Tety Kurniawati ( Ibu dan Pemerhati Generasi) 

Mediaoposisi.com-Korban minuman keras (miras) oplosan terus bertambah. Jumlah korban yang datang ke RSUD  mencapai 45 orang terhitung sejak Jumat 6 April hingga Senin 9 April 2018.

"Sampai hari ini, yang meninggal itu total 20 orang. Satu di antaranya sudah meninggal ketika datang ke sini," kata Dirut RSUD Cicalengka Yani Sumpena, Senin 9 April 2018. ( MetroTVNews.com 09/04/2018) 

Korban demi korban miras berjatuhan. Namun seolah tak cukup  menjadi pelajaran, karena sebentar kemudian korban baru  menyusul para pendahulu. Meski telah banyak berujung naas, nafsu menikmati miras justru semakin beringas. Tak mampu menjadi rem yang menghentikan laju edar miras.

Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan. Mengingat miras adalah pangkal berbagai macam kerusakan. Dari terganggunya kesehatan, menghilangkan akal yang memicu tindak kriminal hingga merenggut korban jiwa. Dampaknya, masa depan generasi jadi taruhannya.

Bahkan Gerakan Nasional Anti Miras (GeNAM) melaporkan setiap tahun setidaknya terdapat 18 ribu nyawa melayang baik efek langsung dan tidak langsung dari minuman keras (miras).

Ketiadaan regulasi yang memadai membuat efek cegah dan efek jera hampir tak mungkin di temui.  Akibatnya kasus miras jadi berita harian yang tak kunjung henti.

Pasalnya untuk kasus miras setingkat nasional hanya ditindak menggunakan Peraturan Menteri ( Permen)  yang sanksi hukumnya ringan dibanding keuntungan bisnis miras yang menggiurkan.

Tak sebanding dengan dampaknya yang mengerikan, miras berstatus komoditas legal yang sebatas dikendalikan dan diawasi  pengadaan, peredaran dan penjualannya saja.

Alhasil aktivitas mengkonsumsi miras tidak pernah dianggap sebagai sesuatu yang salah, bermaksiat apalagi dianggap sebagai tindak kriminal.

Jika lebih kita cermati, akar masalah maraknya miras berasal dari penerapan faham sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan.

Kebebasan yang senantiasa digaungkan telah sedemikian mengakar. Hingga perintah Ilahi rela di abaikan demi terpenuhinya syahwat duniawi.

Tak ada bedanya dalam kehidupan pribadi maupun pemerintahan. Kemanfaatan senantiasa jadi tujuan. Jika di ranah individu menenggak miras dilakoni atas nama kesenangan.

Di pemerintahan keuntungan atas miras menjadikannya komoditas ekonomi yang menjanjikan. Alih-alih diberantas sampai tuntas,  miras justru dipastikan memiliki segmen pasar yang pas.

Miras resmi untuk konsumen  menengah keatas dan miras oplosan untuk konsumen menengah ke bawah. 

Solusi pemberantasan miras yang paripurna hanya bisa kita temui dalam dalam sistem Islam buatan sang pencipta.

Yang paling sempurna pengetahuannya akan apa yang paling baik diterapkan untuk makhluk ciptaanNya.

Maka sudah selayaknya kita beralih dari aturan buatan manusia ke aturan buatan Allah SWT.

Islam mengharamkan miras baik dari sisi kepemilikan, pembuatan ( produsen), pengedaran ( distribusi),  penjualan hingga ke konsumennya. Sesuai firman Allah SWT 

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan"  (QS. Al Maidah : 90).

Bahkan pelanggaran terhadapnya dianggap sebuah kemaksiatan dan tindak kriminal yang patut beroleh sanksi sebagai hukuman.

Sanksi hukuman atas miras adalah ta’zir, yaitu hukuman yang belum ditetapkan syariat batasannya dan diserahkan pada khalifah dan qadhi dengan mengacu kepada maslahat.

Ta’zir ini bisa berupa penjara, cambuk, sampai hukuman mati, tergantung kepada kasus yang menimpanya dan dampak kerusakan yang ditimbulkannya.

Contoh penerapannya bisa kita temui pada masa pemerintahan Umar Bin Khatab dimana peminum khamr ( miras)  dihukum jilid ( cambuk) sebanyak 80 kali.

Pelaksanaan hukumannya disaksikan banyak orang sehingga memberi efek jera bagi pelaku sekaligus efek cegah bagi siapa saja yang menonton pelaksanaan hukuman agar tak meniru perilaku yang sama di kemudian hari. 

Demikianlah jika negara kita ingin benar-benar terbebas dari miras maka penerapan sistem Islamlah solusinya.[MO]



Posting Komentar