Oleh : Ummu Hanif 

Mediaoposisi.com-  Bertubi – tubi kejadian menimpa Indonesia selama ramadhan ini. Setelah ketakutan akibat bom di beberapa tempat menjelang ramadhan, meningkatnya harga kebutuhan pokok, impor beras dan lain sebagainya, kini kita disuguhi kembali fakta ditemukannya ribuan E-KTP yang tercecer di di Jalan Salabenda, Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu, 26 Mei 2018.

Kasus itu bermula pada Sabtu lalu, saat sebuah truk yang melintas di Jalan Raya Salabenda menuju arah Parung menjatuhkan sebuah kardus. Warga yang melihat kejadian itu lantas mengambil kardus tersebut, yang ternyata berisi sejumlah e-KTP. Warga lantas mengejar sopir truk dan memintanya kembali untuk mengambil e-KTP yang tercecer. (Tempo.com, 28/5/2018)

Masih dalam sumber yang sama, Ketua DPP Partai Gerindra Habiburokhman meminta Kementerian Dalam Negeri melakukan investigasi bersama DPR dan masyarakat atas kasus tersebut. Menurut dia, penyebaran informasi dan klaim kebenaran yang hanya bersifat otoritatif dari Kementerian perlu dihindari. Sebab, hal tersebut dinilai akan menimbulkan kecurigaan. 

Keterangan Kementerian bahwa e-KTP tersebut invalid, kata Habiburokhman, justru menimbulkan pertanyaan lantaran secara fisik yang terlihat dari foto, barang tersebut dalam keadaan baik dan tidak cacat.

Selain itu, kasus ini menimbulkan pertanyaan lantaran tahun depan ada agenda pemilu legislatif dan presiden. Sehingga, menurut dia, wajar jika banyak masyarakat yang mengaitkan masalah ini dengan pemilu. Apalagi penjelasan di Pasal 348 ayat 8 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu mengatur bahwa pemilik e-KTP bisa memilih meski tidak terdaftar dalam daftar pemilih tetap (DPT) dan DPT tambahan.

Kasus e-KTP tercecer ini sungguh menyakitkan hati rakyat, setelah rakyat disuguhi tontonan korupsi e-KTP, sekarang rakyat di paksa memelototi e-KTP tercecer, padahal sampai saat ini rakyat tidak dapat KTP dengan dalih kehabisan blangko. 

Sungguh rakyat terlalu letih dengan segala kejadian di negeri ini. Kebijakan – kebijakan tidak pro rakyat, telah menguras energi untuk tetap bisa bertahan dalam keterbatasan. Kejadian demi kejadian sungguh teror tak terperi meski tanpa mengalirkan darah.

Kalau kita mau merenung dan jujur mengakui,  akar permasalahan semua ini adalah sistem demokrasi-kapitalisme yang diterapkan di tengah-tengah masyarakat kita. Sistem ini telah meninggalkan sejauh – jauhnya konsep halal dan haram. Orang akan melakukan apa pun untuk bisa meraih keuntungan sebesar mungkin dengan modal sekecil-kecilnya, termasuk dengan melakukan kebohongan.

Sistem pendidikan berbasis sekulerisme yang diterapkan negeri ini juga menyumbang peran yang cukup besar. Masyarakat tidak memiliki standar yang jelas untuk berperilaku. Apalagi menjadikan Islam sebagai standar untuk menilai sebuah kebenaran.

Faktor ideologi dan politik pun tidak kalah penting perannya. Tidak jarang, demi mendapat kedudukan, segala hal bisa jadi legal. Meski akan banyak korban berjatuhan. Yang penting salah satu pihak, bisa memenangkan pertandingan. Tidaklah kurang negeri ini dari orang pintar. Namun tidak jarang, uang telah berhasil merubah keadaan. Semua bisa berpihak kepada yang mampu membeli lebih banyak. Kebenaran bisa dibeli, kekuasaan bisa dibeli.

Wahai Anda yang ahli intelijen, ahli politik, ahli hukum, ayo bergeraklah. Bantu kami melihat, fenomena apa ini yang sesungguhnya. Rakyat yang bodoh, sudah terlalu jengah dengan berbagai kedustaan dan pengkhianatan. Sungguh kami sudah rindu negara yang mampu memberi ketenangan dan kesejahteraan, sebagaimana yang sering kami baca di lembaran sejarah islam.[MO/sr]

Posting Komentar