Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-  Hehe, dalihnya bela bangsa, bela negara, membumikan asas negara, mengkristalkan ideologi bangsa. Usut punya usut, ternyata mereka hanya kumpulan orang tua lapar.

Dalihnya bukan usulan saya, dalihnya itu urusan negara, dalihnya ini pengabdian, jika ada kompensasi itu operasional, bukan gazi. Usut punya usut, ternyata mereka hanya kumpulan orang tua lapar.

mungkin THR dan gaji ke-13 untuk PNS tidak saja membuat iri dan meradang pegawai honorer. Para bapak bangsa, ibu bangsa, kakek dan nenek penjaga ideologi negara, juga manusia. Ini mau Lebaran, ada kunjungan cucu, ada kunjungan anak, stoples masih kosong, sirup belum beli, daging rendang belum teralokasi. Jadi, wajar kalau ada orang tua lapar, jadi jangan menyalahkan, itu ekspresi yang wajar ditengah kegelisahan dan ketidakmenentuan.

Jangankan rakyat kecil, jangankan pegawai honorer, kakek-nenek penjaga ideologi bangsa saja khawatir menjelang lebaran. Ini karena kedunguan dan ketidakbecusan rezim mengelola negara, melayani rakyatnya.

Jadi, jangan nyinyir pada kakek-nenek yang lapar, yang butuh bekal jika ada anak cucu handai taulan sungkem kerumah. Butuh beli sirup, roti sagon, kue nastar, rengginang, kopi kapal api, kerupuk Selondok dan hidangan sejenisnya. Butuh juga ketupat dan rendang sapinya, jadi berdamailah dengan keinginan mereka, justru kita harus mengecam rezim yang tidak becus melayani kebutuhan rakyatnya.

Tapi, itu kelewatan juga sich, nominal yang besar, ditengah pegawai honorer yang menjerit, ditengah rakyat yang tercekik. Yang PNS, berempati lah. Bayangkan, selain gaji ke-13, THR satu bulan gaji, ditambah gaji awal bulan menjelang Idul fitri. Luar biasa, 3 (tiga) bulan gaji dikumulasi pada hari nan fitri ini.

Karena itu, berbagilah, bersedekahah, dan jangan mau dipecah belah rezim dengan pemberian yang sebenarnya adalah hak kalian. Gaji dan THR adalah satu hal, pemilu dan Pilpres adalah hal yang lain. Tetaplah mandiri dalam pilihan politik.

Kepada kakek nenek yang menjaga ideologi bangsa, sudahlah jangan kemaruk harta, biarkan saja harta itu berada di perbendaharaan negara. Masih banyak rakyat yang membutuhkan, jika benar kakek dan menek yang ada disana adalah seorang negarawan.

Tapi jika itu yang diharap, ah sudahlah. Kedok saja membela ideologi negara, karena faktanya semua tak lebih berjuang untuk mempertahankan hidup, mengisi isi perut, terus berbusa dengan jampi ideologi negara, terus menyebar fitnah dengan dalih ideologi negara, padahal Anda sedang menghalangi hukum Allah SWT.

Wahai kakek nenek, usia kalian sudah udzur, lebih baik mendekat kepada Allah, membela syariat Allah, ketimbang berjibaku membela hawa nafsu. Ingat, saat di yaumul hisab kelak hukum Allah SWT yang akan dijadikan pedoman, Alquran dan as Sunnah, bukan ideologi bangsa.

Berbekalah, untuk hari dimana kematian akan datang. Bela-lah, setiap insan yang memperjuangkan syariat Islam. Ramadhan ini, boleh jadi Ramadhan terakhir. Jangan mengakhiri hidup, dengan stempel sejarah sebagai penggalang risalah Islam.

Khilafah adalah janji Allah, bisyaroh Rasulullah. Dukung janji itu, lindungi bisyaroh itu, bukan malah menebar teror, fitnah dan ancaman. Saya katakan kepada Anda, ajal sedang mengintai Anda, malaikat maut sedang antri menunggu waktu, untuk mencabut nyawa Anda. Bertaubatlah ! [MO/sr]

Posting Komentar