Oleh : Maftucha Ismail

Mediaoposisi.com- Jika anda saat ini jadi orang tua atau paling tidak yang punya saudara, anda akan memilih mana, anak atau saudara yang pergaulannya bebas, jika sekolah tidak serius alias suka bolos, suka contekan, tidak hormat pada guru dan orang tua, pakai narkoba, dan mungkin saja hamil diluar nikah.

Atau anaknya rajin sekolah dan berprestasi, tapi pergaulannya buruk. Opsi ketiga anda memilih anak atau saudara yang taqwa, rajin beribadah karena dia sadar itu adalah kewajiban sebagai seorang hamba, rajin sekolah dan berprestasi, akhlaq nya bagus, pergaulannya juga tidak ngawur. Anda memilih yang mana?

Tentu orang tua manapun akan memilih opsi yang terakhir, entah orangtuanya berpendidikan atau tidak tapi pasti mengharapkan bahwa anak beserta keturunannya menjadi orang yang baik.
Pertanyaannya adalah apakah kondisi semacam itu bisa tiba tiba terwujud tanpa ada sebuah proses? Tanpa ada edukasi? Bisakah kita mengharap kondisi yang semacam itu tapi berkacanya pada budaya barat, yang bebas, ibadah ya pacaran tetap, dugem dan sebagainya juga tetap jalan.

Faktanya semakin hari kita disuguhi dengan kondisi yang sebaliknya, narkoba seolah menjadi momok bagi remaja remaja kita, ber ton ton sabu masuk ke Indonesia dengan sangat mudah. 

Tidak hanya narkoba, pergaulan bebas menjadikan anak anak kita putus masa depannya, adanya kasus seorang peserta ujian masuk perguruan tinggi melahirkan di toilet, serta siswi SMP hamil diluar nikah oleh bocah yang masih duduk di bangku SD adalah gambaran betapa pergaulan anak anak kita luar biasa rusaknya. Apa yang bisa menyelamatkan kondisi yang luar biasa buruk ini?

Tiada lain dan tiada bukan solusi atas kerusakan ini adalah dakwah. Dakwah adalah proses upaya untuk merubah suatu kondisi ke kondisi yang lebih baik sesuai ajaran Islam, atau proses mengajak manusia ke jalan Allah yakni al islam. 

Kenapa Islam? Karena kita meyakini bahwa Islam memiliki konsep kehidupan yang sempurna. Islam memiliki panduan dalam hal bagaimana manusia bergaul, berakhlaq, bermuamalah, bahkan Islam juga memiliki konsep kehidupan bernegara.

Islam mengajarkan kepada manusia bagaimana dia harus berprilaku, mana yang wajib, sunnah, mubah, makruh atau haram. Tentunya semua berawal dari proses membentuk keimanan yang benar terlebih dahulu. Dengan proses dakwah maka remaja kita akan tahu bagaimana menempatkan serta memandang kehidupan ini, sehingga tidak mudah terombang ambing dengan godaan dunia, dia tahu mana yang halal dan mana yang haram.

Karena dakwah adalah proses merubah kondisi buruk menjadi lebih baik sesuai dengan aturan Allah, maka penyampaian dakwah juga harus mengikuti bagaimana teladan kita Rasulullah mencontohkan, beliau mencontohkan bahwa menyeru manusia tidak boleh menggunakan kekerasan haruslah disampaikan secara pemikiran, sehingga terbukalah akal dan hatinya untuk berubah. 

Maka lihatlah bagaimana dakwah Rasulullah bisa merubah sosok Umar, dalam sebuah kisah diceritakan bahwa Rasulullah suatu saat melihat Umar tersenyum senyum sendiri dan kemudian menangis. Rasul bertanya ada apa dengan mu Umar? Sebentar senyum sebentar menangis.

Kemudian Umar bercerita dia tersenyum karena teringat kebodohannya dahulu ketika sebelum masuk Islam dia suka membuat patung untuk disembah, yang mana patung itu terbuat dari makanan, maka suatu saat jika dia lapar maka dimakanlah sedikit sedikit patung itu sampai hilang anggota badannya.

Kemudian dia menangis ketika teringat bahwa dimasa jahiliyah dia punya anak perempuan, padahal waktu itu punya anak perempuan adalah sebuah hal yang memalukan atau aib, maka dikuburlah hidup hidup anaknya tersebut, jika teringat hal itu umar selalu menangis takut akan dosa yang pernah dia lakukan.

Demikian pula dengan sahabat Bilal, manusia yang diperbudak ini akhirnya menjadi manusia mulia yang merdeka, bahkan beliau adalah muadzin yang sebelum meninggal saja bakiak atau sandal nya sudah terdengar berada di syurga.

Tidak kalah hebat yakni sahabat Mush'ab bin Umair, beliau sebelum berislam adalah seorang bangsawan yang hidupnya penuh dengan kemewahan, tapi karena keislamannya beliau diusir oleh ibundanya sehingga jadilah beliau seorang yang tidak memiliki apa apa. Tapi dengan dakwah Islam kemewahan tidaklah sebanding dengan harga keimanan.

Sungguh sangat aneh jika kemudian saat ini dakwah menjadi sesuatu yang ditakuti, dianggap berbahaya, bahkan dikriminalkan, para Da'i nya dipersekusi. Sebagai contoh Ustad Abdus Shomad, Ustad Felix Shiauw yang beliau memiliki andil yang luar biasa dalam menyadarkan masyarakat dan anak anak remaja untuk menjadi manusia yang baik, menutup aurat bagi yang muslimah, mengajak remaja supaya punya visi misi hidup yang jelas.

Itulah sumbangan yang tidak ternilai harganya dari dakwah Islam. Dakwah kepada Islam adalah kewajiban, wujud kecintaan muslim kepada sesamanya. Dakwah adalah aktivitas utama para Nabi maka sudah sepatutnya dihargai bahkan diberikan kemudahan supaya proses perubahan ke arah yang lebih baik ini menjadi lebih cepat.[MO/sr]


Posting Komentar