Oleh : Maya Dharmawan

Mediaoposisi - Mungkin itu ungkapan yang mampu mewakili gambaran generasi kita saat ini. Bagaimana tidak, di satu sisi keberadaan mereka sangat disayang-sayang, digadang-gadang karena potensi luar biasa yang diberikan Allah SWT padanya. 

Mereka memiliki energi yang luar biasa yang bisa dilejitkan menjadi sebuah kekuatan perubah ke arah kebaikan dan kemuliaan negara. Di sisi lain telinga ini seringkali miris mendengar berita yang seolah tak mau berhenti mengabarkan kerusakan moral anak bangsa dibarengi dengan  kepiluan yang meninggalkan trauma dan luka dalam di pihak korban. 

Masih segar dalam ingatan kita kasus predator anak yang marak mulai beberapa tahun lalu. Kini kita lagi-lagi dikejutkan dengan angka fantastis dari data  Polda Jawa Timur tentang kasus kekerasan seksual terhadap anak selama Januari-Februari 2018. 

Berdasar data Polda Jatim tersebut, Komisioner Bidang Pendidikan KPAI Retno Listyarti mencatat 117 anak menjadi korban kekerasan seksual di awal 2018. Jumlah pelakunya ada 22 orang. 

Selain itu, sebagian besar korban mengalami kekerasan seksual di sekolah. "Baru dua bulan pada 2018, sudah ada 117 anak yang menjadi korban kekerasan seksual. Kasus itu bukan hanya di satuan pendidikan atau sekolah," kata Retno Listyarti dalam jumpa pers di Jakarta, pada Senin (19/3/2018) seperti dikutip Antara. (tirto.id, Addi M Idhom) 

Sungguh ironis, kondisi tersebut masih berlangsung terus seolah antri menunggu giliran. Pada bulan mei ini saja, dimana pada bulan ini diperingati 2 hari nasional skaligus, yaitu Hari Pendidikan dan Hari Kebangkitan Nasional ternyata tak mampu menerangi sisi gelap generasi muda kini.  

Tengok saja kejadian di Lebo Agung Surabaya, gadis 16 tahun tiga tahun dicabuli dan disiksa pacar (Jawa Post,  Mei 2018). Tak kalah memilukan adalah kejadian yang menimpa siswi TK di Mojokerto mengalami perkosaan yang dilakukan oleh orang yang tak dikenal di sebuah kamar mandi masjid (Radar Mojokerto, 4 Mei 2018).

Lantas, apa yang seharusnya dilakukan???. Sebelum berbicara tentang solusi, kita harus berfikir dahulu tentang problem. Sudahkah kita menganggap hal tersebut sebagai problem. Belum bisa dianggap problem kalau ternyata masyarakat masih nyaman-nyaman saja, atau memang dibuat nyaman. 

“Orang hidup biasa punya masalah" mungkin itu senjata yang cukup ampuh untuk meredam kemarahan  atau keresahan masyarakat. 

Atau sikap cuek masyrakat terhadap kondisi tersebut, “udah gak apa-apa wong itu buKan anak saya”, “saya gakmau ikut campur” dll.  Tapi kalau kemudian pernyataannya dibalik " bagaimana kalau situ anaknya yang diperkosa", “situ gak nyesek denger anak kecil sdh berani memperkosa atau menjadi korban pelecehan seksual ?”

Dalam Islam jika ada satu saja kemaksiatan dilakukan maka itu sudah dianggap masalah. Lha ini malah ribuan kasus belum terselesaikan. Jadi jelas sekali to kalau standarnya pake islam. 

Dengan menyadari bahwa itu adalah masalah maka kita pun akan termotivasi untuk keluar dari masalah tersebut. Sebaliknya kalau masih menganggap bahwa pelecehan seksual ini sebagai perkara yang lumrah, maka jauh pula orang berpikir tentang solusi.
          
Islam sangat menjaga kehormatan manusia. Di masa keemasan Islam, ada seorang teladan abadi sepanjang masa. Dia adalah khalifah al-Mu’tasim, Kisah heroik Al-Mu’tashim dicatat dengan tinta emas sejarah Islam dalam kitab al-Kamil fi al-Tarikh karya Ibn Al-Athir. 

Peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada tahun 223 Hijriyyah, yang disebut dengan Penaklukan kota Ammuriah. Pada tahun 837, al-Mu’tasim Billah menyahut seruan seorang budak muslimah yang konon berasal dari Bani Hasyim yang sedang berbelanja di pasar. yang meminta pertolongan karena diganggu dan dilecehkan oleh orang Romawi. 

Kainnya dikaitkanke paku sehingga ketika berdiri, terlihatlah sebagian auratnya. Wanita itu lalu berteriak memanggil nama Khalifah Al-Mu’tashim Billah dengan lafadz yang legendaris yang terus terngiang dalam telinga seorang muslim: “waa Mu’tashimaah!” (di mana engkau wahai Mutashim… Tolonglah aku!)

Setelah mendapat laporan mengenai pelecehan ini, maka sang Khalifah pun menurunkan puluhan ribu pasukan untuk menyerbu kota Ammuriah (Turki). Seseorang meriwayatkan bahwa panjangnya barisan tentara ini tidak putus dari gerbang istana khalifah di kota Baghdad hingga kota Ammuriah (Turki), begitu besarnya pasukan yang dikerahkan oleh khalifah.

Islam juga menjamin rasa aman, bahkan islam juga menjaga jiwa.  Dari Fadhalah bin Ubaid radhiallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda ketika haji wada: “Maukah aku kabarkan kalian tentang ciri seorang mukmin? 

Yaitu orang yang orang lain merasa aman dari gangguannya terhadap harta dan jiwanya. Dan muslim, adalah orang yang orang lain merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan mujahid, adalah orang yang bersungguh-sungguh dalam ketaatan kepada Allah. Dan muhajir (orang yang hijrah), adalah orang yang meninggalkan kesalahan-kesalahan dan dosa” (HR. Ahmad).

Sehingga generasi emas dan terhormat bak lautan mutiara yang menerangi umat dan peradaban saat itu. Ali bin Abi Thalib adalah salah satu pemuda cerdas jaman Nabi yang suka bekerja keras, menyibukkan dirinya dengan urusan-urusan agamanya. 

Beliau masuk Islam pada usia yang masih belia, pengemban dakwah yang militant dan negarwan yang bijak. Muhammad al fatih umur 21 telah menaklukkan Konstantinopel. 

Bagaimana mungkin dia menghabiskan waktunya dengan nonton film, pacaran atau hal-hal lainnya yang tidak bermanfaat. Bahkan hari-harinya dipenuhi dengan aktivitas bernilai ibadah untuk kemuliaan agama dan umat Islam. MasyaAllah... 

Jadi kalau dikembalikan pada saat ini jelas bahwa sumber masalahnya adalah belum menjadikan isla sebagai rujukan. Hukuman yg diterapkan sekarang tidak memberikan efek jera dan efek mendidik. 

Karena hukum kita sekarang tidak berorientasi pada ridho Allah, lebih kepada ridho manusia,jabatan,kepentingan dan lain-lain. 

Bertambah parah dengan mudahnya akses untuk mendapatkan miras, narkoba, pornografi dan pornoaksi yang semskin memicu adrenalin para remaja untuk secara brutal melampiaskan nafsu birahi mereka. Negara lebih berfikir kuratif daripada preventif. 

Tapi pada faktanya aspek kuratif pun belum mampu. memberikan sumbangan yang signifikan untuk mencetak kegemilangan generasi ini.

Akhirnya bisa dipahami bahwa. masalah ini tidaklah berdiri sendiri. Artinya satu masalah dipengaruhi oleh banyak aspek. Sehingga solusinya pun harus menyentuh seluruh aspek-aspek tersebut.

Sistem Pendidikan Islam berorientasi mencetak kepribadian islami akan sangat berbeda hasilnya dengan sistem Pendidikan beriorientansi. Sistem pendidikan Islam menjadikan generasinya meletakkan keridhoan Allah sebagai tujuan tinggi. 

Sistem Islam mampu menjadikan generasinya taat agama sekaligus bersemangat menggeluti ilmu duniawi dengan tujuan dan orientasi yg satu hidup mulia dan beroleh jannah. Di masa kkhilafahan, banyak sekali mencetak para mujtahid, alim ulama’ dan cerdik pandai.

Tidakkan kita bangga dengan Imam Syafi’I, Ibnu Sina, Salman Al Farisi, Al Kindi lainnya yang begitu banyak jumlahnya.

Dalam sistem hukum Islam, setiap kejahatan yang dinyatakan syara’ akan dikenai sangsi (uqubat). Sangsi Hukum Islam bersifat mencegah (zawajir) dari kejahatan dan penebus dosa di akhirat (jawabir). 

Dengan diterapkannya uqubat, maka kejahatan serupa akan bisa dicegah terulang kembali sekaligus penebus dosa pelakunya di akhirat. Inilah dua keistimewaan sangsi hukum dalam Islam yang tidak ada dalam sistem lain.

Dalam sistem sosial Islam telah mengatur interaksi pria dan wanita dalam memperoleh kemaslahatan dan kecenderungan terhadap lawan jenis. 

Seluruh aturan Islam yang terkait interaksi pria dan wanita berupa perintah dan larangan akan menjamin terpenuhinya kemaslahatan keduanya dan tercegah dari efek buruk yang timbul ketika terjadinya interaksi. Seperti aturan tentang kehidupan umum dan khusus, memakai kerudung dan jilbab bagi wanita di kehidupan umum, larangan berpacaran, menjaga pandangan, pernikahan, dll.

Islam menjadikan masyarakat berada dlm satu kesatuan pemikiran perasaan dan aturan. Menjadikan amar maruf nahi mungkar sebagai amalan yang diwajibkan bahkan dinobatkan sebagai perkataan yg terbaik (baca surat Al fushilat ayat 54)

Semua itu tidak cukup apabila dilakukan secara individu perindividu, keluarga per keluarga. Harus ada instrumen lain yg memang secara sunatulloh mempunyai kekuasaan dan kemampuan. untuk menerapkan itu semua, yaitu negara. Dari Abu Hurairah R.A bahwasannya Nabi Muhammad SAW bersabda “Sesungguhnya al imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya" (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud).



Posting Komentar