Oleh : Winda Sari 
(Mahasiswi Universitas Jember)

Mediaoposisi.com- Gemetar rindu nan takjub diri ini ketika mendengar kalimatullah. Lantunan syahdu ayat-ayat cinta Nya membuat hati tenang dan yakin akan kuasa Nya. Seperti itulah seorang muslim kiranya terhadap apa-apa yang berhubungan dengan agamanya.

Ketika agamanya menyeru pada kebaikan maka seketika itu pula langsung dilaksanakan begitupun ketika agamanya memerintahkan untuk meninggalkan kemungkaran, tak ada kata nanti melainkan langsung ditinggalkan. Hal inilah yang dikerjakan oleh para sahabat Nabi dulu. Tapi, hal itu tidak hanya berlaku di masa Rasulullah SAW saja, sekarangpun hal tersebut masih tetap berlaku. Sejatinya muslim itu menjadikan agamanya, Islam, sebagai ideologinya.

Bukan hanya sebagai gelar belaka, gelar muslim, tetapi tidak patuh apa yang diperintahkan agama. Dalam agama Islam, tidak hanya mengatur tentang sholat, zakat, puasa, haji. Mungkin banyak yang sudah mengatakan bahwa Islam itu mengatur masalah kehidupan, semua aspek kehidupan termasuk urusan politik, ekonomi, sosial. Hanya menegaskan kembali, ketika Islam memerintahkan umat manusia untuk menggunakan Islam secara sempurna dalam kehidupan ini maka tidak ada kata tapi, sikap seorang muslim adalah siap sedia melaksanakannya.

Itulah muslim yang cerdas. Bagaimana keadaan muslim sekarang? Apakah seperti dulu ketika Rasulullah SAW masih ada? Apakah ketika diseru melaksanakan Islam secara sempurna langsung ditunaikan? Pada kenyatannya banyak yang melalaikannya. Melaksanakan Islam secara sempurna ialah suatu keharusan. Hari ini muslim tidak lagi menggunakan agamanya sebagai aturan dalam hidupnya. Hari ini banyak umat muslim yang terlalaikan oleh kehidupan sesaat penuh sesak.

Hari ini banyak pula pemimpin neger-negeri muslim yang melenceng dari syariah, bukan turut membela agamanya, akan tetapi  ikut-ikutan termakan omongan barat yang menyudutkan Islam. Akhirnya banyak dari kalangan penguasa neger-negeri muslim yang terjangkit islamophobia, bahkan Indonesia menjadi salah satunya.

Mau ditutupi tapi sudah terlihat jelas keburukan rezim saat ini. Ketika ada kelompok yang memperjuangkan syariah, dibubarkan. Tokoh ulama yang lantang menyuarakan syariah, dibubarkan pengajiannya bahkan dikriminalisasi. Bahkan menurut Fadli Zon, rezim saat ini adalah rezim yang islamophobia. Rezim Islamophobia ini tak paham Islam dan umat Islam Indonesia.

Sering memojokkan dan membuat stigma 'radikal', 'teroris dan 'intoleran'. Padahal kalau elit Rezim Islamophobia mau belajar sejarah sedikit tentang perjuangan tokoh-tokoh Islam maka tak akan ada pandangan picik terhadap Islam," demikian katanya, di akun Twitter pribadinya. Memang seperti kenyataan pada hari ini di mana rezim Jokowi adalah rezim islamophobia. Sebentar-sebentar mengeluarkan perppu dadakan untuk menangkal ormas ‘radikal’ menurut pemerintah.

Padahal yang dimaksud ‘radikal’ oleh pemerintah adalah mereka yang senantiasa aktif berjuang untuk syariah Islam dan syariah Islam itu apabila benar-benar diterapkan, tidak ada yang tidak mendapat jaminan, baik muslim maupun non muslim hidup berdampingan dan damai. Tidak seperti sekarang di mana umat diadu domba, dicari kesalahan masing-masing sehingga bisa saling menjatuhkan.

Padahal, tujuan adanya perbedaan tidak seperti itu. Adanya perbedaan diharapkan dapat tercipta kerukunan antar umat beragama bukan malah saling menuduh. Kejadian seperti ini hanya terjadi pada Negara yang menggunakan sistem pemerintahan sekular. 

Perlu diketahui, sekular adalah memisahkan agama dengan kehidupan. Jadi wajar jika rezim saat ini adalah rezim Islamophobia sebab yang mereka anut itu sekular, dengan adanya sekularisme ini mereka yang duduk direzim saat ini dengan mudah untuk diperdaya dan dimanfaatkan oleh barat. Perlu diketahui pula bahwa barat benci terhadap Islam, bukan benci agamanya, tetapi benci ketika melihat umat Islam bersatu dan meneriakkan syariah.

Ketakutan barat semakin menjadi-jadi dengan adanya isu terorisme. Pengeboman gereja di Surabaya diantisipasi ada konspirasi di balik kejadian itu. Yang lebih mencengangkan adalah orang-orang yang pro rezim menyudutkan Islam, bahwa Islam ini pelaku terorisnya. Apa barang buktinya? Al Quran.

Rezim biadab yang menjadikan Al Quran sebagai barang bukti teroris. Ini bentuk Islamophobia di Indonesia. Islamophobia terjadi ketika ada pengaruh luar yang merasuki pemikiran, akhirnya timbul pemikiran jahat dan korban pemikiran jahat itu adalah Islam. 

Islamophobia tidak bisa dihilangkan dalam kondisi Negara yang menganut sistem sekular, tetapi Islamophobia ini dapat dihilangkan dengan sistem Islam. Tidak ada solusi lain selain Islam, karena Islamlah ideologi yang sempurna dengan segala aturannya perintah langsung dari Allah SWT.[MO/sr]

Posting Komentar