Oleh : Novita Sari

Mediaoposisi.com- Kekayaan suatu bangsa sesungguhnya terletak pada intelektual propertinya. Yakni, sumber daya manusia yang mahir di bidang sains dan teknologi. Hal ini menjadi salah satu faktor utama kemajuan suatu bangsa.

Mereka adalah para ilmuwan yang memiliki kepakaran dalam teknologi industri berat. Sebut saja teknologi infrastruktur, pangan, otomotif, kesehatan, pendidikan, militer, pertanian, transportasi, IT dan sebagainya.

Tentunya kita sangat mengharapkan tanah air ini kaya akan ilmuwan yang dapat berkontribusi memajukan bangsa. Bukannya tak pernah ada, seringkali kenyataannya mereka ibarat tunas yang baru saja mencuat ke permukaan namun sudah buru-buru dicerabut paksa.

Seperti kasus yang baru saja terjadi, Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) dikabarkan menjatuhkan sanksi atas pelanggaran etik berat yang dilakukan oleh Kepala Rumah Sakit Umum Pusat Angkatan Darat (RSPAD), Mayjen TNI dr Terawan Agus Putranto.
(kompas.com)

Pasalnya, penemuan teknik pengobatan barunya yang di klaim belum diuji kebenarannya dan dugaan hal itu dapat menimbulkan keresahan masyarakat. Sedangkan di sisi lain, para pasiennya yang sebagian juga merupakan pejabat dan selebriti papan atas merasa puas dengan pengobatan yang dilakukannya.

Indonesia merupakan negara berkembang. Sepanjang status itu melekat padanya, maka selama itu pula ia berada dibawah dikte negeri adidaya yang saat ini berkuasa memimpin peradaban dunia.

Fakta kesekian kalinya nasib anak bangsa dengan inovasinya yang out of the box namun dihambat oleh negara, terus bergulir hingga kini. Kebijakan kapitalis demokrasi lebih mengutamakan kepentingan bisnis korporasi daripada kemajuan bangsa dan peningkatan kualitas hidup warganya.

Menolak lupa pada fakta sejarah saat Indonesia krisis keuangan. IMF menjadi biang kerok matinya industri penerbangan Indonesia. Di dalam nota butir-butir kesepakatan (letter of intent) yang ditandatangani oleh Presiden Soeharto pada 15 Januari 1998, pemerintah/APBN dilarang menggelontorkan dana untuk IPTN (sekarang PTDI).
(viva.co.id)

Tertulis bahwa Indonesia tak memiliki hak untuk memproduksi pesawat terbang secara mandiri. Hal ini bukan karena Indonesia tak memiliki pakar yang mumpuni. Hanya saja bibit-bibit unggul ini dibonsai keahliannya berkreasi dan berinovasi menelurkan produk teknologi.

Ketika penemuan para ilmuwan tersebut mengganggu bisnis kapitalis besar. Juga selama ada ancaman yang bisa menggoyahkan eksistensi kekuasaan suatu perusahaan, maka akan secepatnya diberangus.

Sebelum kasus Dokter Terawan ini, pernah terjadi fakta yang serupa seperti inovasi mobil listrik hasil karya Ricky Elson dan juga penemuan rompi anti kanker oleh Doktor Warsito. Penolakan ini membuat Warsito memutuskan hengkang dari Indonesia menuju Warsawa, Polandia.

Jika kita menyimak bangsa yang maju seperti negeri-negeri di Eropa dan Jepang contohnya. Hal apa yang mendorong kemajuan mereka? Yakni adanya integrasi antara skill dan knowledge. Sejalannya kecakapan knowledge dengan kemahiran skill akan melahirkan sumber daya manusia yang handal.

Wajar saja ketika melihat kekayaan Indonesia yang melimpah ruah namun tak mampu dikelola secara mandiri tanpa bergantung pada Asing dan Aseng. Disebabkan tak terfasilitasi kualitas anak bangsa yang mumpuni dalam suatu bidang teknologi. Sistem pendidikan turut pula berkorelasi tak sejalan menerbitkan generasi yang unggul.

Fakta yang ada, tak berkesinambungan antara skill dan knowledge itu membuat hasil produk pendidikannya tak maksimal. Anak didik lulusan sebuah jurusan tertentu misalnya, tak menjamin ia pun ahli dalam bidang tersebut.

Berbeda halnya dengan pola pendidikan dalam Islam. Adanya kohesi antara fikrah (konsep) dan thariqah (metode). Keserasian antara skill, knowledge, bahkan attitude, yaitu syakhsiyah (kepribadian) Islam berhasil mencetak generasi luhur. Mereka ahli dalam sains dan teknologi sekaligus menjadi insan yang bertakwa.

Membuka tabir fakta sejarah yang tak banyak diketahui masyarakat kini. Sebuah peradaban yang dipimpin oleh Islam menghasilkan kemajuan sains dan teknologi yang sangat pesat. Banyak penemuan iptek saat ini yang tak lain adalah pengembangan dari para Ilmuwan di masa itu.

Kejayaan Islam banyak melahirkan tokoh-tokoh yang menciptakan terobosan dalam sains dan teknologi. Kaya akan kecerdasan konsep dan karya ilmiah. Sebut saja Ibnu Sina, Beliau belajar bahasa Arab, geometri, fisika, logika, ilmu hukum Islam, teologi Islam, dan ilmu kedokteran.

 Ia pun menulis lebih dari 200 buku dan di antara karyanya yang terkenal berjudul Al-Qanun Fi at-Tibb, yaitu ensiklopedia tentang ilmu kedokteran dan Al-Syifa, ensiklopedia tentang filsafat dan ilmu pengetahuan.

Contoh Ilmuwan lainnya adalah Al Farabi. Ia menekuni berbagai bidang ilmu pengetahuan antara lain logika, musik, kemiliteran, metafisika, ilmu alam, teologi, dan astronomi. Kemudian ada Ibnu Haitham yang ahli dalam bidang sains, falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat.

Ia melakukan banyak penelitian, salah satunya adalah tentang cahaya yang kemudian menjadi cikal bakal diciptakannya mikroskop dan teleskop. Dan masih banyak ilmuwan-ilmuwan lainnya yang menghasilkan mahakarya serupa.

Inilah keberhasilan ri'ayah atau peran negara memberikan iklim yang kondusif serta fasilitas terbaik dengan sarana dan prasarananya agar sains dan teknologi berkembang pesat.

Pengembangan, penjagaan dan pengaplikasian intelektual properti dimasa Islam tak hanya ditujukan sebatas untuk dinikmati oleh kaum Muslim saja. Tetapi juga menghantarkan kepada misi Islam yang sesungguhnya yaitu membawa rahmat ke seluruh alam.[MO]

Posting Komentar