Oleh: AM. Ruslan

Mediaoposisi.com- Masih ingat tragedi memalukan awal Ramadhan tahun lalu? Ya? Acara seminar tentang Khilafah dan Keindonesaian yang seyogianya menghadirkan guru besar fakultas hukum Undip Prof. Dr. Suteki M. Hum, yang ditemani narasumber lain yang juga dosen Fisika Undip Choirul Anam, M.Si, di hotel candi Semarang batal trrselenggara. 

Pihak berwewenang dalam hal ini aparat kepolisian melarang acara tersebut, alasannya juga tidak jelas. Yang jelas hanyalah ACARA SEMINAR TENTANG KEISLAMAN, KEINDONESIAAN DAN KEKHILAFAHAN ITU TIDAK BOLEH ADA. TITIK!!!

Prof. Suteki mengutarakan kekecewaannya beliau dalam postingan facebook menganggap ini adalah sebuah bentuk intimidasi dan pembungkaman suara-suara ilmuwan atau bentuk PERSEKUSI ILMUWAN, beliau mempertanyakan kepada pihak yang melarang acara tersebut, 
" Mengapa acara seperti ini tidak boleh diselenggarakan?

Apakah Guru besar seperti saya pun "tidak berhak" untuk mengupas, menyandingkan, menandingkan antara Islam, Keindonesiaan serta Khilafah?" Tanya beliau di status Facebooknya. 

Keheranan beliau juga bertambah karena beliau bukanlah anggota HTI, Beliau hanya mencoba mendudukan bagaimana relasi atau hubungan antara agama dan negara secara keilmuan. Ini adalah sesuatu yang baik dan tidak memiliki unsur bahaya sedikitpun

"Kadang saya ini heran juga, wong saya ini bukan anggota HTI. Saya hanya ingin mendudukkan bgm Relasi antara agama dan negara secara keilmuan. Relasi antara Kitab suci dan Konstitusi. Bagaimana kedudukan Pancasila dlm kehidupan berbangsa, bermasyarakat dan bernegara. So..bisakah Indonesia dengan sistem khilafah.. Ini didiskusikan secara terbuka. Disaksikan orang banyak, tdk ada rencana makar juga..laaah bahayanya di mana?" Ungkap guru besar hukum UNDIP tersebut di postingannya.

Dan diakhir kekecewaan beliau mempertanyakan para politisi atau orang-orang yang dengan sombongnya melontarkan slogan ILMU BEBAS NILAI dan sebuah tantangan bagi para ilmuwan yang berani lantang bersuara di negeri antah berantah ini.

"Masihkah kita berani menyombongkan diri dan berkata: Sungguh ilmu itu bebas nilai!?
Pintu telah tertutup, tinggal jendela kecil untuk hirup segarnya udara berdebu. Masih adakah ilmuwan sejati bertahan di negeri ini?
##INIKAHPERSEKUSIILMUWAN?"

Ternyata tidak sampai di situ rupanya PEMBUNGKAMAN SUARA KEBENARAN & KEBEBASAN BERPENDAPAT dilakukan dalam dunia DEMOKRASI ini.

Guru besar Hukum yang mengampu mata kuliah PANCASILA, hukum dan lainnya ini, dipanggil oleh pihak Kampus karena menganggap Prof. Suteki melanggar kode etik ASN dan ANTI PANCASILA.

Tuduhan ini sangatlah LUCU kalau enggan berkata SANGAT TIDAK MASUK AKAL! Mengapa? Jawabannya sederhana, KARENA BELIAU DOSEN YANG MENGAMPU MATA KULIAH PANCASILA DAN SUDAH MENGAJAR SELAMA 24 TAHUN! Ditambah lagi bahwa beliau mendapat penghargaan sebagai peserta terbaik dalam PENATARAN P4.

Mengenai tuduhan kepada beliau yang Pro Khilafah karena menjadi saksi ahli di pihak HTI, maka ini juga merupakan tuduhan yang menggelikan. Khilafah adalah ajaran Islam dan Prof. Suteki sebagai akademisi yang jujur akan keilmuan beliau menyampaikan apa adanya tentang HUKUM PROGRESIF dan KEKHILAFAHAN.

Maka jelaslah sekarang, bahwa jika ada yang berseberangan dengan kepentingan REZIM, maka bisa dipastikan dia ANTI PANCASILA. Meski ia DOSEN PENGAMPU PANCASILA DAN GURU BESAR HUKUM sekali pun.

Inilah gambaran NEGARA DEMOKRASI. KEBUSUKAN,  KEBOBROKAN dan KEKACUAN lah yang akan terus ada. Padahal jawaban dari permasalahan segala bentuk negeri ini amatlah sederhana. 

KAPASITAS NEGARA UNTUK MENJAMIN SUARA/PENDAPAT/GAGASAN ILMUWAN ATAU TOKOH BAHKAN ORMAS TERTENTU.. HANYA ITU!!! BUKAN MALAH MERAMPAS KEBEBASAN MEREKA.

Apakah ini tanda bahwa REZIM TELAH KALAH SECARA INTELEKTUAL? [MO/sr]

Posting Komentar