Mediaoposisi.com- Kita memulai tulisan kali ini dengan sebuah tulisan latin yang berarti  “Jika kamu mendambakan perdamaian bersiaplah untuk perang”.

Si vis pacem, para bellum
(“Jika kau mendambakan perdamaian, bersiap-siaplah menghadapi perang“)

Tidak diketahui siapa yang menciptakan peribahasa ini, tetapi banyak yang meyakini bahwa peribahasa ini dikutip dari penulis militer Romawi Publius Flavius Vegetius Renatus: Igitur qui desiderat pacem, praeparet bellum.

Ide pokok perkataan ini sudah ditemukan pada Undang-undang VIII (Νόμοι 4) Plato 347 SM dan Epaminondas 5 Cornelius Nepos. Kemudian muncul dari perkataan Flavius Vegetius Renatus sekitar tahun 400 M di dalam kata pengantar De re militari:

“Qui desiderat pacem, bellum praeparat“
(“Siapa menginginkan perdamaian, bersiaplah untuk perang“).

Damai atau tentrem dalam bahasa jawanya memiliki arti sama. Untuk sejahtera atau kertoraharjo syarat utamanya adalah tentrem. Tanpa kedamaian, tanpa ketenangan maka kesejahteraan tidak mugkin di capai.

Kita tarik lagi sebuah kiasan, Indonesia akan mengalami GEMAH RIPAH LOH JINAWI IJO ROYO ROYO kemakmuran kesejahteraan yang berlimpah jika kita tentram.

Kita semua sepakat 70% kekisruhan di dalam negeri Indonesia adalah kontribusi asing dan aseng sejak dahulu kala apalagi sekarang. Masih belum bisa terima?

Ketidak tentraman yang menyebabkan ke tidak sejahteraan (kertoraharjo) ada campur tangan asing? Ngak percaya?

Untuk tentram kita harus menata, atau wejangan para leluhur mengingatkan, tata tentrem kertoraharjo. Untuk sejah tera kita harus tentrem, untuk tentrem kita harus MENATA.

Dan kembali kalimat latin di atas, KITA HARUS SIAP PERANG.

Kita lompat sebentar keluar negeri mengingatkan peta dunia sekarang. Amerika KALAH perang di suriah. Catat itu. Siapa yang mengalahkan amerika? Putin!

Erdogan sebagai kaki nya amerika hampir 20 tahun dan menikmati minyak ISIS sejak tahun 2009 mendadak balik badan belok ke putin. Erdogan coba di kudeta dan gagal, tapi inilah CIA. Amerika kemana kemudian?  sekarang amerika menggoyang turki dengan mendukung kurdi.

Ini pukulan kedua kalahnya amerika setelah suriah yang mendukung assad, kemudian lepasnya turki. Lalu rusia ke iran. Iran membuat pesta besar memperingati kemenangan atas ISIS. Dan kita tahu ISIS adalah “hornet nets” nya Israel dan amerika. Ini sindiran telak ketiga, amerika kalah.

Catalan ingin lepas dari spanyol, belakangnya Rusia. Rusia sekarang menjadi “state sponsor terrorism”. Yang paling sadis rusia lakukan adalah mengambil sebuah Negara berdaulat Cremia. Di caplok tanpa dunia bisa apa-apa, amerika tidak bisa buat apa-apa.

Strategi perang hybrid yang di pakai rusia membuat dunia melonggo. Strategi yang sama di lakukan china dengan hybrid war strategi perlahan mengerogoti Pakistan, srilangka, dan beberapa Negara afrika. OBOR adalah hybrid war strategi yang china lagi mainkan.

Amerika panic. Amerika menutup dengan tariff import dan mengutamakan amerika, amerika lagi tarik kedalam semua. America first, china dan rusia offensive.

Kebijakan amerika menggunakan Neocon strategi terbaca sekali, amerika membangun otot militer saat ini secara besar-besaran. Merotasi militer masuk ke dalam cabinet yaitu Pompeo dari orang nomer satu CIA ke state secretary menteri luar negeri. Mengontrol seluruh atase dunia dan ambassador dunia.

Ini untuk mengantisipasi rusia yang ingin menjadi pemain dunia.

Lalu Perang hybrid rusia dan china itu apa?  bagaimana mengatasipasinya? 2019 pilpres nanti bisa jorok banget nih sepertinya? China pastinya ingin mengamankan “ extend quasi teritori”nya dan  bisa ke ganggu kalau jokowi kalah. Apa strategi china untuk mempertahankan dominasi dan hagemoni?



Amerika berusaha mempertahankan sisi asset freeportnya “at any cost”. Dan rusia? Rusia dimana-mana main menekan amerika, dan rusia sudah di papua!!!

Pastinya rusia main menggunakan “psychological warfare” seperti yang dilakukan terhadap jutaan warga inggris di infiltrasi pikirannya agar BREXIT keluar dari uni eropa. Agar eropa pecah, dan berhasil. Rusia di belakang propaganda brexit.

Lalu,  solusinya buat Indonesia bagaimana? Kita mengutip strategi Josept Stiglitz sebagai counter strateginya. Mudah kok kalau pemerintahnya memahami geopolitik dan geoekonomi. Mudah kok kalau pemerintahnya memikirkan rakyatnya bukan ingin berkuasa kembali dengan keputusan politis populis. [MO/br]

Posting Komentar