Oleh Puji Ariyanti

Mediaoposisi.com-Peristiwa kebakaran di perairan Teluk Balikpapan, diduga terjadi karena tumpahan minyak yang terbakar.( Kompas.Com)

Menurut Herry Soenariyo, Koordinator  Program Perkumpulan Stabil Balikpapan hal  ini bukan kejadian yang  pertama kali.

Pada tahun 2017,  juga pernah terjadi, pada saat itu ada tumpahan minyak yang sebarannya sampai pada pantai Manggar.  Humas PT Pertamina RU V mengatakan, 

bahwa tumpahan tersebut bukan dari PT Pertamina. Setelah DLH melakukan Investigasi ternyata tumpahan minyak tersebut dari Pertamina Balikpapan.  (tribunkaltim.co.id )

Setelah melakukan serangkaian pengkajian dan penelitian yang mendalam, dalam hal ini yang  bertanggungjawab adalah pihak Pertamina.

Seperti yang dilansir Kepolisian Daerah Kalimantan Timur menyatakan: PT Pertamina Refinery Unit 5 Balikpapan merupakan penanggung jawab tumpahan minyak di Teluk Balikpapan yang muncul sejak 31 Maret lalu.

"Pertamina menyatakan pipa mereka patah dan kini tengah diperbaiki. Ada tekanan yang ekstrem sehingga menyebabkan pipa putus," kata Ade kepada wartawan BBC Indonesia, Abraham Utama, via telepon, Rabu (04/04).

Arif, yang merupakan tim Sar gabungan menyebutkan kasus tumpahan minyak di Indonesia tak cukup terekam dengan baik.

Banyak kasus di daerah yang terindikasi kebocoran seringkali terjadi namun tidak tertangani dengan baik serta proses berlarut-larut.

Menurutnya tindakan pemerintah lebih pada reaktif daripada preventif. Tidak ada upaya pencegahan dan tak pernah belajar dari kejadian sebelumnya. 

Banyak yang dirugikan  dalam kejadian ini. Kerugian atas aset,  kesehatan,  kerugian ekosistem, serta kerugian harta masyarakat,  nelayan tidak bisa mencari ikan, karena air laut menjadi hitam.  Bahkan kerugian jiwa. 

Seharusnya Pemerintah dalam hal ini Pertamina melakukan pencegahan dengan melakukan pengecekan pipa-pipa dasar laut secara berkala,  sehingga kejadian yang mengakibatkan kerugian semua pihak tidak perlu terjadi bahkan sampai terulang kejadiannya.

Firman Allah SWT dalam surah Ar-Ruum ayat 41 :

”Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar).” ( Ar-Ruum : 41)

Benar,  bencana adalah sesuatu yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Namun, bencana  tumpahan minyak yang berulang kejadiannya, adalah bentuk kelalaian penguasa yang mengabaikan aturan Allah SWT. 

Artinya,  ketika manusia tidak di atur dalam sebuah sistem yang sempurna (Islam) bukan tidak mungkin kejadian  ini akan berulang.  

Pemimpin dalam sistem Islam akan melahirkan ketaatan kepada Rabbnya, sehingga amanah yang diembannya adalah amanah yang benar-benar dalam kepengurusan mengurusi rakyatnya.

Pada masa kepemimpinan Kholifah Umar Bin Khattab telah terjadi bencana gempa, Dia berkata kepada penduduk Madina, 

 "Wahai Manusia, apa ini? Alangkah cepatnya apa yang kalian kerjakan (dari maksiat kepada Allah)? Andai  gempa ini kembali terjadi, aku tak akan bersama kalian lagi

Itulah yang seharusnya dilakukan seorang pemimpin, senantiasa mengajak rakyatnya kepada ketaatan   kepada  Allah, bukan kepada selainNya.[MO] 

Posting Komentar