Peta Indonesia


Oleh: Muhammad Adyan

Mediaoposisi.com-Ramai-ramai polemik menyita perhatian masyarakat negeri ini beberapa hari belakangan. Ke-asbun-an Ibu Sukmawati dalam puisinya jelas memperlihatkan betapa kosongnya makna dari apa yang dia ucap.

Namun jika melihat sejarah, apakah benar justru Syariat Islam yang memecah negeri ini? Sehingga tidak perlu diterapkannya karena bertentangan dengan kesepakatan pendiri bangsa. Jika memang demikian, apakah peraturan hidup dari Tuhan Semesta Alam lebih buruk dari apa yang dibuat manusia?

Sejarah Penjajahan Dunia

Banyak yang tidak tahu mendetail, siapa sebenarnya penjajah negeri ini di masa lampau. Tahunya hanya sekedar dengan nama Belanda, Inggris, Portugis, atau Spanyol. Padahal lebih dari itu, mereka adalah kerajaan-kerajaan Kristen yang menjajah atas nama agama.

Tak heran jika mereka melakukan hal tersebut, karena mereka berprinsip jika bangsa di luar Negara Gereja Vatikan merupakan bangsa biadab dan wilayahnya dianggap terra nullius (wilayah kosong tanpa pemilik).

Untuk mewujudkan prinsipnya, dibuat lah perjanjian Tordesilas pada tanggal 7 Juni 1494 yang dideklarasikan oleh Paus Alexander VI. Perjanjian itu menjadi Surat Perintah resmi bagi Kerajaan Katolik Spanyol dan Kerajaan Katolik Portugis untuk melancarkan imperialismenya pada negeri-negeri di dunia.

Dunia bagian barat diberikan untuk Kerajaan Katolik Spanyol, sedangkan bagian timur diberikan untuk Kerajaan Katolik Portugis.



Kerajaan Katolik Portugis yang tiba pada tahun 1511 dibawah pimpinan Albuquerque berhasil merebut Malaka dari tangan kekuasaan Sultan Mahmud. Saat itu Malaka merupakan pusat niaga Islam di Nusantara.

Maka dari itu, selain untuk menjarah rempah-rempah, mereka juga mengharapkan keruntuhan Kekhalifahan Turki Utsmani karena terputusnya hubungan niaga dengan Nusantara.

Karena tidak mendapat hasil di Dunia bagian barat, Kerajaan Katolik Spanyol pun beralih untuk juga bisa sampai ke Nusantara.

Mereka tiba di Filipina Selatan atau Kesultanan Sulu dibawah pimpinan Magelhaens pada tahun 1521. Peristiwa-peristiwa tersebut sekaligus menjadi awal dimulainya penjajahan di Nusantara.

Datangnya dua kerajaan katolik ini yang membawa misi 3G (Gold, Gospel, Glory), mengharuskan para santri dan ulama kala itu berjihad di jalan Allah untuk mengusir para imperialis Barat tersebut dari tanah Nusantara.

Selain kedua Kerajaan Katolik tersebut, menyusul kemudian datangnya Kerajaan Anglikan Inggris dan Kerajaan Protestan Belanda pada abad ke 17. Dengan imperialisme gaya baru berideologikan Kapitalisme yang dicetuskan lewat Revolusi Protestan (lebih dikenal sebagai Revolusi Prancis), para Kerajaan Protestan tersebut menguras negeri Nusantara baik alamnya maupun tenaga manusianya.

Pun kemudian, para santri dan ulama seperti Pangeran Diponegoro, Fatahillah, Jenderal Soedirman, dan Bung Tomo juga yang membebaskan negeri ini dari penjajahan fisik. Lewat berbagai gerakan jihad yang merupakan Syariat Islam dan pekikan takbir yang lafaznya dilantunkan 6 kali dalam suara azan.

Namun, Sudah Kah Saat Ini Benar-Benar Merdeka?

Walau sudah berhasil dimerdekakan dari penjajahan fisik, namun sejatinya penjajahan secara budaya, sosial, politik, dan ekonomi negeri ini belum lah selesai.

Merdekanya negeri ini yang tidak disertai dengan diterapkannya Syariat Islam, sebabkan kedaulatannya masih berada digenggaman kepentingan negeri Barat penjajah.

Sebut saja Privatisasi perusahaan yang menjadi milik umum seperti Tambang dan Migas, kendali perundang-undangan lewat tekanan hutang luar negeri, dan berjalannya ekonomi negeri berdasarkan asas ribawi Perbankan dan Pasar Keuangan; jadikan kondisi masyarakat di negeri ini jauh dari kata makmur sejahtera.

Para pendiri bangsa memang berjasa dalam membebaskan negeri ini dari penjajahan fisik. Kita patut hargai dan terus mengenang jasa-jasanya. Namun, hal yang paling penting dalam menghargai pengorbanannya adalah dengan menjadikan negeri ini benar-benar bebas dari cengkraman asing.


Jika dahulu mereka belum mampu menentukan sistem terbaik yang bisa menjadikan negeri ini berdikari, maka tugas kita lah untuk melakukannya.

Jika dengan sistem yang berkedaulatan rakyat sudah terbukti gagal, lantas dengan cara apalagi jika bukan dengan menerapkan sistem yang berasal dari Sang Maha Mencipta.

Saat ini jihad perang tidak bisa dilakukan, karena tak ada serangan fisik dari luar dan tak ada negara Islam yang berdiri memerintah. Maka kita yang serius cintai negeri ini, sudah seharusnya inginkan Syariat Islam dapat tegak sepenuhnya.

Kita yang rindukan kemerdekaan sejati, seharusnya inginkan hanya sistem Islam yang boleh digunakan. Kita yang mau menjadi rahmat bagi seluruh alam, seharusnya inginkan untuk mengemban Islam sampai diterapkannya dengan damai dan sentosa, seperti apa yang Rasulullah lakukan dulu.[MO/br]

Posting Komentar