Revolusi| Mediaoposisi.com- Dewasa ini, ada yang menyamakan Jokowi dengan Khalifah Umar. Ia berdalih bahwa merakyatnya Jokowi mirip dengan Khalifah Umar. Benarkah demikian ?

 Umar bin Khatab berasal dari keluarga kelas menengah. Beliau adalah salah satu sahabat Rasulullah. Beliau adalah Khalifah  kedua setelah Abu Bakar Ash-Shidiq. Sebelum memeluk Islam, Umar adalah orang yang disegani dan dihormati. Beliau orang yang keras. Peminum berat dan pernah mengubur putrinya hidup-hidup.

Namun setelah memeluk Islam, sifatnya tetap sama. Keras dan tegas. Hanya saja lebih cenderung untuk kemanfaatan dan kemuliaan Islam. Diantara karakter beliau yang mengagumkan dan perlu dicontoh adalah:

Pemberani
Keberanian Umar digunakan untuk membela Islam. Bahkan beliau mendapat julukan ‘singa padang pasir’. Beliau dengan terang-terangan melakukan hijrah ke Madinah. Disaat kaum muslim hijrah dengan sembunyi-sembunyi, beliau justru menantang kaum Quraisy yang hendak menghalanginya.

Beliau mengatakan: “siapa yang ingin istrinya menjadi janda, anaknya menjadi yatim, maka halangilah saya untuk hijrah.”


Tegas
Ketegasan Umar terlihat saat membebastugaskan Khalid bin Walid dari panglima perang. Beliau takut rakyat terlalu mencintai dan mendewakan Khalid yang telah memenangkan banyak peperangan. Khalid mengetahui maksud baik Khalifah Umar dan menerima keputusanya dengan lapang dada.

Adil
Keadlian Umar ditunjukkan saat beliau menjadi Khalifah. Suatu ketika Gubernur Mesir ‘Amr bin ‘Ash akan melakukan pelebaran masjid. Di sebelah masjid itu terdapat rumah seorang Yahudi. ‘Amr hendak membongkar rumah orang yahudi tersebut dengan memberi ganti rugi.

Namun orang Yahudi  itu tidak mau pindah. Begitupun ‘Amr terus merayu agar orang itu pindah. Sampai akhirnya orang itu pergi menghadap Umar dan melaporkan kejadian itu.

Umar menanggapinya dengan mengambil sepotong tulang dan garis pada tulang itu dengan pedang. Lalu menyuruh orang Yahudi itu untuk menyerahkan tulang itu kepada ‘Amr.

Meskipun heran, orang Yahudi itu menerimanya dan menyerahkan tulang itu kepada ‘Amr. Setelah menerima tulang itu, Amr pucat dan memerintahkan pengawalnya untuk tidak membongkar rumah itu.

Dengan heran, orang Yahudi itu bertanya kepada ‘Amr tentang apa yang terjadi. ‘Amr menjawab bahwa Umar telah mengingatkan seorang pemimpin harus adil kepada rakyatnya. Akhirnya orang Yahudi itu merelakan rumahnya untuk dibongkar dan masuk Islam. Perlakuan Umar mampu membuat orang Yahudi kagum atas keadilan beliau.

Bertanggungjawab
Umar bin Khathab seorang pemimpin yang bertanggung jawab terhadap rakyatnya. Setiap malam beliau blusukan langsung untuk mengetahui kondisi rakyatnya. Suatu malam beliau mendapati seorang janda miskin yang sedang memasak.

Di dekatnya terdapat anak-anaknya yang menangis. Beliau bertanya kenapa anaknya menangis. Ternyata mereka menangis karena lapar. Dan ibunya memasak batu untuk menenangkan anaknya hingga kelehanan karena menangis dan tertidur. Mendengar penjelasn itu, Umar langsung pergi ke Baitul mal untuk mengambil gandum.

Umar memanggul sendiri gandum yang akan diberikan kepada janda itu. Beliau mengatakan kepada pengawalnya: “apakah kamu akan menjerumuskan aku ke neraka karena telah menelantarkan rakyatku dan membiarkannya kelaparan?”. Demikianlah sosok Umar yang bertanggungjawab.

Loyal Terhadap Islam
Kecintaan Umar terhadap Allah, Rasul dan Islam telah dibuktikan semenjak beliau masuk Islam. Beliau membela Islam dari serangan orang-orang kafir. Beliau juga menginfakkan separuh hartanya untuk perjuangan dakwah Islam. Seluruh hidupnya didedikasikan untuk perjuangan Islam.

Beliau tidak terima ketika mendengar Rasulullah wafat. Hingga beliau menghalangi penguburan Rasul. Beliau juga mengancam siapapun yang berkata bahwa Rasulullah telah wafat, makai a akan menemui ajalnya. Para sahabat kebingungan dengan perilaku Umar.

Hingga sampailah pada telinga Abu Bakar. Kemudian Abu Bakar berkata: “Barang siapa yang menyembah Muhammad, sungguh ia telah meninggal. Tapi barang siapa yang menyembah Allah SWT, ia akan hidup selamanya dan tidak akan pernah mati.

Lalu beliau membaca surat Ali-Imran ayat 144. Mendengar hal itu Umar menitikkan air mata.

Baca Juga : Alangkah Lucunya PDIP

Sederhana
Umar adalah sosok sederhana. Sejak masuk Islam, Umar tidak menampakkan kemewahan dalam hidupnya. Ketika menjabat sebagai Khalifahpun, Umar tidak tinggal di istana megah layaknya istana presiden saat ini. Beliau juga tidak mengenakan pakaian kebesaran layaknya para raja. Tidak juga membawa pengawal berjumlah puluhan ketika patroli.

Beliau tinggal dirumah sederhana di samping masjid, bahkan lebih sering berada di masjid. Tidak tidur di atas Kasur yang empuk, tidak menggunakan fasilitas negara untuk kehidupan pribadinya. Bahkan untuk setetes minyak sebagai penerang rumahnya saja tidak pernah menggunakan harta negara
.
Itulah sebabnya rakyat banyak yang tidak megenalinya sebagai Khalifah. Karena bayangan mereka bahwa seorang kepala negara pastilah hidup mewah dan serba ada. Faktanya beliau adalah kepala negara yang sangat sederhana.

Itulah karakter Umar bin Khathab yang perlu diteladani. Sosok pemimpin yang pemberani, tegas, adil, bertanggungjawab, loyal, dan sederhana. Karena kayakinannya bahwa menjadi pemimpin adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT kelak.

Bagiaman dengan Jokowi ?[MO/as]

Posting Komentar