Oleh : Siti Hajar, S.Pd. SD
(Praktisi pendidikan, Member AMK Regional Bima)

Mediaoposisi.com-  Jaman dulu sekolah tidak semudah sekolah anak jaman sekarang. Dulu, sekolah juga tidak semodern sekolah jaman sekarang. Ingin sekolah pun begitu susah apalagi untuk melanjutkannya ke tingkat perguruan tinggi. Akibat segala keterbatasan yang ada.

Gaya belajar dulu pun tidak seperti jaman sekarang. Jika menghadapi ulangan apalagi untuk ujian sekolah dan ujian negara. Setiap hari bahkan semalam suntuk kami disibukan untuk belajar agar bisa meraih nilai tertinggi di kelas meskipun itu hanya menggunakan lampu tempel. 

Tidak diperkanankan bagi seorang guru untuk memberikan kunci jawaban kepada murid-muridnya seperti yang terjadi pada pendidikan jaman now yang seolah terorganisir apik di dunia pendidikan agar dapat meraih predikat nilai tertinggi di wilayah dinas pendidikan masing-masing. 

Dulu, bagi kami apa yang dikerjakan maka itulah hasil yang akan diperoleh. Kami benar-benar mendapatkan nilai murni tanpa menyontek dan menyogok siapapun.

Dulu sekolah tidak semudah sekolah anak jaman sekarang. Untuk mendapatkan sehelai seragam sekolah pun, orang tua harus berjuang keras untuk dapat membelinya. Bahkan tidak jarang, baju seragam pun bermodalkan pemberian orang. Memakai pakaian apa adanya pun tidak menjadi masalah asalkan tetap pergi ke sekolah.

Dulu sekolah tidak semudah sekolah anak jaman sekarang. Saya hanya teringat dulu ketika awal masuk sekolah begitu susah orang tua  membujuk diriku untuk berangkat ke sekolah. 

Saya menangis pilu memeluk sudut jendela. Berharap mereka tidak lagi memaksa untuk pergi ketempat yang asing itu. Saya masih ingin bersama ibu. Menemaninya kemanapun beliau pergi. Namun, Ibu tetap membujuk dan saya terus merajuk memelas kasih.

Ibu terus menarik saya dan sekuat tenaga saya melawan dengan memegang erat bilah jendela hingga kerak kayu jendela tertinggal jejak kuku jari saya. Ibu tidak pantang menyerah. Beliau meminta bantuan Ibu guru yang berada di samping rumah untuk membujukku.

Mentari semakin meninggi, kakak saya pun lelah untuk menunggu. Saya merasa iba padanya dan berpikir untuk mencoba. Hingga saya menyerah dan meraih tangannya dan berangkat ke sekolah dengan pakaian terbaik yang ibu kenakan padaku.

Pagi itu, saya menginjakkan kaki pertama di sekolah. Suasananya berbeda dan terlihat ramai sekali. Berbeda dengan lingkungan rumah. Pandangan saya berubah. 

Ternyata sekolah itu menyenangkan. Karena dapat bertemu dengan para guru yang selalu sabar membimbing dan mengajarkan kami banyak ilmu. Kawan pun semakin banyak. Hingga saya pun tidak ingin meninggalkan bangku sekolah. 

Masa SMP, sekolah pun tidak semudah sekolah jaman anak sekarang. Untuk menuju sekolah saya harus berjuang  berjalan kaki sejauh kiloan meter. Sepatu harus rela saya tenteng di bahu agar ia tidak cepat menipis dan itu pun hanyalah sepatuh lusuh bekas sang kakak. 

Hati riang bila ada mobil truk pengangkut pasir lewat. Maka dengan berbondong-bondong kami menaiki mobil itu dengan seragam SMP yang melekat di badan.

Saya masih teringat pertama kali merasa sangat senang menikmati indahnya menaiki mobil bak terbuka. Saya bahagia dan merasa bersemangat sekali saat itu.  Begitu menaikinya saya langsung berjoget ria sendiri mengangkat tangan tinggi-tinggi sambil bilang. 

"Horeeeeee, saya naik mobil!” Seruku sambil ditertawai oleh para kakak-kakak kelas.
Masa SMA, Sekolahku pun masih tidak semudah sekolah jaman anak sekarang. 

Meninggalkan orang tua dan kampung halaman menumpang tinggal pada rumah keluarga yang terdekat dengan sekolah untuk menghemat biaya transportasi. Hidup pun tak enak karena tidak senyaman tinggal di rumah sendiri.

Masa kuliah...
Ah, ini adalah masa tersulit untuk meraih mimpi. Menunggu beberapa tahun baru bisa menikmatinya dan harus saya jalani ketika telah berkeluarga....
Menjadi Guru...

Masa pengabdian yang panjang penuh liku dan harus kujalani. Berpindah tempat dari sekolah yang satu menuju sekolah yang lain. Dan kini telah belasan tahun mengabdi tapi nasib begitu-begitu saja...

Bukan mengeluh pada nasib yang tidak beruntung. Penerapan pendidikan sekuler menjadikan harapan dan cita-cita anak di negeri ini harus pupus ditengah jalan bahkan diawal kehidupannya untuk meraih dunia pendidikan. 

Bagaimana tidak pendidikan gratis yang seharusnya dapat dinikmati oleh semua kalangan termasuk kaum papa tidak bisa dinikmati sembarangan orang. Pendidikan tinggi hanya milik mereka yang memiliki modal. 

Gelar pun dapat dibeli dengan uang dan nasib mereka yang seharusnya layak memdapatkan jabatan (PNS) terpupus asa karena kalah bersaing finansial dengan para kaum berdarah biru.  Undang-undang Pendidikan gratis hanya slogan palsu di atas kertas yang dikhianati oleh konstitusi kekuasaan di negeri ini.

Kondisi sekarang tidak berarti jauh lebih baik dari dulu masa kecil dan remaja saya. Begitu juga sebaliknya. Tidak sedikit yang berprestasi tetapi salah orientasi. Hasil karya dan prestasi mereka berorientasi pada materi dan keuntungan finansial. 

Tidak aneh memang karena mereka, saya dan kita semua berada pada sistem pendidikan kapitalisme sekuler yang melahirkan generasi yang berkarya bukan berorientasi pada pengabdian terhadap umat. Bahkan mirisnya, pintar dan berprestasi tetapi krisis dalam moralitas .

Sekolah dipandang sebagai wahana menimba ilmu namun gagal dalam menimba akhlak mulia. Profesionalisme Guru menempatkan perannya sebagai sosok intelektual dalam arti sempit, bukan sebagai suri tauladan dalam membangun figuritas pentingnya untuk membangun peradaban yang agung dan mulia bagi anak-anak didiknya. 

Yah, pendidikan gratis namun berkualitas untuk membangun kembali peradaban Islam yang gemilang solusi fundamentalnya hanya dengan cara mengembalikan sistem pendidikan Islam di negeri yang kita cintai. Sistem pendidikan berbasis Islam hanya ada pada sistem "Khilafah" sebagai solusi tuntas untuk mengatasi segala permasalahan umat terutama sistem pendidikan.[MO/sr]


Posting Komentar