Oleh: Wati Umi Diwanti

Mediaoposisi.com- Bom bunuh diri (BBD) yang akhir-akhir ini sering terjadi tak hanya melukai korban tapi melukai kedamaian di negeri ini. Paska aksi BBD, telah terjadi diskriminasi yang memilukan dan meresahkan. Khususnya warga muslim yang berusaha taat dengan syariat, khususnya masalah pakaian.

Meski pihak kepolisian telah membantah tentang himbauan mencurigai wanita bercadar tapi fakta di lapangan ini terjadi. Salah satunya yang viral di media sosial adalah seorang wanita diminta turun dari bus karena mengenakan cadar.

Selain itu video viral lainnya adalah kejadian yang menimpa seorang pemuda bersarung dan berpeci khas santri. Diperlakukan secara tidak lazim dalam penggeledahan barang-barang bawaannya. Berupa kotak dan tas ransel yang isinya adalah pakaian. Kejadian ini pun akhirnya menuai polemik.

Ada yang pro karena menganggap tindakan ketat pemeriksaan ini demi keamanan. Wajar karena sesuai prosedur. Sebagian menyayangkan karena dianggap bentuk persekusi. Umat Islam pun menjadi tidak tenang. Berpakaian sesuai ketetapan syariat justru mengundang kecurigaan. Bahkan cenderung pada intimidasi minimal secara psikis.

Memang benar pelaku BBD akhir-akhir ini berpakaian Islami. Wajar jika akhirnya yang serupa akan dicurigai lalu diperiksa. Saya pribadi tidak mempermasalahkan. Jika itu demi keamanan. Asalkan berkeadilan. Sayangnya banyak fakta menyatakan tidak demikian.

Pertama, saat tempat ibadah umat Islam dibakar, tokoh agama Islam yang diserang reaksinya tak sepadan. Masih kokoh diingatan umat Islam saat Mesjid di Papua dibakar. Tidak sekalipun disematkan label radikal apalagi dikaitkan dengan terorisme. Bahkan Presiden langsung mengundang tokoh agama mereka ke Istana negara. (Tempo.co, 24 Juli 2015)

Sehingga wajar jika umat Islam menangkap adanya diskriminasi. Jika korbannya pihak muslim, penanganan kasusnya tidak segarang ini. Bahkan terhenti saat dikatakan pelaku depresi atau gila. Sementara jika sasaran atau korban adalah non muslim cepat sekali label radikal disematkan. Tanpa ada praduga depresi atau sakit jiwa. Bahkan boleh ditembak mati meski statusnya baru terduga.

Jika sudah ditembak mati, mana mungkin bisa diselidiki apakah pelaku waras dan sadar atau tidak. Keanehan lainnya adalah pelaku BBD ini selalu menyisakan identitas diri di TKP. Seperti yang baru terjadi di Polrestabes Surabaya. Pelaku membawa serta Kartu Kelaurga. (m.detik.com, 15 Mei 2018)

Sekali lagi bukan bermaksud menolelir aksi BBD. Tapi bukankah terlalu dini untuk dihakimi dan dikaitkan dengan ajaran Islam. Padahal siapa bisa jamin mereka tidak sedang depresi atau gangguan jiwa. Toh mereka sama-sama penduduk negeri ini yang punya peluang yang sama mengalami depresi dan gangguan jiwa.

Bukan rahasia lagi bahwa kehidupan saat ini kian sempit. Beban hidup berlipat-lipat sementara lapangan kerja semakin sedikit. Apalagi paska Perpres No.20 tahun 2018, tentang TKA beberapa waktu lalu. Berita orang tua tega bunuh anak karena depresi akibat beratnya beban hidup pun kerap kita dapati.

Jikapun benar mereka waras dan sadar serta mengaku atas nama agama. Bukankah juga perlu ditelusuri lebih lanjut. Apa sebabnya mereka sampai sedemikian mudahnya terpengaruh paham sesat dan jahat seperti itu. Jelas itu bukan ajaran Islam. Bahkan tak ada agama yang mengajarkan teror.

Bisa jadi juga karena faktor ekonomi. Atau bisa juga  justru efek dari dikebirinya ajaran Islam itu sendiri. Akhirnya sebagian umat yang merasa tak teratasi dahaga naluri beragamanya. Jadilah mereka malakukan pencarian secara individu. Tanpa bekal aqidah yang kuat karena memang tak didapatkan dalam sistem pendidikan yang ada. Jadilah dengan mudah mereka terpengaruh ajaran-ajaran sesat.

Kemungkinan lain adalah ada pihak yang sengaja memanfaatkan orang-orang lugu ini untuk tujuan jahat mereka. Yang jelas aksi teror ini sama sekali tidak menguntungkan Islam. Maka jelas dasar aksi BBD ini bukan untuk memperjuangkan tegaknya ajaran Islam. Justru membuat umat menjauh karena takut.

Kedua, jika memang ini demi keamanan. Maka harusnya tak hanya yang berpenampilan Islami yang rentan diperiksa. Logikanya begini. Jika hanya yang berpenampilan Islami, maka tidakkah pelaku teror dengan mudahnya mengganti chasing mereka dengan pakaian non Islami. Loloslah mereka jika yang diawasi hanya yang berpenampilan Islami.

Ketiga, haruskah pemeriksaan dilakukan dengan tanpa keramahan. Apakah memang prosedurnya begitu? Padahal belum ada indikasi apalagi bukti apapun kecuali pakaian seseorang itu tampak Islami. Bukannya negeri ini menganut asas praduga tak bersalah? Atau bagaimana, cobalah diterangkan agar tak banyak yang salah paham.

Kejadian-kejadian ini jelas membuat Islamphobia merajalela. Umat Islam semakin takut memperdalam agamanya karena khawatir disematkan radikal. Akhirnya semakin awamlah umat terhadap ajaran agama yang sesungguhnya. Semakin terbukalah peluang pihak jahat untuk memanfaatkan kebodohan umat dalam beragama.

Maka satu-satunya cara hentikan aksi BBD ini juga kejahatan lainnya adalah dengan menghentikan kriminalisasi Islam. Stop stigma negatif pada Islam. Agar umat berani bahkan didorong untuk mencintai dan mengkaji Islam lebih dalam.

Pemahaman yang baik akan mendorong manusia melakukan segala ketetapan agama (Islam), termasuk menjauhi keharaman berbuat teror apalagi sampai membunuh jiwa tanpa alasan syar'i. (QS.Al-Maidah: 52)

Lebih dari pada itu mereka dengan sadar akan mengembalikan semua pengaturan hidup pada syariat Islam. Maka secara otomatis keamanan bahkan kesejahteraan meliputi bumi. Tak ada lagi penyebab depresi. Tak ada lagi yang tak paham agamanya sendiri. Juga tak ada tempat bagi orang jahat menyelinap.

Dengan demikian terorisme akan tenggelam dengan sendirinya. Lenyap ditelan kemuliaan cahaya Islam yang menerangi seluruh kehidupan umat manusia.[MO]

Posting Komentar