Oleh : Nurindah Fajarwati Yusran
(Marketing Khansa Property)

Mediaoposisi.com-  "Kurs Rupiah terhadap dolar AS kini semakin melemah dan berada di angka 14 ribu rupiah per dolar AS", ini salah satu pemberitaan yang mulai teralihkan dengan pemberitaan baru seputar terorisme yang tidak kalah menghebohkan.

Sejak awal bulan Mei, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terombang-ambing setelah bertahan di angka kisaran Rp 13.800 pada Maret lalu. Tanda-tanda memburuknya nilai tukar rupiah pada dasarnya ditandai day range rupiah berada di kisaran Rp 14.023 hingga Rp 14.023 per dolar AS dimana pelemahan ini tercatat 3,73 persen sejak awal tahun 2018. 

Pada 7 Mei, indeks nilai tukar dollar AS terhadap mata uang utama dunia berada di 90,40%, indeks dollar naik 0,35% ke 90,46%. Menurut Research Analyst FXTM, Lukman Otunuga, pertumbuhan Indonesia tiga bulan ini kurang sesuai perkiraan. Apalagi berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia pada kuartal I/2018 turun sebesar 0,42 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. 

Dilansir Tribunnews.com, Sabtu (12/05/2018), merujuk data Bloomberg, nilai rupiah pada Jumat (11/05) mengalami penguatan ke level Rp 14.028 per dolar AS di posisi penutupan dagang sebelumnya Rp 14.084 per dolar AS. Nampaknya penguatan ini hanya akan bersifat sesaat,  mengingat kurs mata uang Indonesia sangat sering terdepresiasi akibat penguatan mata uang negara maju. 

Bagi pengamat ekonomi ini terdengar wajar dan menjadi hal biasa. Tidak sedikit komentar,  "tidak perlu panik,  pelan-pelan semuanya kembali normal". Tetapi terkahir, Jumat (18/05/17), metronews.com merilis diwakili menteri keuangan Sri Mulyani Indrawati, pemerintah menetapkan usulan asumsi kurs rupiah dalam penyusunan kerangka ekonomi makro pokok-pokok kebijakan fiskal (KEM-PPKF) 2019 dalam rentang Rp13.700-Rp14.000 per USD. Ini menandai jika rupiah harus siap ditekanan Rp.14.000 an per dolar hingga waktu yang tidak diketahui.

Dampak Ekonomi Kapitalis

Tidak hanya Indonesia, rupiah hari ini sejalan dengan sebagian besar mata uang kawasan Asia. Hanya dollar Hong Kong, peso, dan yen yang menguat terhadap dollar AS hari ini. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia, Nanang Hendarsah, menghimbau masyarakat tidak perlu panik terhadap melemahnya kurs rupiah. 

"Depresiasi rupiah sebesar 1,3 persen, lebih kecil dibandingkan India 1,9 persen dan Australia 1,4 persen, " ujar Nanang pada idntimes.com. Bukanlah sebuah prestasi jika selalu menyandingkan peringkat Indonesia dengan negara tetangga yang saat ini berada di depresiasi terendah ke 3 se Asia. 

Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan perkembangan ekonomi Amerika Serikat (AS) menjadi pemicu utama pelemahan rupiah, terlebih kebijakan ekonomi Trump memang fokus untuk menguatkan nilai tukar dolar AS dengan menguasai pasar global. Bank sentral AS, the Federal Reserve (The Fed), diperkirakan lebih agresif dengan tiga kali lagi menaikkan suku bunga. 

Faktor lain yang menjadi pemicu melemahnya nilai tukar disebabkan dampak investasi. Para investor asing dibukakan ruang yang lebar untuk menjadi investor di bidang publik yang berkaitan erat dengan hajat hidup orang banyak seperti pertambangan dan infrastruktur publik.

Adapun hasil dari anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar tahun ini semakin menambah beban utang luar negeri Indonesia dan defisit neraca berjalan meningkat. Sehingga kekuatan nilai tukar uang hari ini dapat memicu kapan saja perang dagang global. 

Hasilnya selama sumber daya strategis dan hajat hidup serta produksi ditentukan pihak asing,  pasar domestik juga di pasok asing,  maka nilai tukar negara akan naik-turun. 

Imbasnya pemenuhan hajat hidup orang banyak tidak akan pernah terselesaikan, ekonomi lesu dan menambah daftar kemiskinan bagi negara-negara berkembang. Sebaliknya negara-negara maju semakin rakus dan terdepan di pasar global.  

Krisis mata uang adalah salah satu faktor yang disebabkan oleh ekonomi kapitalis, dimana mata uang yang nilai nominalnya tidak ditopang oleh nilai yang bersifat melekat pada uang tersebut. 

Uang kertas yang tersebar di masyarakat pada dasarnya berstandar pada kekuatan masing-masing negara,  tidak secara global. Sehingga jika stempel pemerintah memiliki kelemahan ekonomi seperti saat ini,  mata uangnya pun akan ikut melemah. 

Satu-satunya cara untuk menyelesikan krisis global adalah menghilangkan penyebab utamanya yakni sistem ekonomi kapitalis dan menggantinya dengan sistem ekonomi Islam. Dalam menangani mata uang, Islam telah memberikan solusi lewat sistem ekonomi moneter yang stabil dan berkeadilan yang ditentukan oleh dua faktor yakni jenis mata uangnya dan pengunaan mata uangnya. 

Dari sisi mata uang, uang kertas hari ini di pensiunkan dan digantikan dengan emas dan perak. Sebab kedua mata uang ini memilikin nilai intrinsik yang kuat dan stabil yang sama sekali tidak terpengaruh infalsi sebagaimana uang kertas yang digunakan saat ini. 

Sedangkan dalam hal penggunaan mata uang yang benar adalah mengembalikan fungsi mata uang sebagai alat tukar saja, tidak sebagai komoditas sebagaimana saat ini. Namun, implementasi sistem ekonomi khususnya moneter berasas Islam yang menguntungkan semua pihak hanya dapat terlaksana dalam institusi khilafah Islamiyah.[MO/sr]


Posting Komentar