Oleh. Tety Kurniawati 
(Pemerhati Generasi) 


Mediaoposisi.com- Pernyataan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang mengutip prediksi para ahli di luar negeri yang menyatakan Indonesia tidak akan ada lagi pada tahun 2030 ramai diperbincangkan. Adapun pernyataan Prabowo itu mengutip buku Ghost Fleet karya Peter W Singer.

Terkait hal itu, Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Gerindra, Habiburokhman menjelaskan bahwa Prabowo Subianto geram dengan penulis buku novel Ghost Fleet Peter W Singer. Sehingga, isi buku Ghost Fleet itu disinggung oleh Prabowo dalam pidatonya beberapa waktu lalu. ( sindonews.com 24/03/2018)

Terlepas dari kontroversi yang menyertai pidato Prabowo tentang Indonesia bubar 2030. Semua pihak wajib waspada terhadap setiap kemungkinan yang bisa terjadi. Jangan sampai kita abai dan menyesal di kemudian hari. Fenomena -  fenomena harus kita cermati sebagai wujud intropeksi atas kebijakan pengelolaan negeri. Sudahkah layak optimisme dimiliki atau justru Indonesia bubar telah nyata menghampiri?

Di sisi geografis, Indonesia memiliki bentang alam yang luas dan terdiri atas ribuan pulau. Bahkan Mendagri Tjahjo Kumolo pernah menyatakan bahwa baru 40 % saja dari keseluruhan pulau di Indonesia yang sudah diberi nama. Luas wilayah yang tersekat-sekat perairan mempersulit terpenuhinya pemerataan pembangunan akibatnya jurang kesenjangan sosial semakin dalam.

 Senada dengan hal itu, Konsorsium Pembaruan Agraria pada september 2017 lalu mencatat ketimpangan struktur penguasaan dan konflik agraria dari seluruh wilayah daratan Indonesia, 71% diantaranya dikuasai korporasi kehutanan,  16% dikuasai korporasi perkebunan skala besar,  7% dikuasai para konglomerat, sementara rakyat kecil hanya menguasai sisanya. Dampaknya 1% orang terkaya di Indonesia menguasai 50,3 % kekayaan nasional.

Di sisi demografis, tingginya jumlah penduduk belum di barengi kualitas moral dan pendidikan yang mumpuni. Mahalnya pendidikan membuat tak semua warga negara berkesempatan mengenyam pendidikan. Sementara pendidikan karakter yang di klaim mampu mencetak generasi tangguh, pada prakteknya gagal mencegah maraknya kenakalan remaja, pergaulan bebas dan pemakaian narkoba.

 Disamping itu, besarnya  jumlah angkatan kerja tidak sebanding dengan jumlah tenaga yang terserap ke dunia kerja. Karena tenaga kerja asing berbondong -  bondong masuk ke Indonesia seiring kebijakan pemerintah mempermudah ijin kerja bagi WNA.

Di sisi ekonomi, sumber daya alam Indonesia belum dikelola sebagaimana mestinya dan dipergunakan sepenuhnya untuk kemakmuran rakyat.  Justru diserahkan kepada korporasi swasta dan asing lewat privatisasi, investasi sampai monopoli berkedok kerjasama ekonomi. Dilain sisi, utang negara yang kian tinggi pelan namun pasti menghancurkan sendi -  sendi ekonomi.

Sayangnya neraca negatif bisa kita temui di semua sisi negeri ini. Memperkuat kesimpulan bahwa Indonesia bubar nyata menghampiri jika tak segera diambil langkah antisipasi. Meratanya masalah di tiap sisi pengelolaan negeri,  menandakan bahwa akar masalah negeri ini bukan bersifat kasuastis tapi sistemik. 

Maka tiada solusi yang hakiki selain mengganti sistem  demokrasi-kapitalis dengan sistem yang bersumber dari Illahi.  Yang mengetahui secara pasti apa yang terbaik bagi ciptaannya yaitu manusia.

Jika syariah Islam di terapkan secara kaffah dalam kehidupan bernegara maka semua masalah sosial-ekonomi yang kompleks akan tertuntaskan. Sumber daya alam akan dikelola sebaik-baiknya untuk kesejahteraan rakyat. Tak akan ada lagi transaksi ribawi yang merusak sendi-sendi ekonomi. Kemiskinan hanya tinggal sejarah yang tak kan pernah kembali.

Generasi gemilang yang menggabungkan kecerdasan dan kesholihan akan sangat mudah ditemui, karena pendidikan adalah hak yang mesti terpenuhi secara cuma-cuma untuk seluruh penduduk negeri.

Dan akhirnya, janji Allah untuk meneguhkan kedudukan kaum muslim dan melepaskannya dari semua keburukan akan terwujud, sebagaimana firmanNya :

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik " ( QS. An Nur : 55) 

Demikianlah agar Indonesia tidak bubar di 2030 seyogyanyalah umat dengan penuh kesadaran mengganti sistem demokrasi-kapitalis yang kufur dengan sistem Islam. Yang akan menjamin kesejahteraan, melepaskannya dari segala bentuk ketergantungan dan mengokohkan kedudukan Indonesia diantara bangsa-bangsa di dunia.[MO]











Posting Komentar