Oleh: Rina Yulistina, S.E

Mediaoposisi.com- Indonesia kisruh, kasus pengeboman kembali terangkat. Kondisi yang tak aman menyebabkan ekonomi terguncang, apalagi dalam ekonomi kapitalis yang roda perekonomiannya digerakan sektor non riil yaitu bursa efek. Akan sangat aberpengaruh.

Bahkan beberapa hari yang lalu banyak meme yang berseliweran menyinggung  kurs rupiah yang melemah disandingkan dengan nomer delivery order KFC 14022, MCD 14045, Soloria 14099. Ironis.

Jika mengamati pergerakan kurs rupiah terhadap dolar dua bulan belakangan ini memang kondisinya semakin melemah, pada tanggal 27 April kurs melemah 13,927 untuk hari hari selanjutnya kurs rupiah melemah hingga tembus diatas 14.000, pada tanggal 8 Mei rupiah melemah pada 14,074 (krusdollar.net). Sekali lagi, ironis.

Dengan melemahnya rupiah terhadap dolar pasti berdampak bagi negara maupun pelaku bisnis. Negara akan semakin berat dalam pembayaran hutang luar negri karena terjadi pembengkakan hingga 5,5 triliun.

Hal ini bisa mengakibatkan ruang fiskal semakin menyempit. Bisa dibayangkan bagaimana menderitanya rakyat dibebani hutang segitu banyak dan peluang krisis moneter akan sangat besar.

Tingkat inflasi akan naik, sedangkan rakyat akan di peras habis habisan dalam masalah pajak untuk membayar bunga hutang. Jadi sangat menggelikan jika ada politikus yang menyatakan bahwa kondisi rupiah masih dalam batas wajar, bahkan dikatakan rupiah lebih baik dibandingkan bath (Thailand) atau peso (Filipina).

Pemilik usahapun juga dirugikan dalam melemahnya rupiah, terutama pelaku bisnis yang memakai bahan baku impor. Bisa dibayangkan ketika bahan baku naik, maka perusahaan akan mengikat pinggangnya untuk menekan cost, bahkan tidak jarang berujung pada PHK.

Disamping itu, ketika kurs rupiah melemah dan dolar menguat, sebetulnya peluang untuk mendapatkan keuntungan bisa melalui ekspor. Namun sangat disayangkan, ekspor Indonesia semakin rendah, tergantikan oleh impor yang makin menggila. Melemahnya rupiah terhadap dolar bukan terjadi sekali dua kali namun terus berulang dari tahun ke tahun.

Bahkan semakin parah. Pergerakan nilai mata uang dari jam ke jam mulai dari pembukaan hingga penutupan sangat fluktuatif. Hal ini menjadi sebuah pertanyaan, mengapa hal itu bisa terjadi?

Penyebab melemahnya kurs rupiah akhir akhir ini diakibatkan defisit transaksi berjalan dibawah batas aman 3% terhadap PDB. Selain itu cadangan devisa hingga akhir Maret 2018 sebesar 126 miliar dolar AS.

Namun jika kita telisik lebih dalam lagi permasalahan ini bukan sekedar defisit dan cadangan devisa semata namun lebih dari itu. Yaitu penggunaan uang kertas yang memang sifat dari nenek moyangnya adalah fluktuatif, karena tanpa di back up kekayaan riil berupa emas.

Penggunaan uang kertas telah dipaksakan diseluruh negara di dunia sejak berakhirnya perang Dunia pertama meninggalkan uang emas dan perak. Dengan dolar dijadikan standart mata uang di dunia, disaat itulah uang dolar di cetak meluas, semua transaksi mengacu kepada dolar. Setelah perang dunia kedua berdirilah IMF dan World Bank.

Semakin lemah kurs rupiah berarti semakin tak berharganya rupiah di mata dolar. Untuk mendapatkan satu dolar maka harus mengumpulkan banyak rupiah. Maka, jangan heran jika hutang indonesia di IMF makin membengkak dan tak kunjung lunas. Bisa dibayangkan berapa besar keuntungan yang diraup oleh AS? Dan keuntungan apa yang didapat oleh rupiah? Ironis.

Ada apa dengan uang kertas (fiat money)? Didalam fiat money terdapat selisih yang besar antara nilai instrisik (biaya pembuatan uang) dan nilai nominal (angka yang tertera di selembar uang). Biaya pembuatan uang kertas dari uang 1.000 hingga 100.000 adalah sama. Yang membedakan hanya bertambahnya nol dibelakang angka saja. Seberapapun banyaknya uang yang dicetak biaya produksinya tetap sama. Selisih antara instrisik dan nominal itu disebut seignorage.

Seignorage ini yang dijadikan lahan bisnis yang sangat menggiurkan. Bank Indonesia yang mencetak rupiah pun juga mendapatkan keuntungan namun hanya dalam skala kecil, yakni Indonesia.

Meskipun dalam mencetak uang mendapatkan seignorage, bukan berarti bisa mencetak uang seenaknya. Ini karena fiat money tak bisa lepas dari inflasi. Semakin banyak jumlah rupiah yang beredar, maka nilai mata uang pun semakin rendah, harga-harga barang menjadi naik. Otomatis kehidupan rakyat semakin susah. Seperti yang kita rasakan sekarang ini.

Jika negara mengalami inflasi, ini tak bisa dialihkan ke negara lain. Lain cerita ketika inflasi ini dialami oleh AS, dengan liciknya AS bisa mengalihkan inflasi negaranya ke negara lain dengan cara, memaksakan seluruh negara lain menggunakan dolar disetiap transaksi serta penyimpinan devisa negara lain wajib menggunakan dolar pula. Jadi, jangan heran jika devisa negara Indonesia bukan menggunakan rupiah namun yang digunakan adalah dolar.  Maka disini, siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan?

Fiat money menjadi komoditi yang sangat berharga untuk diperjual belikan. Jual beli bukan hanya pada barang dan jasa, namun uang pun dijadikan jual beli, yang disebut valas.

Didalam jual beli valas ini lah menumbuh suburkan para spekulan. Pergerakan valas dari jam per jam selalu berubah. Dari pembukaan hingga penutupan. Sehingga jangan heran jika permenit saja rupiah bisa menguat ataupun melemah. Sekali lagi siapa yang di untungkan? Apakah rakyat Indonesia? Yang untuk makan saja masih bingung?

Fiat money hanya tumbuh subur di sistem ekonomi kapitalis. Negara besar semakin besar, sedangkan negara kecil makin tercekik dan siap siap untuk porak poranda. Sifat fiat money yang fluktuatif ini lah yang membuatnya tak bisa dibuat acuan dalam transaksi.

Untuk itu, harus ada transaksi yang tidak fluktuatif. Dimana nilai instrisik dan nilai nominalnya sama-sama bernilai dan berharga sehingga tidak terjadi inflasi dan pasar valas. Kita membutuhkan suatu transaksi yang tidak bisa di monopoli oleh salah satu negara dan merugikan negara lain, lewat mata uang. Transaksi itu hanya bisa diwujudkan dengan mata uang emas dan perak yaitu dinar dan dirham.

Inilah mata uang yang dahulu pernah digunakan negara Khilafah. Mata uang yang tahan krisis dan minim inflasi. Dengan dinar emas dan dirham perak, keuangan negara akan menjadi stabil. Karena kekayaan negara yang tercermin dari jumlah uang beredar, betul - betul riil dimiliki.

Dengan mata uang berbasis emas perak, dan ditopang sistem ekonomi yang hanya mengakui sektor riil tanpa riba inilah, akan muncul ekonomi negara yang tahan krisis. Tidak akan ada pendiktean dari luar, karena emas perak tidak tergantung pada mata uang asing. Sehingga akan membuat negeri ini mandiri dan merdeka dari penjajahan. Semoga kita dapat mengambil pelajaran darinya.[MO]

Posting Komentar