Oleh : Irianti Aminatun 
(Anggota Akademi menulis Kreatif)

Miras Biang Kejahatan

Mediaoposisi.com-
Sudah sering kita dengar betapa banyak nyawa melayang akibat menenggak minuman keras. Data paling baru menyebutkan pesta miras di Cicalengka menewaskan lebih dari 30 orang. (Liputan6.com) 

Maraknya peredaran miras berkorelasi positif terhadap meningkatnya jumlah kejahatan. Catatan Humas Pengadilan Negeri Ambon mengungkapkan  90 % pelaku tindakan asusila atau pelecehan seksual di dahului dengan menenggak miras.
Di Propinsi paling Timur Indonesia Papua, sering didapati manusia bergeletakan di pinggir jalan pada waktu pagi setelah semalaman mabuk. 

Tak  heran kalau Gubernur papua bersama seluruh unsur Forkompida se-Provinsi papua menandatangani Pakta Integritas pelarangan miras di Papua, tahun 2016. Tindakan itu diambil dengan tujuan untuk menyelamatkan  orang asli Papua dari kepunahan. 

Miras juga menjadi biang tindakan kriminal mulai dari pembunuhan, pemerkosaan, hingga pencurian. Bahkan di seluruh dunia data menunjukkan lebih dari setengah pelaku kejahatan selalu didahului dengan menenggak minuman keras. Dan setiap 10 detik, ada orang yang meninggal karena miras.

Kenapa Miras tetap Ada?

 Islam, sebagai agama yang dianut oleh mayoritas penduduk negeri ini jelas-jelas telah mengharamkan miras. Tapi kenapa peredaran miras masih saja berlangsung? Penyebabnya tidak lain adalah diadopsinya sistem ekonomi kapitalis.

Dalam pandang ekonomi kapitalis benda dinggap memiliki nilai apabila benda tersebut masih dibutuhkan oleh masyarakat, terlepas apakah benda tersebut akan  membahayakan masyarakat atau tidak.  Miras dianggap sebagai salah satu benda yang  bernilai, karena masih dibutuhkan masyarakat.

Sebagai contoh, negeri ini tidak menutup pabrik miras dan melarang peredarannya karena negara memandang ada nilai manfaat dari miras tersebut. Pajak yang masuk ke kas negara dari barang haram ini tidak kecil (sebesar 6,4 triliun).

Baca : Miras Oplosan Membawa Maut, Kemana Telunjuk Diarahkan?

Peredaran miras masih  dimungkinkan terjadi karena di tingkat daerah  perda yang ada hanya bersifat mengatur peredarannya, bukan melarang dalam hal-hal yang sudah jelas keharamannya. Di tingkat nasional, Ketua  Pansus RUU Minol Arwani Thomafi mengatakan RUU minol tidak akan menutup pabrik-pabrik yang memproduksi minuman keras. RUU ini hanya mengatur distribusi dan konsumsi minol. (Media Umat edisi 213).

 Pelarangan total miras tidak mungkin bisa dilakukan dengan dalih akan membuat kabur wisatawan dan tamu asing yang berarti menurunnya sumbangan buat Pendapatan Asli Daerah. 

Tapi  Apakah memang tujuan utama kedatangan wisatawan dan tamu asing itu untuk menikmati miras? 

Lebih menyedihkan lagi dan ironi jika biaya pembangunan diambil dari sumber yang tidak halal dengan adanya pemungutan retribusi dari minuman beralkohol. 

Apa jadinya jika pembangunan daerah maupun nasional bersumber dari yang haram?

Dari sini kita faham selama sistem ekonomi negeri ini masih mengadopsi sistem ekonomi kapitalis maka miras akan tetap beredar di tengah masyarakat. Sebab miras dianggap sebagai benda yang memiliki nilai sehingga akan terus diproduksi. Dan korban akan terus berjatuhan, mati sia-sia bahkan menanggung dosa besar.

Beginilah nasib masyarakat yang sistem dan pemimpinnya tidak bisa menjadi perisai bagi rakyatnya. Malah justru membiarkan banyak nyawa melayang karena dilegalkannya miras dengan berbagai alasan.

Tidak digunakannya standar yang dianut oleh umat Islam tentang keharaman minuman beralkohol, membuktikan bahwa ideologi sekuler masih dijadikan sebagai pijakan dalam merancang setiap kebijakan. 

Padahal, sekulerisme yang memisahkan agama dari ruang publik, amat bertentangan dengan pandangan hidup yang dianut oleh umat Islam, yang menjadikan ruang publik juga sebagai arena diterapkannya syariat islam.

Solusi Tuntas Menghentikan Miras

Berbeda dengan sistem kapitalis, Sistem Islam memandang benda yang berbahaya –seperti miras contohnya—sekalipun ada manfaatnya tapi tetap saja banyak madharatnya (lihat QS Al Baqarah ayat 219). Karena itu Islam mengharamkan benda tersebut. Khamr/miras itu najis, haram meminum dan memperjualbelikannya.

Abu Hurairah RA menceritakan bahwa ada seorang pria akan memberikan hadiah Rasulullah SAW sebuah minuman khamr, maka Rasulullah SAW berkata :

Sesungguhnya khamr itu telah diharamkan. Laki-laki itu bertanya, “Apakah aku harus menjualnya?”, Rasulullah SAW menjawab, “Sesungguhnya sesuatu yang diharamkan meminumnya, diharamkan pula menjualnya”. Laki-laki itu bertanya lagi, “Apakah aku harus memberikannya kepada orang Yahudi?” 

Rasulullah saw menjawab, “Sesungguhnya sesuatu yang diharamkan, diharamkan pula diberikan kepada orang Yahudi”. Laki-laki itu kembali bertanya, “Lalu apa yang harus saya lakukan dengannya?” Beliau menjawab, “Tumpahkanlah ke dalam selokan.” (HR al Khumaidi dalam Musnad-nya). (Ahmad Labib al-Mustanier, Hukum Seputar Khamr, www.islamuda.com)

Berdasarkan ayat dan hadits diatas maka haram meminum khamr/miras. Bahkan syariat islam tidak hanya melarang dalam mengkonsumsinya saja, juga yang berkaitan dengan pengadaan dan pihak yang mengadakannya. Dalam hadits Rasulullah SAW dijelaskan ada 10 golongan yang dilaknat terkait dengan khamr, yaitu orang yang (1) memeras/pembuat, (2) minta diperaskan, (3) meminum/mengkonsumsi, (4) membawakan, (5) minta dibawakan, (6) memberi minum dengannya, (7) menjual, (8) makan hasil penjualannya, (9) membeli, (10/ yang dibelikan. (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Benda yang diharamkan jelas dianggap benda yang tidak memiliki nilai, sehingga negara akan melarang memproduksinya, memanfaatkannya, mengedarkannya dan semua hal yang terkait dengan miras ini. Negara akan menutup rapat pintu kemaksiatan dan tidak membiarkan ruang sedikitpun kepada rakyat untuk melakukan dosa.

Negara Islam akan memberikan hukuman yang tegas terhadap seluruh orang yang terlibat dalam miras. Karena kejahatan miras merupakan dosa dan perbuatan kriminal yang termasuk jenis had bagi peminumnya dan  ta’zir bagi selain peminum ( pengedar, penjual, pembuat dll.)

Had untuk peminum khamr, sedikit atau banyak, jika terbukti di Pengadilan , sanksinya adalah hukum cambuk sebanyak 40 atau 80 kali. Anas ra menuturkan : “Nabi Muhammad SAW pernah mencambuk orang yang minum khamr dengan pelepah kurma dan terompah sebanyak 40 kali” (HR Al Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Abu Dawud).

Adapun untuk sanksi berupa ta’zir maka:  jenis, dan kadar sanksinya diserahkan kepada ijtihad khalifah atau Qadhi. Bisa berupa sanksi di ekspos, penjara, denda, jilid bahkan sampai hukuman mati dengan melihat tingkat kejahatan dan bahayanya bagi masyarakat. (Abdurrahman al-Maliki dalam Nizham al Uqubat.

Dengan pelarangan dan hukuman seperti ini masyarakat akan terjaga dari bahaya miras. Melayangnya nyawa, kriminalitas, kecelakaan lalu lintas, yang diakibatkan dari miras bisa dihindari.

Islam Menjaga Akal dan Kesehatan Masyarakat

Meminum khamr menyebabkan orang bisa mengalami kerusakan akal. Permasalahan perlindungan akal ini sangat menjadi perhatian Islam. Bahkan dalam sebuah hadits Rasulullah saw menyatakan, “Agama adalah akal, siapa yang tiada berakal (menggunakan akal), maka tiadalah agama baginya”.

Betapa sangat luar biasa fungsi akal bagi manusia, oleh karena itu kehadiran risalah Islam diantaranya untuk menjaga dan memelihara akal agar tetap berfungsi, sehingga manusia bisa menjalankan syariat Allah dengan baik dan benar dalam kehidupan. 

Demikian pula agar manusia dapat mempertahankan eksistensi kemanusiaannya, karena memang akallah yang membedakan manusia dengan makhluk  Allah lainnya.

Hanya syariah Islam yang bisa mencegah pelarangan miras secara total dan menjaga akal dengan baik. Karenanya penerapan syariah Islam adalah satu-satunya alternatif agar masyarakat terbebas dari miras.

Hanya saja pelarangan Miras secara total itu hanya bisa dilaksanakan jika Islam diterapkan secara kafah dalam bingkai Daulah Islam. Maka menjadi kewajiban bagi seluruh kaum Muslimin untuk memperjuangkan tegaknya kembali Daulah Islam agar Islam kafah bisa diterapkan.[MO/sr]






Posting Komentar