi media sosial, pun tidak sepi menjadi topik bahasan sebagian masyarakat. Sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna, sungguh kita dibekali akal, yang itu tidak diberikan Allah kepadaciptaanNya yang lain.

Dengan akal itulah, seharusnya kita mampu menelaah, berpikir lebih komprehensif dan mendalam dari setiap fakta maupun opini yang bergullir di tengah-tengah kehidupan kita.

Sungguh miris dan membuat menangis saat Islam, agama yang begitu sempurna, yang diturunkan Allah, Sang Pencipta seluruh alam semesta, disandingkan dengan paham terorisme. Fitnah keji, saat serta merta menghubungkan aksi terorisme tersebut kepadakelompok dakwah tertentu, padahal yang dilakukan adalah dakwah Islam, pun dengan tanpa kekerasan.

Identitas fisik (cadar, jidat hitam, cingkrang, jenggot) yang menempel pada diri seorang muslim memang tidak melulu menjadi cerminan bahwa kepribadiannya sempurna. Tetapi tidak juga lantas kita bisa menghakimi sebaliknya, apalagi menuduh sebagai teroris.

Banyak dalil yang menyebutkan tentang cadar, jidat hitam, celana cingkrang, jenggot panjang, dan lain lain, meskipun perbedaan diantara ulama tetap ada, tapi untuk kemudian menghujatnya tentu tidaklah pantas. Apalagi jika hal tersebut semata-mata dilakukan hanya untuk mencoba taat, demi meraih ridho Allah SWT.

Bagaimana Islam menghargai nyawa manusia, disebutkan jelas dalam Al Quran,

 “Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya”. (QS. Al Maidah: 32).

Sehingga, kekerasan apapun, apalagi aksi teroris yang sampai menghilangkan nyawa manusia justru sangat bertentangan dengan ajaran Islam dan sama sekali tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Bagaimana Islam begitu menghormati pemeluk agama lain, juga tertuang dalam Al Quran dalam Surat Al Kafirun dari ayat 1 sampai 6.

Katakanlah: Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”.

Hadits Nabi pun banyak menyebutkan bagaimana pemeluk agama lain diperlakukan dengan sangat baik. Salah satunya pada kaum Kafir Dzimmi, yaitu non muslim yang tidak memusuhi Islam, yang tinggal ditengah masyarakat muslim, dalam sebuah negara Daulah Khilafah, dilindungi dan dijamin hak-haknya termasuk harta dan urusan ibadahnya.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW. bersabda

Barangsiapa membunuh Dzimmi, ia tidak akan mencium wangi surga, padahal baunya tercium dari jarak perjalanan 40 tahun” (HR Bukhari). Jadi tidak ada alasan ataupun dasar yang membenarkan kaum muslimin untuk merusak tempat ibadah, memusuhi apalagi sampai menghilangkan nyawa orang kafir.

Begitu dahsyatnya media sekulerhari ini dalam mengolahdan menyampaikan opini yang ada. Hingga kaum muslimin menjadi phobia dengan agamanya sendiri. Seluruh kaum muslimin paham betul sholat itu wajib tapi masih ada yang meninggalkannya. Riba itu haram tapi masih diambil juga.

Apalagi dengan Khilafah yang gaungnya sedemikian membahana dari ufuk Timur hingga ke Barat. Padahal sudah jelas Khilafah menjadi fakta sejarah lebih dari 1300 tahun lamanya. Dan selama 94 tahun kaum muslimin bagaikan anak ayam kehilangan induknya, tercerai berai tanpa naungan Daulah Khilafah yang runtuh sejak tahun 1924 oleh Mustafa Kemal Attaturk.

Sejarah mencatat bahwa di bawah naungan Daulah Khilafah, kesejahteraan hidup tidak hanya dirasakan oleh kaum muslim tapi oleh seluruh umat manusia.

Tidak hanya dalam hal ibadah ritual tetapi juga menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia, baik politik, ekonomi, sosial dan militer.Dalam buku “Islam Rahmatan Lil Alamin” karyaKH. Hafidz Abdurrahman &ustaz Felix Siauw dijelaskan bagaimana kesempurnaan Islam, diantara agama dan ideologi dunia.

Dijelaskan pula bahwa, dalam salah satu haditsnya, Rasulullah Muhammad SAW. bersabda “Islam itu tinggi dan tidak ada sesuatupun yang lebih tinggi darinya”. Hal ini bukan sekedar klaim omong kosong belaka, tetapi bisa kita buktikan dengan berbagai cara. Agama selain Islam hanya mengatur aspek ritual dan spiritual dan tidak didapati pengaturan aspek politik.

Karena itulah agama-agama di luar Islam hanya mengajarkan bagaimana menyembah Tuhannya. Selain itu, agama-agama selainIslam tidak mengatur pemerintahan dan ekonomi.

Begitu juga sebaliknya, ideologi-ideologi selain Islam, seperti Kapitalisme dan Sosialisme hanya mengajarkan bagaimana mengatur pemerintahan dan ekonomi, berikut juga sosial dan militer, tetapi tidak mengajarkan bagaimana caranya menyembah Tuhan.

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu". (QS. Al-Baqarah: 208)

Islam diturunkan Allah dengan utuh, lengkap dan sempurna untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya sendiri, dan dengan sesamanya. “Hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan untukmu rejeki-Ku, serta Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu”. (QS Al-Maidah:3).

Bagaimana mungkin jika memang pelaku teror itu adalah muslim, yang seharusnya memiliki pemahaman tentang Islam, sebuah agama yang begitu tinggi dan sempurna, bisa melakukan aksi keji? Tentunya lebih bijak saat seharusnya kita berpikir ada apa di balik itu semua?

Bagaimana mereka bisa punya pemahaman yang justru bertentangan dengan Islam, bukan malah langsung menuduhcadar, cingkrang, jidat hitam, jenggot panjang  itu radikal. Bukan malah langsung mengklaim Islam Itu teroris.

Bukan malah langsung menghubungan dengan kelompok dakwah tertentu kemudian menyimpulkannya sesat. Atau lebih menyedihkan lagi menganggap khilafah bukan bagian dari ajaran Islam. Hati-hati dengan opini yang menyesatkan.Sesungguhnya, hanya dengan Islam seluruh problematika manusia bisa terpecahkan.[MO/sr]


Posting Komentar