Oleh: Lili Agustiani, S. Pd
(Pemerhati Masalah Sosial)

Mediaoposisi.com-  Pernahkah anda punya utang? Bagaimana perasaan anda ketika masih punya utang, atau bagaimana perasaan anda jika baru saja melunasi utang? Bagi penulis sendiri, bebas dari jeratan utang adalah kebahagiaan yang tiada tara.

Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Rasanya bebas, tentram, damai, tidak ada lagi yang difikirkan, dan yang paling terpenting adalah bisa nabung.

Namun di zaman sekarang kerap sekali kita mendengar, kalau tidak berutang kita tidak punya apa-apa. Tidak bisa beli rumah, kendaraan dan perabot rumah tangga. Bahkan untuk kebutuhan perut pun kita masih sering berutang.

Begitulah gambaran hidup di era zaman now. Pemimpin adalah contoh bagi bawahannya. Kalau pemimpinnya saja masih doyan utang, maka jangan heran jika bawahannya juga mengikuti jejaknya.
Kita lihat saja utang Negara yang telah diwariskan dari tahun ke tahun oleh para pemimpin negeri ini. Bukannya mengalami penurunan malah sebaliknya. Dikutip dari situs pikiran-rakyat.com/ekonomi/2018/03/21.

Peneliti Institute Development of Economics and Finance (Indef). Ahmad Heri Firdaus mengatakan utang Indonesia dalam tiga tahun terakhir mengalami pertumbuhan cukup pesat. Dalam APBN 2018, Kementerian Keuangan menyatakan total utang pemerintah mencapai Rp 4.772 triliun. Namun jika menelisik data outstanding Surat Berharga Negara sudah mencapai Rp 3.128 triliun.

Sementara utang luar negeri pemerintah mencapai 177 miliar Dolar AS atau  sekitar Rp 2.389 triliun (kurs 13.500). Selain itu utang luar negeri swasta mencapai 172 miliar Dolar AS atau sekitar Rp 2.322 triliun.

Sementara itu Peneliti Senior Indef Faisal Basri mengatakan pemerintah menggeser dominasi utang luar negeri melalui penerbitan Surat Berharga Negara namun SBN yang dimiliki asing mendominasi sejak 2014 hingga mencapai 39,5 persen.

Menurut Faisal, dominasi asing ini perlu diwaspai karena rentan. Jika terjadi capital outflow, akan sangat beresiko bagi stabilitas ekonomi.

"Jika bergantung pada SBN itu sama dengan bersender pada mekanisme pasar. Ada kebijakan Amerika naikan suku bunga saja, investor bisa ‎langsung jual," ujar dia.

Bank Indonesia (BI) melansir utang luar negeri Indonesia sebesar US$ 358,7 miliar atau sekitar Rp 5. 043 triliun pada akhir maret 2018, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar US$ 357,19 miliar atau sekitar Rp 4.929,2 triliun. Jumlah tersebut naik 8,7% secara tahunan (year on year), lebih pesat dibandingkan pertumbuhan pada periode sama 2017 yang sebesar 2,9%.

Hal ini dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Direktur Utama PT Garuda Berjangka, Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan melemah pada hari ini. Bahkan pelemahannya bisa diproyeksi bisa mencapai Rp14.235 per dolar AS.

Jika kita berbicara tentang utang piutang maka ini adalah masalah yang pernah dialami oleh setiap manusia. Karena dalam Islam sendiri membolehkan untuk berutang dengan syarat yang ditentukan oleh syara. Salah satunya adalah tidak ada riba atau tambahan atas utang tersebut. Sementara utang luar Negeri yang dilakukan oleh pemerintah saat ini adalah terlibat dengan riba atau bunga atas pinjaman. Ini jelas bertentangan dengan Islam.

Dalam Al-Qur’an telah jelas Allah swt berfirman “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa Riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak Menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (Q.S. Al-Baqarah: 278-279)

Rosullullah saw juga bersabda “Allah melaknat yang memakan (hasil) riba, yang memberi riba, penulisnya, dan dua saksinya jika mereka mengetahuinya.” (Hadits ini diriwayatkan dari berbagai jalan, di antaranya riwayat Muslim dari Jabir, Ath-Thabarani dari Abdullah bin Mas’ud; Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari hadits Abdullah bin Mas’ud.)

Pada kenyataannya, utang luar negeri yang dilakukan pemerintah saat ini tidak mendatangkan manfaat. Justru atas ini negeri-negeri kafir penjajah lebih leluasa menjajah dari sisi ekonomi, serta mengeksploitasi kekayaan alam. Justru Negara tidak akan menjadi mandiri karena menumpuknya utang luar negeri.

Mari kita kembali kepada aturan yang Allah turunkan bagi setiap penghuni bumi ini. Hanya aturan dari Allah sang pencipta manusia yang mampu mengantarkan negeri ini pada kesejahteraan dan mengangkat derajatnya dari keterpurukan dan kemiskinan akibat penjajahan negeri kafir.[MO/sr]

Posting Komentar