Oleh : Chusnatul Jannah 
(Lingkar Studi Perempuan Peradaban)

Mediaoposisi.com- Heboh lagi soal toleransi. Nampaknya anak pelopor kemerdekaan negeri ini harus banyak belajar toleransi. Berawal dari puisi ‘Ibu Indonesia’ yang dibacakan oleh Sukmawati. Membandingkan konde dengan cadar sungguh tak tepat. Menyebut kidung Ibu Indonesia lebih merdu dari alunan adzan salah tempat. Beragam komentar dan balasan datang.

Puisi Sukmawati telah menyinggung islam dan syariatNya. Sukmawati diancam dipolisikan bila tak meminta maaf kepada umat islam. Setelah heboh pelarangan cadar rupanya belum puas nian mendeskreditkan Islam dengan puisi rasis dan SARA.

Menurut Sukmawati, ia memainkan puisi sebagai seorang budayawati. "Topik Indonesia Fashion Week itu adalah cultural identity. Jadi identitas kebudayaan itu kan jelas, di puisi saya seirama. Bahwa ada identitas yang saya kisahkan dalam kata-kata berpuisi itu.

 Jadi dalam pengamatan saya di dunia fashion, cadar itu bukan budaya Indonesia. Itu adalah budaya Timur Tengah," ujar Sukmawati, seperti dikutip detik.com.

Toleransi Rasa Abal-abal
Sudah beberapa peristiwa terjadi terkait toleransi. Rupanya makna toleransi tak dijalankan benar oleh penguasa dan pendukungnya sekarang. Terlebih itu dilakukan oleh seseorang dibawah nama besar bapaknya, Sukarno.

Sebelumnya beberapa waktu silam, putri Bung Karno yang lain, Megawati Sukarnoputri pernah menyampaikan ‘kalau jadi Islam, jangan jadi Arab’. Sensi benar dengan Arab.  Menganggap cadar, jilbab, dan kerudung panjang sebagai budaya arab.

Tapi tak pernah terlontar tank-top dan hot-pants itu budaya barat. Beginikah wujud toleransi di negeri muslim terbesar ini? Tatkala kami meyakini Islam sebagai jalan keyakinan, mereka gugat jika tak enak didengar dan tak sesuai pesanan. Namun, jika mereka yang bertindak intoleran terhadap islam, tak ada yang menyalahkan bahkan pendukung dan pemuja keberagaman diam dan bungkam. Apakah tuduhan intoleran hanya berlaku bagi umat islam?

Jika mencintai keberagaman, tak usah sesumbar membuat puisi yang bikin kegaduhan. Jika cintai Indonesia, hargai dan hormatilah mayoritas muslim di nusantara. Bila tak tahu syariat, tak usah mendebat cadar dan adzan kita. Membenturkan Islam dengan Indonesia sangat tidak bijak. Terlebih menyinggung umat Islam dengan umpatan yang menistakan.

Wajar, bila banyak reaksi keras dari umat islam. Rekasi ada karena ada aksi. Tak ada asap tanpa api. Artinya, puisi berbau SARA yang dikumandangkan Ibu Sukmawati memang layak dipersoalkan. Di tengah umat islam diminta bersikap toleran, malah mereka yang berbuat intoleran.

Alami pula bila masyarakat menganggap partai penguasa begitu anti dengan syariat islam. Perlakuan hukum yang tidak mencerminkan keadilan banyak menimpa umat islam. Bila pelakunya dari pihak pro penguasa melanggar aturan, hukum menjadi tumpul. Bila umat islam yang melanggar, tajam tanpa pandang bulu.

Sekali lagi, jangan salahkan keislaman dan syariat kami. Bila tidak berkenan, menghormati sudah cukup bagi kami. Diam lebih bermartabat, daripada berpendapat tapi tak tahu adab. Belajarlah bertoleransi secara orisinil, bukan toleransi abal-abal lalu menabrak hukum dan aturan.[MO]


Posting Komentar