Oleh : Mahdiah Imadul Ummah., S.Pd
(Founder Hijrah Movement)

Mediaoposisi.com- Revolusi industri 4.0 menyita perhatian seluruh elemen bangsa. Kementrian Perindustrian telah ditunjuk oleh Presiden sebagai leading ministry untuk menyiapkan strategi implementasi Industri 4.0. 

Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto mengatakan Making Indonesia 4.0 disusun dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari institusi pemerintah, asosiasi industri, pelaku usaha, penyedia teknologi, maupun lembaga riset dan pendidikan (TEMPO.CO/04/04). 

Melalui sinergi triple helix tersebut diharapkan mampu membawa kesuskesan ekonomi ditahun 2030. Salah satu strategi utama yang di usung oleh Menteri Perindustrian adalah menginisiasi pelaksanaan pendidikan vokasi yang link and match antara SMK dengan industri. pengembangan program ini sekaligus menyiapkan tenaga kerja terampil yang siap pakai di dunia industri dengan target mencapai satu juta orang pada 2019 (kemenperin.go.id).

Kolaborasi lintas sektor ini telah menjadikan pendidikan memasuki era baru yaitu pendidikan berbasis industrialisasi. Proses industrialisasi pendidikan sebagai efek pasti globalisasi ini menghasilkan disorientasi pendidikan. 

Terbukti dengan respon pemerintah dalam menghadapi era ini dengan mengganti arah pendidikan nasional yang mulanya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indoensia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. 

Beralih kepada mengarahkan pendidikan sebagai pabrik pencetak tenaga kerja terampil ber-background pendidikan selevel SMK. 

Agaknya memang lucu strategi pemerintah menghadapi era ini, dan lebih jauh dari itu langkah tersebut secara jangka panjang akan merendahkan pendidikan, sebab pendidikan dipandang sebagai pencetak tenaga kerja terampil dengan gaji murah tentunya, bukan sebagai inisiator yang menghasilkan berbagaimacam penemuan untuk kemashlahatan masyarakat dan kedaulatan Negara. 

Sebab fungsi pendidikan saat ini telah bergeser kearah mencetak sebanyak mungkin professional dan tenaga ahli. 

Pandangan ini perlu dikoreksi dan disempurnakan, karena pendidikan bukan sekedar metode mentransfer pengetahuan dan teknologi lalu memproduksi kaum professional yang siap menjadi angkatan kerja, atau memproduksi talent-talent jenius yang bisa diberdayakan oleh korporasi global dalam industri mereka. Cara pandang ini berpotensi membahayakan cita-cita luhur kemuliaan peradaban.
Pendidikan menjadi salah satu pilar dominan yang menetukan arah cita-cita peradaban. Sehingga menggariskan tujuan pendidikan dengan benar menjadi kegentingan yang memaksa, dengan tidak menyerahkan begitu saja pada mekanisme arus kehidupan menggiring dunia pendidikan sekehendaknya, namun dikembalikan pada hal yang paling esensial yaitu memanusiakan manusia. 

Sehingga tujuan pendidikan harus dijauhkan dari hal-hal yang bersifat material belaka. Imam al-Ghazali sudah mengingatkan dengan bahasa yang lugas dalam mukaddimah kitab Bidayatul Hidayah, “Jika seseorang mencari ilmu dengan maksud untuk sekedar hebat-hebatan, mencari pujian, atau untuk mengumpulkan harta benda, maka dia telah berjalan untuk menghancurkan agamanya, merusak dirinya sendiri, dan telah menjual akhirat dengan dunia.”

Kesuksesan pendidikan diukur dari kemampuannya memanusiakan manusia dengan kadar yang mulia. Tuhan pencipta manusia Allah SWT telah menggariskan makna kemuliaan tertinggi bagi manusia dalam firmanNya Al Hujurat 13 :

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu.” 

Dengan landasan inilah islam menetapkan tujuan pendidikan yaitu :

(1) Membentuk manusia bertaqwa yang memiliki kepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah) secara utuh, yakni pola pikir dan pola sikapnya didasarkan pada akidah Islam. 

(2) Menciptakan ulama, intelektual dan tenaga ahli dalam jumlah berlimpah di setiap bidang kehidupan yang merupakan sumber manfaat bagi umat, melayani masyarakat dan peradaban - serta akan membuat negara Islam menjadi negara terdepan, kuat dan berdaulat sehingga menjadikan Islam sebagai ideologi yang mendominasi di dunia. 

Dengan tujuan pendidikan seperti ini, output yang akan dihasilkan dari pendidikan Islam adalah generasi yang bertaqwa, tunduk dan taat pada hukum-hukum Allah, bukan generasi yang miskin moralitas, lemah dan tidak memiliki semangat beragama. Tujuan hakiki inilah yang akan menghantarkan kemajuan masyarakat, pembangunan yang produktif dan luhurnya peradaban.[MO/sr]





Posting Komentar