Oleh: Nur Syamsiyah
(Mahasiswi Magister Ekonomi Syariah UIN Malang)

Mediaoposisi.com-  Jutaan warga Indoneisa menggelar aksi solidaritas untuk Palestina yang bertajuk “Indonesia Bebaskan Baitul Maqdis” (11/5) di Monas, Jakarta Pusat. Massa menolak pemindahan Ibu Kota Israel ke Yerussalem. Massa menuntut Pemerintah Amerika Serikat membatalkan pemindahan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Yerussalem.

Tepat pada perayaan 70 tahun kemerdekaan Israel, keputusan Amerika Serikat untuk membuka kedutaan besar di Yerussalem, Senin (14/5), sekaligus mengakui kota tersebut sebagai ibu kota Israel, telah diresmikan dan menuai kecaman keras dari komunitas internasional.

Namun ternyata, keputusan kontroversional itu didukung oleh 32 negara, yaitu dengan mengirimkan duta besar atau pejabat pemerintah untuk menghadiri seremoni pembukaan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Yerussalem. Ke-32 negara tersebut, seperti dikutip dari media Inggris iNews (16/5/2018), antara lain:

1. Albania
2. Angola
3. Austria
4. Kamerun
5. Kongo
6. Republik Demokratik Kongo
7. Pantai Gading
8. Republik Ceko
9. Republik Dominika
10. El Salvador
11. Ethiopia
12. Georgia
13. Guatemala
14. Honduras
15. Hungaria
16. Kenya
17. Macedonia
18. Myanmar
19. Nigeria
20. Panama
21. Peru
22. Filipina
23. Romania
24. Rwanda
25. Serbia
26. Sudan Selatan
27. Thailand
28. Ukraina
29. Vietnam
30. Paraguay
31. Tanzania
32. Zambia

Sejak 1995, Kongres AS mengeluarkan undang-undang yang mengharuskan Amerika Serikat memindahkan kedutaan dari Tel Aviv ke Yerussalem. AS dianggap harus mengahormati pilihan Israel atas Yerussalem sebagai ibu kotanya.

Namun, mantan Presiden AS, seperti Bill Clinton, George W Bush, dan Barack Obama, menolak untuk memindahkan kedutaan tersebut dengan alasan kepentingan keamanan nasional. Oleh sebab itu, setiap presiden Amerika menandatangani keputusan kedutaan Amerika akan tetap berada di Tel Aviv.

Keputusan pemindahan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Yerussalem terus diperbarui setiap enam bulan seali. Juli lalu, Trump menandatangani keputusan tersebut dan berakhir pada bulan Desember 2017. Dalam kampanyenya, Trump juga pernah berjanji akan memindahkan kedutaan Amerika dari Tel Aviv ke Yerussalem. 

Tepat pada hari Senin (14/5) Trump mewujudkan janji kampanyenya tersebut.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melontarkan kritik terhadap keputusan yang dibuat oleh Trump. Erdogan menyebut, keputusan Trump itu seperti ‘bom’ yang dilemparkan ke kawasan Timur Tengah. Erdogan juga menegaskan tudingannya bahwa Israel adalah ‘negara teror’. 

Menjadikan Yerussalem sebagai ibu kota Israel bukanlah situasi yang bisa diterima oleh umat Islam. Hal ini semakin mempererat Israel berdaulat atas kota tersebut dan memicu konflik baru antara Palestina dan Israel.

Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad juga melontarkan kritik terhadap keputusan Trump. Ia menyebut Trump sebagai penjahat.  Mahathir juga mengingatkan, keputusan Trump mengakui Yerussalem sebagai ibu kota Israel akan memicu terorisme.

Tanah itu bukan milikku, tetapi milik umatku. Aku tidak akan melepaskan walaupun segenggam tanah ini (Palestina), karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad demi kepentingan tanah ini dan mereka telah menyiraminya dengan darah mereka. 

Karena itu, silakan Yahudi menyimpan saja harta mereka. Jika Khilafah Utsmaniyah dimusnahkan pada suatu hari maka mereka boleh mengambil Palestina tanpa membayar harganya. Namun, sementara aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat Tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah Islamiyah.”(Khalifah Abdul Hamid II, 1902).

Permasalahan Palestina bukan sekedar permasalahan dalam negeri, namun ia juga permasalahan umat Islam di seluruh dunia. Sudah saatnya, umat Islam bersatu untuk membebaskan al-Quds, Palestina dari cengkraman zionis Israel. Mencari solusi hakiki yang akan menolong Palestina dari kebiadaban Amerika Serikat dan sekutunya.

Palestina membutuhkan dukungan riil untuk menuntaskan persoalan di negaranya. Maka harus ada khilafah, dimana khalifahnya yang akan memimpin pasukan kaum muslimin untuk membebaskan Palestina sebagaimana khalifah Umar dan Salahuddin al-Ayyubi sebelumnya.[MO/sr]

Posting Komentar