Oleh : Ainul Mizan

Mediaoposisi.com-  Ruang baca kita beberapa hari ini dipenuhi dengan berita aksi teror bom bunuh diri. Ahad, 13 Mei 2018, terjadi pengeboman di 3 Gereja di Surabaya. Disusul kemudian dengan aksi teror bom pada Ahad malam dan Senin, 14 Mei 2018, yang terjadi di Sidoarjo dan termasuk di sebuah kantor polisi di Surabaya.

Dalam keterangan persnya, Kapolri, Bapak Tito Karnavian, mensinyalir bahwa 3 keluarga yang terlibat sebagai pelaku bom bunuh diri tersebut, merupakan sel –sel JAD (Jama’ah Anshorud Daulah) di Jawa Timur khususnya Surabaya.

Sedangkan keluarga Dita itu yang menguasai sel JAD di Surabaya. Mereka mendapatkan intruksi dari ISIS pusat untuk melakukan serangan. Serangan itu dilakukan sebagai balas dendam atas ditangkapnya Ketua JAD Jawa Timur, Aman Abdurrohman (News.Detik.com, 14/5/2018).

Pernyataan Bapak Kapolri tersebut terlihat ada upaya untuk mengkaitkan antara aksi bom bunuh diri tersebut dengan Islam, walaupun tidak secara langsung.

Tentunya bisa dimaklumi bahwa ISIS telah dipahami sebagai salah satu faksi atau kelompok yang mengklaim telah mendeklarasikan berdirinya Daulah Islam, yakni Khilafah. Dalam gerakan selanjutnya, Khilafah ISIS ini akan terus melancarkan apa yang disebutnya Jihad kepada wilayah, kelompok dari umat ini yang tidak mau berbaiat kepada Kholifahnya ISIS.

Bahkan analisa demikian, yakni pengkaitan antara aksi teror bom dengan Islam, dikuatkan juga dengan adanya sebuah akun facebook yang diduga milik Polri melakukan framing negatif kepada Islam. Akun tersebut atas nama https://www.facebook.com/PolisiRepublik.ID / telah menyebarkan status pada intinya sebagai berikut:

“Bagi saudara/i yang menemukan akun pendukung Khilafah, terorisme, radikalisme, dipersilahkan untuk melaporkannya ke beberapa akun yang sudah ditentukan. Walhasil aksi teror bom bunuh diri tersebut dijadikan legitimasi untuk memfitnah ajaran Islam, khususnya Khilafah dan Jihad.

Seolah – olah dinyatakan bahwa atas nama Khilafah dan Jihad, melakukan upaya pembunuhan termasuk bunuh diri dan pengrusakan adalah legal.

Membunuh dalam Pandangan Islam

Membunuh adalah perbuatan dosa besar di dalam Islam. Kehidupan itu adalah anugerah Alloh SWT dan haram bagi siapapun untuk menghilangkannya dari orang lain bahkan dari dirinya sendiri. Mari kita simak firman Alloh SWT yang artinya:

Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan – akan dia telah membunuh manusia seluruhnya" (TQS al Maidah ayat 32).

Jadi ayat ini mengandung kecaman yang besar atas perbuatan pembunuhan yang semena-mena.

Hukuman yang diberikan kepada orang yang melakukan pembunuhan dengan semena –mena yakni membunuh orang yang tidak berdosa dengan sengaja, adalah dengan hukuman Qishosh (balas bunuh), dan bila wali dari korban memaafkan, pelaku akan dikenakan diyat sebesar 100 ekor unta, yang 40 ekornya dalam keadaan bunting. Jika tidak, maka pelaku membayar diyat sebesar 1000 dinar.

1 dinar setara dengan 4,25 gram emas. Total yang dibayarkan adalah uang senilai 4250 gram emas untuk satu nyawa yang melayang dengan cara yang dholim.

Islam sangat melindungi nyawa manusia. Bahkan perlindungan nyawa orang non muslim sangatlah mendapat perhatian besar. Rasul SAW menyatakan bahwa barangsiapa yang menyakiti orang kafir dzimmi, maka sungguh orang tersebut telah menyakiti Baginda Rasul SAW.

Orang kafir dzimmi adalah orang kafir yang hidup berdampingan damai bersama kaum muslimin. Mereka terjaga harta, darah dan kehormatannya. Jadi melakukan aksi pengeboman kepada gereja sehingga menewaskan orang – orang di dalamnya yang tidak bersalah adalah tindakan khianat dan menistakan kepada Rasululloh SAW dan ajaran beliau SAW.

Adapun yang termasuk dalam cakupan istilah membunuh selain kepada orang lain, adalah melakukan aksi bunuh diri. Bunuh diri juga termasuk dosa besar. Alloh SWT berfirman di dalam al Qur’an:

ولا تقتلوا انفسكم ان الله كان بكم رحيما

artinya: Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri. Sesungguhnya Alloh itu sangat sayang kepada kalian (Surat an Nisa ayat 29).

Penegasan keharaman bunuh diri, diperkuat oleh hadits Rasul SAW yang menyatakan bahwa orang yang melakukan bunuh diri, maka di Neraka nanti, ia akan disiksa sesuai dengan cara ia melakukan bunuh diri. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al - Bukhori dengan nomer hadits 5778, dan Imam Muslim pada hadits nomer 109.

Dengan demikian, tuduhan terhadap Islam yang membolehkan aksi bunuh diri jelas tuduhan yang tidak berdasar dan salah alamat, kecuali hanya framing jahat terhadap Islam.

Jihad dalam Islam

Yang perlu disadari bersama bahwa dengan ajaran jihad inilah, bangsa Indonesia bisa terbebas dari penjajahan. Kumandang takbir yang selalu menghiasi jihad telah membuat gentar penjajah.

Di sisi lain, memompa semangat juang bangsa Indonesia. Pertanyaannya, kalau bukan dengan takbir, lafadz apakah yang akan digunakan oleh Bung Tomo untuk mengobarkan perlawanan arek –arek Suroboyo dalam perang mempertahankan kemerdekaan?!

Kalau bukan dengan Resolusi Jihad yang dikumandangkan oleh Hadrotusy Syaikh Hasyim Asy’ari rahimahulloh, lalu apakah dengan Resolusinya PBB guna membebaskan negeri ini dari penjajahan?!

Oleh karena itu sangat relevan jika pada pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia ini adalah rohmat dari Alloh Yang Maha Kuasa. Lantas, apakah disebut sebagai rasa syukur itu dengan cara mengkaitkan aksi bom bunuh diri dengan jihad?!

Disebut sebagai jihad itu adalah mengerahkan segenap daya upaya di dalam perang untuk meninggikan kalimat Alloh SWT. Jadi jihad itu dalam kondisi perang dengan bangsa kafir. Jihad itu adalah sebagai jalan terakhir setelah dilakukan seruan dakwah kepada bangsa dan negara kafir.

Ketika semua seruan dakwah dengan berbagai cara yang bisa memberikan kesadaran mereka untuk memeluk Islam dan menjadikan aturan Islam sebagai aturan bangsanya, selanjutnya mereka menolak dengan melakukan upaya rintangan fisik berupa pasukan bersenjata, tentunya di sinilah peperangan itu terjadi.

Jihad atau perang ini dilakukan dalam rangka membuka wilayah tersebut agar rahmat Islam sampai kepada mereka. Jihad di dalam Islam bukan untuk menjajah. Ini berbeda dengan apa yang dilakukan negara penjajah seperti Amerika Serikat dan sekutunya.

Bahkan dalam konteks negeri – negeri Islam diserang oleh bangsa kafir, maka di sinilah jihad untuk mempertahankan diri. Wajar bila umat Islam di Palestina melawan penjajahan Israel. Begitu pula umat Islam di Rohingya, yang kemudian bangkit untuk melawan penindasan dan pembantaian.

Termasuk adalah wajar bila bangsa Indonesia melakukan perlawanan atas pendudukan Belanda selama 350 tahun.

Walhasil adalah sebuah kesalahan besar dan fitnah yang sangat keji kepada Islam, bila menamakan aksi teror bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo sebagai aksi jihad. Pasalnya, di Indonesia secara umum bukanlah dalam kondisi perang.

Khilafah itu Ajaran Islam, Bukan Ajaran ISIS

Khilafah di dalam ajaran Islam menduduki posisi sebagai Tajjul Furudh yakni mahkotanya dari berbagai kewajiban di dalam Islam. Keberadaan Khilafah itu sebagai pelaksana hukum – hukum Islam. Sedangkan kita sudah paham bahwa ajaran Islam itu mencakup aturan ibadah mahdhoh yang langsung berhubungan dengan Alloh SWT.

Dan ada aturan – aturan Islam dalam kehidupan manusia sebagai individu dan aturan dalam kehidupan sosial, masyarakat, berbangsa dan bernegara.

Tanpa adanya Khilafah, tentunya aturan Islam mengenai pengelolaan Sumber Daya Alam, perekonomian, penyelenggaraan politik dan pemerintahan, pertahanan keamanan, kebijakan pendidikan, dan peradilan, tidak akan bisa dilaksanakan dengan baik.

Bahkan ketiadaan Khilafah itu akan menyebabkan ketidakamanan dan kedholiman. Adalah Ibnul Mubarok rahimahulloh menyatakan:

لولا الخلافة لم تؤمن لنا سبل وكان اضعفنا نهبا لاقوانا

Artinya : Sekiranya kalau bukan karena Khilafah, niscaya tidak akan lagi aman jalan – jalan kita. Adalah orang – orang yang lemah dari kalangan kita akan mendapat tekanan dari kalangan yang kuat.

Sekarang kita bisa merasakan bahwa jalanan tidak lagi aman. Karena penerapan sistem ekonomi Kapitalis Liberal, hanya melahirkan angka kemiskinan membengkak. Sebagaimana pernyataan Imam Ali ra bahwa kemiskinan itu akan mendekatkan orang kepada kekufuran.

Berbagai macam kejahatan, dari perampokan, penjambretan dan pencopetan kerap terjadi. Alasannya cuman satu adalah urusan perut. Bahkan para politisi menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, bahkan dengan menyuap dan saling jegal, demi sebuah kedudukan politik, yang dengannya kekayaan dunia akan menghampirinya. 

Khilafah itu ajaran yang Islam yang mulia, bukanlah ajaran ISIS. ISIS dengan sepak terjangnya hanya menciderai kemuliaan Khilafah itu sendiri. Khilafah ISIS yang hanya menjadi tunggangan politik untuk mengkriminalkan ajaran Islam.

Khilafah ISIS yang tanpa bentuk tersebut diolah sedemikian rupa agar menjadi hantu yang menakutkan sehingga umat menjauh dari perjuangan untuk mengembalikan Khilafah yang syar’i. Padahal Khilafah itulah sesungguhnya yang akan mewujudkan kemuliaan dan kesejahteraan bagi rakyatnya baik yang muslim maupun yang non muslim.

Bahkan Ulama Nusantara yakni Haji Sulaiman Rasyid dalam bukunya yang berjudul Fiqih Islam,cetakan ke 77, dalam halaman 495 menyatakan: “Kaum muslimin (ijma muktabar) telah bersepakat bahwa hukum mendirikan Khilafah adalah Fardhu Kifayah”.

Khilafah itu yang akan menebarkan kasih sayang ke seluruh alam. Tentunya dalam upaya mendakwahkannya pula dilakukan dengan metode dan cara – cara yang penuh dengan kasih sayang. Dakwah yang menyentuh, bukan menyinggung.

Dakwah yang penuh dengan kedamaian, bukan dengan kekerasan apalagi dengan menebar teror. Alasannya cuman satu hal karena Khilafah yang didakwahkan itu adalah ajaran Islam yang mengayomi manusia dengan kerahmatan.

Selanjutnya, masihkah Islam itu menjadi sasaran framing jahat atas aksi – aksi teror yang notabenenya bukanlah ajaran Islam?!![MO/sr]



















Posting Komentar