Oleh: Mila Ummu Tsabita*

Mediaoposisi.com- BBC news  (6/4/2018) melaporkan bahwa Kerajaan Saudi Arabia (KSA) akan membuka bioskop pertamanya -yang dalam waktu 35 tahun belakangan dilarang- pada tanggal 18 April dengan menayangkan Black Panther.  

Penonton laki-laki dan perempuan tidak dipisah (tidak ada hijab). Pembukaan bioskop ini merupakan kerja sama dengan jaringan bioskop terbesar dunia, AMC, yang akan membuka 40 bioskop di sekitar 15 kota dalam waktu 5 tahun mendatang.

Sebelumnya (4/4), General Entertainment Authority (GEA) dari Kerajaan Arab Saudi mengadakan pertemuan puncak di Four Seasons di Beverly Hills.  Para menteri dan investor, baik dari sektor publik dan swasta,  akan berbicara tentang pengalaman selama bekerja di industri hiburan. 

Mereka juga akan memberikan pandangan untuk mengembangkan industri di Saudi yang selama beberapa dekade tertutup. (Republika.co.id).

Arab Saudi merupakan kerajaan ultrakonservatif,  yang memiliki nilai historis penting bagi umat Islam di mana pun.  Selain sebagai tempat suci umat Islam, Saudi masih menjadi acuan pandangan kaum muslimin secara umum.  

Sebelumnya, Saudi adalah negara monarki dengan penerapan aturan ketat untuk perilaku dan cara berpakaian.  Namun belakangan, Putra Mahkota Pangeran Mohammed Bin Salman menempuh sejumlah langkah pembaruan ekonomi dan sosial yang menjadi bagian dari yang disebut Vision 2030. 

Apa yang akan terjadi ketika perubahan menuju ‘kemodernan’ nampak menjauh dari image nya sebagai tanah suci? 

Vision 2030 : Modernisasi KSA di tangan Putra Mahkota
Dideklarasikan pada 2015 oleh Raja Salman, maka sebagai implementasinya Pangeran Salman mengumumkan  rencana Saudi Vision 2030 (16/4/2016).   

Proyek ambisius dengan rencana jangka panjang, 15 tahun, yang melibatkan 80 proyek lebih. Tujuannya adalah mengurangi ketergantungan terhadap minyak, diversifikasi ekonomi, serta mengembangkan sektor pelayanan publik.  

Dengan menciptakan lapangan kerja baru dan mengajak warga membelanjakan uang di dalam negrinya.  Maka, demi menggaet setidaknya 50 persen dana hiburan itu hingga 2030 kelak, Pangeran Salman mendorong agar industri hiburan tumbuh pesat di negaranya.

Visi yang dilekatkan untuk proyek ini, “ Arab Saudi, jantung Arab dan Islam, pusat investasi yang menghubungkan tiga benua 

(Asia, Eropa dan Afrika)” kata Sang Pangeran yang pada kesempatan itu juga menyatakan, Saudi akan kembali ke masa lalu Islam moderat.  Negara akan segera melenyapkan sisa radikalisme dan menjamin kaum muda hidup harmoni dengan warga seluruh dunia. (Republika.co.id, 23/11/2017).

Perubahan-perubahan yang terjadi di Kerajaan Saudi ini tidak lepas dari tata dunia kapitalis  sekuler yang –sebenarnya- sudah lama mempengaruhinya.

Pangeran Mohammed bin Salman , sang Putra Mahkota, Wakil Perdana Menteri, sekaligus Ketua Dewan Urusan Ekonomi dan Pembangunan Arab Saudi baru-baru ini terbang ke USA untuk menarik investasi, dan mengungkapkan Visi 2030 yang salah satu tujuan adalah meningkatkan belanja rumah tangga untuk hiburan dan budaya dari 2,9%  menjadi 6% pada tahun 2030.   

Dalam konferensi pers di Riyadh , Kepala Otoritas Hiburan Umum, Ahmad bin Aqeel al-Khatib , menjelaskan kepada wartawan rencana investasi US $64 miliar atau 875 triliyun untuk sektor hiburan dalam satu dekade.  (BBC News, 23/2/2018).  

Sektor hiburan dilirik sebagai salah satu potensi ekonomi, mengingat banyak warga Arab Saudi yang pergi ke Dubai maupun Bahrain untuk menonton film maupun ke taman hiburan.

Pada Maret 2018, ketika Putra Mahkota ini ke USA, dia pun bertemu dengan para pemimpin sayap kanan organisasi Yahudi.  Menurut laporan Al Jazeera, kaum Yahudi tersebut adalah para donatur pemukiman ilegal di daerah pendudukan Palestina. 

Menurut Duta Besar Israel untuk Mesir, David Govrin, Muhammad bin Salman telah menjadi mitra Israel dan sedang merumuskan realitas baru di kawasan.  “ Kami harus memperluas kemitraan ini ke negara lain untuk memajukan kepentingan bersama guna memerangi negara atau kelompok teroris yang terispirasi Iran, ucap Govrin , sepeti dikutip Middle East Monitor (Tempo.co , 10/5/2018). 

Israel dan KSA secara diam-diam telah melakukan hubungan komunikasi meskipun kedua negara tersebut tidak memiliki kerjasama diplomatik. Kedua negara memiliki kesamaan pandangan bahwa Iran menjadi negara yang membahayakan stabilitas di kawasan.

Belakangan begitu banyak perubahan yang dilakukan Saudi,  salah satunya saat mereka mengeluarkan dekrit agar perempuan bisa menyetir mobil sendiri (September 2017).  

Juga boleh menonton pertandingan sepak bola, boleh ikut turnamen bola basket, lari maraton dan beberapa kebijakan lain yang ‘ramah’ perempuan.  Pembangunan kota hiburan, melengkapi terobosan Raja Salman yang semakin akomodatif terhadap dunia hiburan dan wisata. 

Terkait bioskop sebenarnya Saudi pernah memilikinya beberapa, tapi pada tahun 1970-an ditutup karena pengaruh pandangan ulama.  Bahkan hingga Januari tahun ini, Mufti Besar Syeikh Abdil Aziz Al al –Syeikh dilaporkan memperingatkan ‘kebejatan’ bioskop yang disebutnya bisa merusak moral.  (BBC News, 6/4/2018).

Modernisasi atau Westernisasi  ?

Persepsi salah selama ini bahwa KSA adalah negara Islam , nampaknya akan sulit untuk dipertahankan. Karena kenyataannya memang bukan negara yang menerapkan hukum Islam secara kaffah sejak dia berdiri, namun masih ada kaum muslimin yang tidak terima akan realitas tersebut.  

Kali ini makin nyata bahwa monarki  yang  konservatif tersebut, berubah menuju kemodernan yang salah makna. Walaupun Islam selama ini masih diakui , namun terus  bergeser sebatas  normatif,  Karena sekulerisasi yang luar biasa massif.

Kepentingan ekonomi dan ideologi sang adidaya kapitalis, tentu tidak lepas dari perubahan KSA menjadi makin moderat.   Barat yang selama ini dianggap lebih modern  telah menjadi acuan definisi kemajuan.  

Sehingga agenda penguasaan sumber-sumber daya yang dimiliki Saudi menjadi makin mulus.  Dalih investasi yang dimainkan akan terus menjerat  negri kaya minyak ini.  Perampokan negri-negri muslim menjadi legal atas nama kebijakan penguasa. 

Demikian juga motif ideologi , sama sekali tidak bisa diabaikan. Karena liberalisasi yang terjadi di Saudi akan tetap menjadi cermin bagi negeri-negeri muslim lainnya. 

Ketika sudah diaruskan untuk menerapkan nilai nilai barat , maka jadi 'contekan' bagi negeri muslim lain dalam menentukan arah pandangnya sesuai arahan imprealis. Termasuk agenda kontra radikalisme yang ‘membutuhkan’ dukungan negri-negri muslim, termasuk Indonesia.

Kementrian Luar Negeri AS di Washington menyambut baik perkembangan KSA dengan visinya dan menyebut hal itu sebagai ‘langkah ke arah yang benar’.   

Bahkan kerajaan ini adalah salah satu sekutu kunci AS yang berkomitmen bersama melawan ekstrimisme .  Tampak ketika  Saudi bersedia menjadi tuan rumah KTT Arab-Islam-Amerika di Riyadh (20 – 21 mei 2017), yang membicarakan kemitraan untuk melawan dan memerangi terorisme serta ekstrimisme. (republika.co.id , 21/5/2017).  

Saat ini adalah era di mana upaya untuk mengembalikan Islam sebagai sebuah institusi politik formal (baca: Khilafah) mulai mendapat dukungan luas. Sungguh ini sangat mengkhawatirkan negara adidaya dan sekutunya.  

Maka upaya modernisasi ala Barat dan penyebaran 'virus' Islam Moderat,  dianggap sebagai langkah efektif untuk mencegah berkembangnya paham Islam “garis keras”.  Sejak lama Saudi telah dituding mengongkosi dan mencetak pendakwah radikal di negara-negara muslim, termasuk Indonesia.  Dengan penghentian ‘bantuan dana’ menjadi sangat membatasi gerak kaum ‘radikal’. 

Upaya ini sekaligus menjawab tuntutan generasi baru Saudi yang kian terpelajar, dengan wawasan globalnya, yang merasa sikap konsevatif-refresif  Saudi sangat mengekang mereka. 

Faisal Asegaf selaku pengamat dan pengelola situs pemantau isu Timur Tengah Al Balad, mengatakan bahwa golongan muda usia di bawah 30-an saat ini mencapai 70 persen dari seluruh populasi penduduk.  

Kemungkinan karena makin banyak yang  kuliah di luar negri , maka pengaruh ulama tergerus.  “Sistem moderat akan merubah wajah sosial Saudi Arabia, “ ujarnya pada Vice.com (26/10/2017). 

 Membuka kran liberalisasi di beberapa sektor yang selama ini –dianggap kaum  muda- sebagai kekangan kebebasan , seperti aturan berpakaian, tidak bisa mengakses hiburan dan kebijakan tidak ramah bagi perempuan, dianggap solutif.  Solutif agar tidak terjangkit gelombang Arab Spring yang sempat terjadi beberapa waktu lalu.

Tak ketinggalan kaum perempuan. Mereka mendapat angin segar dari kebijakan ini, karena merupakan salah satu implikasi keberpihakan pada Islam moderat.  

Sesuai rekomendasi Angel Rabasa dari RAND Corporation, yang menyatakan bahwa Islam Moderat adalah pemahaman yang ‘ramah’ terhadap pluralisme, kesetaraan jender, demokratisasi, humanisme dan civil society.

Kejumudan Berpikir, Tunduk pada  Imprealis

Semua itu mulus  terjadi,  karena umat Islam mengalami kemunduran berfikir yang luar biasa. Umat tidak bisa membedakan kemodernan yang sebenarnya (sesuai Islam) dengan ‘topeng’ kemodernan ala western.  Mereka tak mampu membedakan pemikiran sesat sekuler kapitalis dengan kemajuan materi (perkembangan teknologi dsb) .  

Wajar mereka takut dicap ‘jahiliyah’ dan ‘tertinggal’ ketika mereka mengambil Islam sebagai jalan kehidupan mereka.  Apalagi ditambah opini islamophobia, Islam radikal dan Khilafah sebagai bahaya bagi kemanusiaan, makin mengerdilkan sikap para penguasa di negri-negri muslim untuk berani ‘berbeda’ dari mainstream.

Islam moderat, sejatinya adalah lagu lama dengan instrumen baru yang dinyanyikan Barat untuk membendung tegaknya Sistem Islam.  Juga melanggengkan imprealisme,  atas Dunia Islam.  

Pemahaman Islam moderat dan kemodernan ala western telah mengaburkan pemahaman Islam di tengah kaum muslimin.  KSA sebagai negara dengan image ‘tanah suci’ nya telah ternoda, sebagaimana banyak negeri muslim yang membebek Barat dalam banyak hal.   

Padahal modernisasi yang ditandai dengan kemajuan fasilitas dan teknologi, tidak bisa kita hindari di era milenial ini.  

Teknologi memang bebas nilai, tidak haram diambil, selama tidak ada dalil yang mengharamkannya.  Tapi tidak dengan pemikiran dan kebijakan yang selaras dengan  peradaban Barat, jelas haram untuk diambil dan diterapkan oleh umat Islam.  Allah SWT berfirman:

“Apa-apa yang diberikan /diperintahkan Rasul kepadamu, maka terimalah (laksanakan), dan apa yang dilarang bagimu maka tinggalkanlah "  (TQS.Al –Hasyr: 7).
“Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang kafir." (TQS. Al Maidah : 44).

Tak pantas bagi yang mengaku beriman kepada Allah SWT  dan Hari Akhir , mencampakkan Islam kaffah dan mengambil Islam ‘jalan tengah’  sebagaimana arahan orang-orang kafir.

Apalagi di Barat, konsekuensi semua kemajuan materi dikuti dengan kemunduran dan kerusakan yang luar biasa pada  sisi kehidupan sosial masyarakat. .  Lihat saja , tingginya angka bunuh diri, incest, LGBT, pelecehan kehormatan perempuan, depresi dan rusaknya nilai keluarga menjadi peristiwa yang jamak terjadi di sana.  

Dari rahim Kapitalis telah lahir varian manusia yang miskin spiritualitas.  Belum lagi rusaknya ekosistem bumi karena keserakahan para kapital , proses industrialisasi yang masif telah menghasilkan berton-ton limbah.  Belum lagi soal senjata pemusnah massal, yang berlomba dibuat negara Barat  demi arogansi imprealis mereka. 

Maka jangan heran, ketika itu pun akan  mewarnai kehidupan kaum muslimin.  Peradaban Barat yang menafikan agama- terutama Islam- menjelma menjadi ‘sahabat’ yang menggerogoti keimanan dan identitas umat.  . Tak terkecuali Kingdom of Saudi Arabia, fakta itu pun akan merayap dan menjadi  kenyataan ‘pahit’ yang bakal dirasa.

Sungguh, Saudi Arabia dan negri-negri muslim lain akan maju dan bangkit ketika berpegang teguh pada Islam Kaffah. Bukan Islam sebatas simbol.  Pemikiran tersebut harus diemban dalam sebuah Sistem , yang akan menjadikan pemikiran tersebut  aplikatif  bahkan solutif menyelesaikan problema hidup manusia.  KSA bisa menjadi pioner dalam perubahan . 

Syaratnya , perubahan harus menuju penerapan Islam kaffah (Khilafah) .  Tak ragu mengatur seluruh aspek kehidupan dengan Islam.  Berhindar dari ‘jebakan’ politis yang telah menimpa negri-negri muslim berpuluh tahun dan menjadi agen dan budak penggerak ekonomi negara-negara imprealis.

 Perlu keberanian dan pemahaman yang utuh  liLlah,  karena umat Islam sangat membutuhkannya. 

“Jikalau  sekiranya penduduk negri-negri beriman  dan bertakwa, pastilah  Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi., tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami sisksa mereka disebabkan perbuatannya. “( TQS. Al A’raf 96).[MO/sr]

Posting Komentar