Oleh : Nuryani S.E 
(Pengamat Ekonomi)

Mediaoposisi.com- Akhir-akhir ini isu industri 4.0 semakin santer terdengar diberbagai kalangan masyarakat dunia. Baik sekala nasional maupun internasional.  

Beberapa tindakan pun dilakukan oleh pemerintah untuk menghadapi revolusi industry 4.0. karena revolusi indutri membutuhkan kecepatan dan kesiapan yang matang dari berbagai pihak. 

Berdasarkan definisi dari wikepedia Industri 4.0 adalah nama tren otomasi dan pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik. Istilah ini mencakup sistem siber-fisik, Internet untuk segala, komputasi awan, dan komputasi kognitif (Wikipedia 14/02.18).

Industri 4.0 merupakan bentuk perkembangan dan kemajuan teknologi yang semakin pesat, dengan  hadirnya akses internet bagi warga dunia. 

Revolusi ini menutut Klaus Schwab pendiri Forum Ekonomi Dunia mengatakan “Revolusi keempat ini menghadang kita seperti tsunami” (VOA 14/1/16). 

Karena memang industri 4.0 akan memainkan system input –output produksi dengan mesin. Perusahaan dalam indutri 4.0 tidak lagi banyak membutuhkan tenaga manusia. 

Peran manusia akan digantikan oleh robot-robot canggih. Maka tak heran jika  Klaus Schwab kembali mengigatkan dunia bahwa industry 4.0 akan menghilangkan pekerjaan kelas menengah yang dimasa depan akan rentan mengakibatkan konflik sosial.  

Menurut McKinsey seorang pengamat perkembangan industri dimasa depan meramalkan bahwa “800 juta pekerja di seluruh dunia akan kehilangan pekerjaannya karena diambil alih oleh robot dan mesin dalam 12 tahun ke depan.(Kompas.com 4/4/18). Padahal sebagian pekerja tanah air adalah  golongan kelas menengah. Kemanakah mereka akan mengantungkan nasib?

Itulah kejayaan dalam system ekonomi kapitalis. Bak racun yang berbalut madu. Kemajuan semu yang selalu menimbulkan dampak negatif pada kehidupan masyarakat kecil. Selalu yang menjadi korban adalah masyarakat kelas menengah kebawah. 

Berbeda halnya dengan system kehidupan  kemajuan dalam islam. Dengan hukum-hukum (syariat) yang berasal dari Allah islam akan mampu memberikan kehidupan yang rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam). 

Islam telah membutktikan bahwa sistem islam mampu membangun kejayaan yang maju tanpa effek samping. Selama + 1300 tahun sistem ekonomi dan tata kelola kehidupan berjalan dengan baik, setiap kemajuan baik fisik maupun teknologi selalu memberikan kerahmatan bagi seluruh manusia. 
Karena islam memiliki pandangan yang khas terkait kesejahtraan kehidupan manusia. 

Sistem islam tidak hanya mengungulkan kemjuan dunia semata tetapi setiap kemajuan yang diberikan harus menunjang akhirat juga. 

Hal ini timbul akibat dari kesalahan cara pandang para penemu dan peneliti hari ini. Seharusnya orang yang berilmu tidak hanya menggunkan kepintanran dan ilmu untuk kepentingan perkembangan bisnis dan ekonomi semata.

Namun harus digunakan untuk mengurai permasalah masyarakat yang ada. Ilmuan harus menemukan penemuan yang tidak merugikan masyarakat, karena ilmunya harus bermanfaat bagi orang lain. Jika tidak itu akan memberatkan hisabnya dihari akhir.

Rasa ini hanya akan dimilki oleh ilmuan-ilmuan yang bertaqwa, yang menjadikan islam sebagai landasan perbuatan. Sehingga hasil pemkiranya, kinerjnya ia curahkan untuk memecahkan permaslahan masyarakat.[MO/sr]








Posting Komentar