Oleh: Siti Aisyah 
(Kordinator Komunitas Muslimah Menulis) 

Mediaoposisi.com- Saat ini  kaum Muslim, tengah   ditimpa berbagai  ujian yang datang silih berganti. Allah SWT  hendak menguji kesungguhan keimanan kaum Muslim  agar dapat diketahui siapa yang benar-benar beriman atau pura-pura beriman alias berbohong.  Siapa yang sabar, siapa yang kufur.

Siapa yang munafik dan siapa yang siap berjihad atau yang lari dari medan jihad kerena lemah iman.

Seperti yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 214 yang artinya :

Apakah kalian mengira akan (dapat) masuk surga sedang belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan serta digoncang (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat” (QS. Al-Baqoroh [2]: 214).

Ujian  yang terberat saat ini bagi  kaum Muslim umumnya dan para pengemban dakwah khususnya,  salah  satunya adalah pendiskriminasian ajaran Islam mulai dari cadar  sampai   ide khilafah. Kita bisa lihat, goncangan  yang bertubi-tubi dari musuh-musuh Islam  sedang mengepung kaum Muslim. Saat ini mereka sedang berusaha untuk membangun opini  dan  stigma negatif tentang ajaran Islam.

Salah satunya mendiskriminasi cadar. Mulai dari pelarangan menggunakan cadar bagi Muslimah di perguruan tinggi, seperti di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Suka) Yogyakarta berencana untuk mengeluarkan kebijakan yang melarang mahasiswinya mengenakan cadar (penutup muka) dalam aktivitas belajar mengajar di dalam kampus.

Bahkan, pihak kampus juga akan memecat mahasiswi tersebut jika tidak bersedia melepas cadar setelah melalui beberapa proses tahapan pembinaan (republika.co.id,jakarta).

Begitu juga dengan  sepenggal bait puisi yang dibawakan oleh Sukmawati yang  mengandung  sara,  menghina aturan Sang Pencipta.  Secara terang-terangan Sukmawati mengatakan bahwa konde lebih indah dari pada cadar.

Dan yang tak kalah menyakitkan lagi yaitu cadar diidentikkan dengan terorisme. Perempuan yang bercadar, berkerudung lebar, dan pakaian yang serba hitam, selalu dikaitkan dengan terorisme, terkadang mereka juga sering disebut dengan istri para terorisme.

Diduga dari tiga perempuan  pelaku peledakan bom gereja Surabaya, dua di antaranya mengenakan cadar dan satu orang mengenakan celana (banjarmasinpost.co.id).

Sama hal dengan cadar,  ide khilafah pun  didiskriminasi.  Berbagai cara untuk menghadang tegaknya ide khilafah  terus digencarkan oleh  musuh-musuh Islam. Barat, melalui kaki tangannya yaitu para penguasa Muslim  telah melakukan monsterisasi, bahwa ide khilafah dilabeli ajaran berbahaya,  Barat juga melakukan indoktrinasi paham sekular terhadap para penguasa di negeri-negeri Muslim.

Jika cara yang seperti itu tidak mampu  menjegal ide khilafah, maka penguasa  akan  melakukan  tindakan represif terhadap para aktivis pejuang Khilafah. Inilah yang dialami oleh beberapa aktivis yang memperjuangkan ide khilafah di berbagai negeri Muslim, termasuk di Indonesia.

Penguasa di negeri ini tampak represif untuk mencegah berkembangnya ide khilafah di Indonesia dengan menerbitkan perppu nomor 2 tahun 2017 yang pada akhirnya membubarkan ormas Islam pengusung ide khilafah. 

Sampai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Wiranto, dalam rekaman wawancara dengan Karni Ilyas yang disiarkan pada program Indonesia Lawyers Club, mengumpamakan ormas anti-Pancasila seperti sel-sel kanker yang berbahaya bagi tubuh.

Pemerintah harus membunuh sel-sel kanker itu agar tidak menjalar dan merusak organ tubuh. Dan yang lebih parah lagi, hakim PTUN, memonis perjuangan menegakkan khilafah yang dilakukan HTI sebagai extra ordinary crime (kejahatan yang luar biasa).

Dengan didiskrminasinya cadar dan ide khilafah, mereka hendak memadamkan cahaya Islam dan menanamkan kepada umat agar phobia terhadap ajaran Islamnya sendiri.  Padahal  sejatinya cadar dan berdakwah memperjuangkan khilafah  salah satu dari ajaran Islam seperti halnya ibadah shalat. Semua ajaran Islam itu harus ditunaikan, jika tidak kita akan berdosa.

Ketika  cadar dan  ide khilafah telah didiskriminasi,  yang akhirnya menjadikan sebagian masyarakat terpapar  imbasnya, mereka seakan  takut jika hendak   berhubungan dengan teman, rekan atau tetangga yang terlihat memakai atribut keislaman dan yang selalu dibicarakannya khilafah.

Inilah ujian terberat kita, khususnya sebagai pengemban dakwah.  Ketika masyarakat telah phobia dengan Islam, bagaimana sikap kita sebagai seorang pengemban dakwah?Apakah masih  akan tetap konsisten terus  maju untuk berdakwah, berdiam diri atau akan lari dari tugas dakwah ini?

Semuanya dikembalikan kepada diri masing-masing. Namun, jika ujian ini menjadikan pengemban dakwahnya jadi enggan dan tidak mau berdakwah lagi, itulah yang sangat disayangkan dan dipertanyakan keimanannya.  Padahal harusnya dakwah adalah pilihan  dan poros utama bagi setiap kaun Muslim.

Seorang pengemban dakwah,  yang  tetap teguh istiqamah dalam jalan dakwah, pastinya mereka  adalah orang-orang pilihan  yang hidup dan matinya untuk berjuang di jalan Allah, walau segala aral melintang tetap teguh di jalan dakwah. Pengemban dakwah yang tetap istiqamah, pastinya mereka senantiasa akan memahami bahwa mereka harus berjalan sesuai dengan perintah dan larangan Allah.

Ketika seorang pengemban dakwah  sudah memahami  dengan benar, (dari mana kita berasal? Untuk apa hidup di dunia? Dan akan ke mana kita setelah mati?), maka ia akan senantiasa  melaksanakan seluruh  ajaran Islam secara kaffah, mulai dari   ibadah yang berhubungan manusia dengan Penciptanya (seperti shalat, zakat, puasa, haji).

Ibadah yang berhubungan  dengan diri sendiri (seperti makanan, pakaian, minuman, akhlak) dan melaksanakan  juga ibadah yang berhubungan dengan sesama manusia (seperti, muamalah,  pendidikan, sistem pergaulan, sistem sanksi, sistem pemerintah yang di dalamnya membahas khilafah).

Ketika  pemahaman  Islam kaffah telah  memutajasad dalam dirinya, maka lisan para pengemban dakwah yang sedang berjuang menegakkan khilafah senantiasa  basah dengan dzikir kepada Allah, dipenuhi dengan ketakwaan dan anggota badannya senantiasa bergegas melaksanakan berbagai kebaikan.

Akhlahnya baik, tutur katanya manis dan senantiasa menyerukan amar ma’ruf  nahi munkar.

Begitu juga, langkahnya pun pasti. Pengemban dakwah tidak terpengaruh dengan caci makian orang-orang yang memaki. Mereka bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang terhadap orang Mukmin tapi bersikap keras dan terhormat di hadapan orang kafir. Yakinlah, ketika kita membela agama Allah, pasti Allah akan membela kita.

Karena itu, wahai  para pengemban dakwah,  bersegeralah menggapai  ridha dan ampunan-Nya,  dengan tetaplah istiqamah  di jalan dakwah ini,  sampai tiba waktunya Allah memanggil kita untuk pulang.  Yakinlah akan  semua itu dilakukan untuk menggapai syurga dan pertolongan-Nya serta keberuntungan di dunia dan akhirat.[MO/sr]





Posting Komentar