Oleh : Nina Nisfullaili

Mediaoposisi.com- Presiden Jokowi kritik Pertamina akibat tidak eksplorasi minyak dalam jumlah besar sejak 70 tahun terakhir. Padahal pemerintah telah melakukan pemangkasan regulasi sebanyak 186 aturan yang dapat menghambat masuknya investor ke tanah air.

Hal ini dilakukan oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan agar investor semakin mudah berinvestasi tanpa aturan yang berbelit-belit seperti sebelumnya.

Padahal eksplorasi minyak ini merupakan investasi yang paling besar di suatu negara. Jadi Jokowi sangat menyayangkan kenapa sekitar 70 persen eksplorasi yang dilakukan oleh Pertamina justru proyek itu masih dalam skala kecil.

Jika dilihat dari aturan Perpres tentang Penanaman Modal Asing (PMA), disebutkan bahwa ekplorasi jasa pemboran migas di laut saja untuk PMA maksimal 75%, artinya dari aturannya saja sudah mempermudah investor asing untuk mengeksplorasi besar-besaran kekayaan alam yang ada di tanah air.

Padahal jika kembali pada undang-undang yang telah tertera sejak zaman kemerdekaan bahwa seluruh kekayaan alam yang ada di tanah, laut maupun udara menjadi hak yang harus dirasakan demi kesejahteraan rakyat.

Artinya seluruh sumber daya alam yang ada di tanah air merupakan hak yang wajib dinikmati oleh rakyat Indonesia. Namun dengan terbitnya Perpres ini menjadi bertolak belakang dengan apa yang telah ditetapkan di awal pembentukan negara Indonesia.

Selain itu pemerintah yang seharusnya memberikan kemudahan demi kesejahteraan rakyat, justru dengan adanya Perpres ini menjadikan rakyat Indonesia tersungkur dengan sendirinya akibat ulah pemerintah itu sendiri. Bukan malah memberikan kemudahan bagi asing untuk bisa masuk secara bebas dengan adanya Perpres ini.

Ditambah keberadaan MEA yang mulai diberlakukan sejak awal tahun 2016 lalu yang menjadikan pengusaha asing semakin mudah keluar masuk wilayah Indonesia. Sehingga wajar ketika banyak pengangguran terjadi akibat banyaknya TKA yang masuk ke perusahaan yang ada di Indonesia.

Belum lagi investor yang semakin dipermudah langkahnya memasuki tanah air membuat mereka semakin gembira untuk berinvestasi di perusahaan besar di Indonesia yang sebagian besar saham dari BUMN sekalipun telah dikuasai oleh swasta.

Hal ini menjadi fakta yang miris sekali. Kenapa hal itu bisa terjadi di tanah air Indonesia. Negara kepulauan dengan sumber daya alam yang melimpah, justru kesulitan untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Artinya fakta yang ada tidak sesuai dengan apa yang seharusnya.[MO]

Posting Komentar