Oleh : Novita Sari Gunawan 

Mediaoposisi.com- Masih hangat di benak kita, berita mengenai pembubaran ormas Islam Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Penguasa menjegal aktifitas dakwah yang dilakukan oleh HTI dengan senjata pamungkasnya yaitu melalui PERPPU Ormas.

Tak tinggal diam HTI pun mengajukan gugatan. Kemudian, putusan Hakim PTUN Jakarta tanggal 7 Mei 2018 kemarin telah dibacakan. Namun seakan tebal telinga, akhirnya gugatan HTI pun ditolak. Artinya SK pencabutan BHP HTI oleh Pemerintah dianggap sah.

Pertanyaan bagi kita saat ini, apa saja 'aktifitas terlarang' yang telah dilakukan oleh HTI sehingga Penguasa dengan terburu-buru mencabut badan hukum Ormas tersebut di tanah air ini?

Fakta sepak terjang dakwah HTI ialah menyerukan agar mengembakikan kehidupan yang  diatur oleh syariat Islam dalam naungan Khilafah. Yang akan memberangus cengkeraman penjajahan neo-kapitalis dan neo-liberalis.

Berangkat dari pernyataan Wiranto, bahwa dakwah HTI tidak berkontribusi positif terhadap kemajuan bangsa. Pernyataan tersebut adalah salah besar. Faktanya, makna dari dakwah itu sendiri ialah merubah kondisi yang buruk menjadi baik.

Dakwah HTI terbukti mampu mengubah mindset pemikiran sekuler, yaitu memisahkan agama dari kehidupan. Padahal, agama nyatanya yang akan melahirkan moral yang baik guna menyumbangkan SDM terbaik bagi negeri.

Contoh saja pegawai suatu perusahaan yang mendapatkan pemahaman melalui dakwah HTI, mengintegrasikan agama dengan seluruh kehidupan tanpa terkecuali. Maka akan lahir generasi yang amanah, jujur serta anti korupsi. Karena tolak ukur kehidupannya bukanlah asas manfaat. Melainkan boleh atau tidaknya menurut aturan Illahi.

Lalu, dakwah HTI tentang kewajiban menutup aurat. Imbasnya ialah berkurangnya pelecehan seksual karena tak banyak lagi pemicu bangkitnya syahwat saat melihat banyak wanita dengan aurat yang menganga.

Ketakwaan individu akan berdampak pula pada perubahan dalam bidang sosial, ekonomi, politik dan lainnya hingga meningkatkan kualitas kontribusi mereka untuk kemajuan bangsa.

Lalu kita tanyakan kembali, apa kontribusi kebijakan pemerintah yg pro Asing dan Aseng bagi bangsa ini? Kita saksikan bahwa indeks korupsi terus meningkat. Rakyat miskin terus saja gigit jari menonton lakon para kapitalis rakus saling berebut tahta dan harta.

Angka kasus kriminal pun terus melonjak tajam. Terjunnya moral dan akhlak generasi seiring perkembangan zaman. Hukum yang dapat dibeli. Dan masih banyak lagi persoalan-persoalan yang mustahil diberantas tuntas dengan segala kebijakan penguasa yang ada saat ini.

HTI dituduh memecah belah NKRI. Padahal saat Timor timur lepas, HTI lah yang berada digarda terdepan  mengkritisi kebijakan tersebut. Ketika sumber daya alam dikeruk bebas dan hasilnya dinikmati oleh Asing, HTI pula yang memberikan solusi tuntas agar NKRI bisa lepas dari jeratan kapitalis penjajah.

Selanjutnya ialah tuduhan bahwa apa yang didakwahkan oleh HTI bertentangan dengan Pancasila. Kembali lagi kita telaah, adakah korelasi dari kelima sila tersebut yang saat ini sungguh tercermin dari kondisi Indonesia? Justru penerapan Islam kaffah yang diserukan oleh HTI lah yang akan merealisasikan tercapainya butir-butir dari Pancasila tersebut. Maka, siapa sesungguhnya yang jelas membahayakan NKRI?

Apa yang dilakukan oleh HTI khususnya dan HT di seluruh dunia ialah dakwah mengembalikan kepemimpinan Islam kaffah yang Rahmatan Lil 'alamin. Mencerabut pemahaman ideologi sekuler dari benak-benak kaum muslimin.

Mengembalikan kedaulatan Allah SWT sebagai pembuat hukum. Mengembalikan Al-Qur'an dan As-sunah sebagai sumber hukum secara totalitas. Tidak diambil sebagian-sebagian sesuai kepentingan dan kebutuhan.

Andaikan dakwah menegakkan syariat dalam naungan Khilafah yang mereka gaungkan hanyalah sebuah mimpi, maka tak perlu lah para penguasa sibuk mengupayakan untuk memberangus dakwah tersebut. Toh yang mereka serukan hanyalah sebuah mimpi?

Para penguasa sebenar-benarnya faham bahwa perjuangan syariah dan khilafah lah yang akan mengancam eksistensi penjajahan kapitalis. Memerdekakan negeri secara real dengan menumpas habis cengkeraman pengaruh orang-orang yang memiliki kepentingan dan berlindung dibawah payung ideologi kapitalisme ini.

Diluar dugaan penguasa, alih-alih memboikot HTI dan menjatuhkannya di mata masyarakat. Namun yang terjadi justru dukungan dari berbagai elemen masyarakat mengalir deras membanjiri perjuangan HTI. Semaraknya media massa dalam penyebaran opini pembelaan terhadap HTI yang masif hingga menjadi trending topik di jagat dunia maya.

Gagasan ide khilafah pun naik daun menjadi topik hangat perbincangan. Semakin ramai pula yang mengamini bahwa pemikiran-pemikiran yang ditawarkan solutif untuk menyelesaikan problematika yang saat ini merasuk hingga ke seluruh tatanan kehidupan.

Bahkan semakin gentar pula semangat para pejuangnya. Dan satu yang menjadi keyakinan mereka ialah bisyarah Rasulullah SAW dan janji Allah SWT yang akan memenangkan Islam diatas agama dan ideologi apapun di dunia ini. 

Allah SWT telah berfirman,

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِى ٱلۡأَرۡضِ ڪَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمۡ دِينَہُمُ ٱلَّذِى ٱرۡتَضَىٰ لَهُمۡ وَلَيُبَدِّلَنَّہُم مِّنۢ بَعۡدِ خَوۡفِهِمۡ أَمۡنً۬ا‌ۚ يَعۡبُدُونَنِى لَا يُشۡرِكُونَ بِى شَيۡـًٔ۬ا‌ۚ وَمَن ڪَفَرَ بَعۡدَ ذَٲلِكَ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡفَـٰسِقُونَ

Artinya, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang salih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nuur [24] ayat 55).

Maka kita dapat melihat dalam hal ini bahwa semakin terang benderang upaya penguasa dalam memonsterisasi ajaran Islam yang kaffah. Lalu kembali lagi pertanyaannya ialah, siapa sesungguhnya yang jelas membahayakan NKRI?[MO/sr]



Posting Komentar