Oleh : Tety Kurniawati 
(Anggota Akademi Menulis Kreatif)

Mediaoposisi.com- Setiap Tanggal 2 Mei Bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional atau lebih dikenal dengan singkatan HARDIKNAS. Hari ini bertepatan dengan kelahiran sosok pejuang bangsa yaitu Ki Hadjar Dewantara. Beliau adalah tokoh pelopor dunia pendidikan Indonesia sekaligus pendiri Taman Siswa.

Peringatan Hardiknas sejatinya merupakan salah satu momentum bagi dunia pendidikan untuk mengevaluasi kinerjanya. Sudahkah output dunia pendidikan menghadirkan pribadi-pribadi ideal yang dicita-citakan?

Faktanya, jelang peringatan Hardiknas kejadian-kejadian yang menampar wajah dunia pendidikan justru menghias media pemberitaan. Aksi tawuran melibatkan dua kelompok pelajar di jalan lingkar arteri Kaliwungu,  Kamis (19/4) petang mengakibatkan seorang korban tewas.

Korban,  Wahyu Purnomo (17) warga Desa Turunrejo Kecamatan Brangsong, tewas setelah mendapat perawatan intensif di rumah sakit Dokter Suwondo ( Rmoljateng.com 20/04/2018).

Beberapa hari berselang, aksi tawuran pelajar berujung maut kembali terjadi di Kecamatan Sukalarang, Kabupaten Sukabumi. Zidan Nurholis (15 tahun) siswa MTs Ar-Rahmah Sukaraja, warga Kampung Pasar Rebo RT 03/03, Desa Selaawi, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi meninggal di RSUD R Syamsudin SH Kota Sukabumi, pukul 07.00 WIB ( Radarsukabumi.com 28/04/2018).

Institusi pendidikan yang seharusnya mencetak generasi gemilang penerus peradaban,  masih belum mampu mewujudkan harapan. Silih bergantinya kurikulum seiring bergantinya menteri tak juga menghadirkan solusi.

Pendidikan karakter yang dianggap mampu menekan kenakalan remaja dan memperbaiki moral anak didik ternyata masih kerdil dalam penerapan. Buktinya maraknya tawuran dan perilaku anak didik yang amoral.

Kegagalan sistem pendidikan Indonesia terutama disebabkan oleh penerapan ideologi sekuler sebagai azas dasar sistem pendidikan. Iklim pendidikan yang lebih menuntut anak didik untuk mendapatkan nilai tinggi tanpa diimbangi pendidikan agama yang memadai.

Telah menghasilkan generasi yang split personality  (berkepribadian pecah). Maka tak mengherankan jika generasi yang kita temui kebanyakan saat ini adalah generasi yang pragmatis, instan dan konsumtif.

Mudah terpengaruh tuk melakukan kenakalan remaja dan prilaku amoral karena ketidakmatangan pola pikir dan pola perilaku. Selain itu lemahnya tiga unsur pendidikan : pertama, disfungsi keluarga sebagai faktor utama pembentuk karakter anak.

Kedua, sikap permisif masyarakat khususnya sekolah terhadap kenakalan remaja dan perilaku amoral.

Ketiga, negara sebagai penerap aturan sekaligus penegak hukum kurang tegas dalam membendung  konten kekerasan dan pornografi.

Hal ini tentu sangat berbeda dengan apa yang bisa kita temui dalam naungan Islam. Sistem pendidikan Islam mensyaratkan peserta didik untuk tidak sekedar menguasai ilmu pengetahuan dan tekhnologi semata. Namun juga memiliki pemahaman ajaran agama yang mumpuni.

 Para peserta didik dibimbing pemikirannya untuk selalu menjadikan  Islam sebagai qiyadah fikriyahnya. Disertai proses tazkhif ( pembinaan) yang terus berkesinambungan agar bisa menghasilkan peserta didik yang berkepribadian Islam. Kurikulumnya pun disusun berdasarkan aqidah Islam.

 Konsekuensinya, setiap pola pikir dan pola perilaku anak didik akan senantiasa diniatkan sebagai bentuk ibadah mengharap ridho Ilahi. Halal haram senantiasa jadi pedoman dalam berprilaku dan menjadi benteng dari tiap pengaruh buruk yang siap merusak generasi.

 Sejarah telah menulis dengan tinta emas bagaimana penerapan sistem pendidikan Islam telah menghadirkan banyak ilmuwan dan cendikiawan muslim, antara lain Alhazen, ilmuwan Islam yang ahli dalam bidang sains, falak, matematika, geometri,  pengobatan, dan filsafat. Al Khindi, ilmuwan ensiklopedi, pengarang 270 buku, ahli matematika, fisika, musik, kedokteran, farmasi dan geografi. Ibnu Sina pengarang 450 buku filosofi dan kedokteran.

 Dan masih banyak cendekiawan muslim lainnya. Waktu mereka terdedikasikan sepenuhnya untuk meraih kemajuan dan kesejahteraan umat sebagai wujud nyata ketundukan atas syariat-Nya.

Demikianlah jika negara ingin terbebas dari kenakalan remaja khususnya tawuran dan perilaku amoral di kalangan pelajar. Maka menerapkan sistem pendidikan Islam sebagai pengganti sistem pendidikan kapitalis yang sekuler perlu diwujudkan. Sistem yang mampu menguatkan fungsi unsur pendidikan. Pertama, mengembalikan peran  orang tua untuk mencetak generasi yang bertakwa.

Sesuai firman Allah: "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan" ( QS. At Tahrim : 6). 

Kedua, memastikan adanya aktivitas amar ma'ruf nahi mungkar dalam masyarakat sebagai wujud kontrol sosial.

Ketiga, memastikan hadirnya penguasa yang mengurusi dan bertanggungjawab terhadap urusan rakyatnya. Penguasa yang dengan kebijakannya mampu membendung masuknya konten kekerasaan dan pornografi yang dapat merusak generasi.

Menegakkan hukum yang mampu memberi efek cegah sekaligus efek jera bagi kenakalan pelajar.  Sehingga muncul generasi cemerlang yang mampu menghadirkan kembali masa-masa kejayaan Islam.[MO]

Posting Komentar